Hello Sexy Readers,
Vote dan komen yang banyak.
Love,
Bella - WidiSyah
♥♥♥
Pukul enam pagi sehabis shalat, Widi bersiap-siap pulang ke Jakarta. Waktu tempuh sepuluh jam mengharuskannya berangkat lebih pagi agar tiba di Jakarta maksimal sebelum Maghrib. Terlebih ada beberapa titik dengan trek naik turun sehingga Widi harus ekstra hati-hati
Rima yang sedang memasak menoleh saat puteranya sedang mengambil beberapa botol air mineral dari dalam kulkas. Lauk daging cacah, empal goreng, telur sambal dan sayuran tersaji pada tupperware di atas meja. Nasi hangat yang Rima taruh ke piring mengepulkan asap.
"Makan dulu, Wid," ucap Rima dengan tatapan bersalah. Seharusnya semalam dia tak perlu mendebat sekeras itu. Apalagi keesokan harinya Widi akan segera pulang. Suasana pagi rumah mereka menjadi lebih canggung.
"Iya, Bun. Tapi sedikit saja, ya. Saya harus buru-buru biar nggak kena macet nanti di jalan."
Rima tersenyum, dia mengulurkan piring pada Widi. Aroma pandan menguar memenuhi indra penciuman Widi. Nasi empal buatan Rima memang selalu jawara untuk Widi, menggugah selera makan. Niatnya hanya makan sedikit, jadinya malah berlipat-lipat. Widi berharap, dia tidak mengantuk sepanjang perjalanan nanti.
"Oh ya, Wid. Maafkan sikap Bunda semalam, ya. Semua yang Bunda lakukan ini untuk kebaikan kamu."
"Saya tahu, Bun," jawab Widi sambil mengunyah makanan. "Tapi yang akan menjalaninya kan saya, Bu."
"Tapi, Wid." Rima masih tidak bisa menerima, Widi tetap keras kepala. Padahal dia pikir, setelah meminta maaf, Widi akan luluh dan mempertimbangkan keinginannya menikahi Cassandra.
Widi menyelesaikan sarapan, mendekati wastafel lalu mencuci piring bekasnya lantas menaruhnya pada rak piring. Pria itu menarik kursi kemudian duduk di samping ibunya.
"Saya janji akan membuat Cassandra mengubah penampilan lebih islami seperti keinginan Bunda." Widi menggenggam Jemari Rima. "Ibu akan merestui kami kan kalau dia bersedia berubah?" Yang Widi pikirkan bagaimana Rima menyetujui rencananya. Terdengar kelewat percaya diri sekali, sedangkan kata 'iya' saja belum dia dapatkan dari Cassandra.
"Tapi apa nanti kata orang-orang, Wid?" Rima mengembuskan napas frustrasi.
"Bukan orang lain yang harus kita pikirkan pendapatnya, kenapa Bunda jadi seperti ini sih?" Widi mengangkat tangan, penanda waktu di pergelangan tangannya menunjukkan pukul tujuh tepat, dia sudah telat tiga puluh menit dari rencana awal. Perdebatan ini takkan menghasilkan mufakat jika Rima masih memegang prinsipnya. Pandangan masyarakat dianggapnya sebagai ketukan palu dalam memutuskan sesuatu.
"Baiklah, Bunda akan memikirkannya. Bunda ndak meminta Cassandra berubah drastis, Wid. Setidaknya dia mulai berpakaian dengan lebih sopan." Rima menepuk bahu Widi. "Kalau dia tetap bawel, jangan harap Bunda akan merestui kalian."
Senyum lebar terbit di bibir Widi, pria itu lantas memeluk hangat Rima sembari berbisik. "Terima kasih, Bun."
"Jangan berterima kasih dulu, Bunda belum memberikan restu loh." Rima mencebik, wanita itu berdiri menuju kulkas. Empat susun kotak makan persegi dia letakkan di depan Widi. "Kamu tinggal panasin di microwave kalau sudah sampai Jakarta. Jangan terlalu capek, Bunda jauh lebih mengharapkan kamu selalu sehat dibandingkan menuntut punya cucu dari kamu."
Ah, Widi terharu, dia kembali memeluk Rima lalu mencium punggung tangan ibunya. Menyetir dari Surabaya ke Jakarta sudah menjadi kebiasaan Widi sejak memutuskan menetap di Jakarta. Dia bebas menentukan akan beristirahat di mana tanpa takut ketinggalan bus atau terburu-buru.
♥♥♥
Jadi gimana selanjutnya, apakah Widi dan Cassandra menikah? Tunggu besok. Tapi kalau nggak sabar mau baca kelanjutannya, silakan ke KARYAKARSA akun BELLADONNATOSSICI ya. Sudah tamat di sana.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEXY MISTRESS
Roman d'amourCassandra van den Heuvel merebut Hamizan Parama dari Mutiara, sahabatnya sendiri. Mereka menikah dan terlihat bahagia dengan kelahiran Lithania sementara Mutiara wafat meninggalkan Widi, suami barunya. Widi yang masih belum bisa melupakan Mutiara me...
