Bab 8

3.4K 202 13
                                        

Hello Sexy Readers,

Yuk vote dan komen biar kami semangat update.

Love,
Bella - WidiSyah 

💋 💋 💋 

Ada alasan mengapa Cassandra memilih kamar menghadap ufuk timur sebagaimana apartemennya dulu. Dia menyukai fajar perlahan meninggi. Cahaya oranye merekah sedikit demi sedikit menembus tirai putih hingga semakin benderang.

Bagian reffrein lagu Starlight milik Muse mengalun menyuntikkan semangat, mengajak Cassandra memulai pagi. Tangan Cassandra menggapai ponsel kemudian mematikan alarm. Dia menggeliat melemaskan otot. Bodysuit lingerie sutra emas favorit Hamizan memetakan lekuk tubuh molek wanita itu.

Pukul enam pagi dan Hamizan masih mendengkur halus. Cassandra menyentuh pipi sang suami, mendaratkan kecupan mesra. Hamizan menggemaskan ketika cemburu. Menyulut keinginan Cassandra untuk menghabisinya di ranjang. Namun, kehadiran anak terkadang mengganggu. Percintaan dengan Hamizan kemarin dibatalkan tangisan Lithania. Suhu tubuhnya menghangat. Mungkin karena berenang di air dingin, Cassandra menduga-duga. Hamizan jatuh tertidur lantaran kelelahan. Jadilah Cassandra berjaga mengompres kening Lithania sampai panasnya turun. 

Sebuah ide seksi tebersit. Bagaimana jika pagi dimulai dengan aktivitas yang menyenangkan, semacam amunisi sebelum bertempur dalam perang? Diam-diam Cassandra menghubungi pihak hotel, meminta lilin aroma terapi, sabun busa wangi, serta kelopak mawar segar.

Cassandra memutar keran air dingin diikuti air panas hingga mengisi setengah bathtub. Tidak sampai setengah jam, ketukan halus terdengar. Karyawan room service muncul di depan pintu.

Hopeless romantic. Begitulah Cassandra menggambarkan dirinya. Dia rela ditampar, dijambak, bahkan terkadang Hamizan mencekiknya. Tak mengapa demi mewujudkan fantasi laki-laki itu. Jika orang-orang lebih menyukai istilah iblis penggoda, Cassandra lebih senang jika disebut malaikat penggoda. Bukankah Victoria's Secret menggunakan istilah 'angel' untuk menyebut modelnya?

Sabun wangi dituang ke bathtub, tercampur dengan air. Busanya melimpah ruah hingga wangi mawar seakan mengubah kamar mandi menjadi kebun bunga. Kelopak mawar segar dalam plastik dia tata mengambang di atas busa. Pemborosan, mungkin Hamizan akan memprotes tindakan menghamburkan uang. Tak masalah, toh Cassandra memakai uangnya sendiri.

Wanita itu mengambil jarak satu langkah untuk mengagumi hasil karyanya. Terkadang menonton film erotis ada manfaatnya, terutama menyegarkan pernikahan yang mulai membosankan. Sedikit sentuhan akan menyempurnakan segalanya. Maka Cassandra mengeluarkan lilin aroma terapi dari bungkus. Tepat ketika api mulai membakar sumbu dan menguapkan minyak mawar yang terkandung, wangi dalam kamar mandi menjadi-jadi.

Dengan langkah seringan bulu, Cassandra mendekati Hamizan. Membelai indra pendengarannya melalui bisikan. "Selamat pagi, Sayang. Apa kamu nggak mau bangun?"

Mata Hamizan belum sepenuhnya terbuka saat bertanya balik, "Jam berapa sekarang?"

"Jam tujuh."

"Apa?" Hamizan berseru sembari terduduk lantaran kaget. "Kenapa kamu nggak membangunkanku? Aku ada janji..."

Namun, mulut yang mengomel itu dibekap bibir Cassandra. Wanita itu merenggut rambut Hamizan yang masih berantakan. Sebelum tidur, Hamizan selalu menyikat gigi dan berkumur dengan mouth wash. Cassandra senang sebab tak menemukan aroma tak sedap yang mengganggu.

"Kamu berutang padaku, saatnya melunasi."

Tidak ada waktu untuk berpikir. Cassandra mengajak Hamizan ke kamar mandi. Begitu pintu dibuka, Hamizan mencium udara teramat harum. Dia terlalu terpana hingga tidak sadar ketika Cassandra membuka kancing piama lalu membuangnya sembarangan.

SEXY MISTRESSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang