Hello Sexy Readers,
Vote dan komen yang banyak.
So, enjoy.
♥♥♥
Lagi-lagi Lithania masuk ke ruang UGD. Selang disambungkan ke hidungnya untuk membantu pernapasan. Dada Lithania berdegup cepat, kesulitan menghirup oksigen. Lembam biru tercetak di sekujur tubuhnya seperti habis dipukuli benda tumpul. Hamizan menyesal tak memperhatikan gejala kecil. Tahu-tahu saja kondisi anaknya sudah parah.
"Pak Hamizan," Seorang dokter umum menghampiri Hamzian, "Lithania perlu dirawat secara intensif di rumah sakit. Sel darah merahnya menurun. HB hanya delapan. Dia memerlukan ditransfusi."
Hamizan hanya dapat mengangguk. Lidahnya begitu kelu, tak mampu menjawab apa pun. Dunia seakan gelap dan lantai tempatnya berpijak tak kokoh. Betapa enak menjaadi wanita yang bebas mengumbar air mata. Hamizan tercabik di dalam, tetapi terlalu gengsi untuk menangis.
"Apa Lithania rutin kontrol?" tanya dokter umum itu lagi.
"Seharusnya hari ini jadwalnya kontrol ke Dokter Munawar."
"Dokter Munawar praktik pagi sampai siang. Sekarang sudah sore, sepertinya beliau sudah pulang."
Hamizan tidak kaget. Kecerobohannyalah yang menyebabkan semua ini terjadi. Kalau Cassandra tidak mengingatkannya, Hamizan masih ada di restoran dan lupa menjemput Lithania dari day care.
"Kami cek darah Bapak dulu untuk keperluan transfusi. Nanti ada formulir yang harus Bapak isi. Jika ada riwayat penyakit, lingkari saja," sambung dokter umum itu lagi.
Brankar Lithania didorong keluar dari UGD menuju ruang perawatan, melewati Hamizan dan dokter umum yang membawanya ke ruangan pengambilan darah. Hamizan hanya dapat menerawang, memandangi plafon ruangan. Dari mulai lengannya dibersihkan menggunakan alkohol sampai jarum besar menusuk hingga menembus pembuluh darahnya, Hamizan mengatupkan mulut.
Selanjutnya darah Hamizan diolah terlebih dahulu, dari 100 cc menjadi 50 cc. Dari balik kaca ruang perawatan, Hamizan mengamati kesibukan para petugas medis menusukkan jarum yang terhubung dengan kantung darah ke kulit lembut Lithania. Dia mengernyit sembari mengusap lengan. Rasa sakit putrinya adalah rasa sakitnya.
Terkadang Hamizan tak percaya dengan semua cobaan yang dialaminya. Beberapa bulan lalu kehidupannya seakan sempurna. Didampingi istri cantik, seksi, dan sukses. Bisnisnya berkembang pesat dengan pembukaan cabang di Uluwatu, Bali, yang merupakan destinasi impian jutaan turis asing dari seluruh dunia. Serta putri cantik yang lahir ke dunia setelah sekian lama menikah tanpa anak. Dalam waktu sekejap, semua anugerah itu hilang tak berbekas. Anaknya sakit parah dan istrinya menggugat cerai.
Hamizan tidak dapat pulang. Dia duduk di bangku di depan ruang perawatan. Lithania tidak sendirian. Bayi-bayi kurang beruntung dengan gangguan kesehatan berada di sana. Sedikit banyak fakta itu mengurangi kesedihannya. Kini Hamizan merenung, apa yang harus dilakukannya?
Hamizan merogoh ponsel dari saku kemeja. Haruskah mengabari Cassandra? Dia ibunya, dia berhak tahu. Hamizan menggulir layar ponsel, mencari nomer wanita yang sempat membangkitkan gairah dan rasa tergila-gila. Hamizan masih mencintai Cassandra. Setiap membaca namanya, hatianya berteriak memanggil. Tidak, Hamizan tidak mau semakin dalam melukai hatinya. Namun, dia perlu bicara dengan seseorang.
Dengan sendirinya, jemari Hamizan mencari nomer Fatma. Pada panggilan keenam, barulah Fatma menjawab.
[Asalamualaikum, Zan.]
"Walaikumsalam, Ma."
[Ada apa?]
"Litha sakit, Ma. Sekarang dirawat di rumah sakit." Hamizan bersandar ke dinding. Teramat berat menarik napas. "Mungkin saya salah mengambilnya dari Cassandra."
[Nggak, Zan. Langkahmu sudah benar. Cassandra itu perempuan nggak bener. Bajunya seksi, kalian juga berzina gara-gara dia kan. Sudah begitu, Cassandra lebih mementingkan pekerjaan. Sebai-baik wanita adalah wanita yang berada di rumah. Itu sunnah, Zan.]
"Ma, tolong. Jangan mulai."
[Lalu, ada apa kamu telepon Mama?]
"Saya bingung membagi waktu antara pekerjaan dengan mengawasi Litha."
[Oh, gampang. Pakai pengasuh saja, nanti Mama tanyakan teman-teman Mama yang kenal pengasuh bagus. Kamu tenang saja, Zan. Asal Lithania jangan dikembalikan kepada Cassandra. Bisa binal seperti ibunya.]
Pengasuh. Hamizan tidak punya ide selain mengiakan usul Fatma. "Oke, Ma. Saya tunggu kabar dari Mama."
♥♥♥
KAMU SEDANG MEMBACA
SEXY MISTRESS
Roman d'amourCassandra van den Heuvel merebut Hamizan Parama dari Mutiara, sahabatnya sendiri. Mereka menikah dan terlihat bahagia dengan kelahiran Lithania sementara Mutiara wafat meninggalkan Widi, suami barunya. Widi yang masih belum bisa melupakan Mutiara me...
