Bab 89

528 59 5
                                        

Hello Sexy Readers,

Vote dan komen yang banyak.

So, enjoy.

♥♥♥

"Anak Papa sudah bangun." Hamizan ke kamar Lithania untuk mengecek keadaan.

Juwariyah memandikan Lithania pagi-pagi sekali. Gemercik air menyegarkan. Efek transfusi darah memang luar biasa. Bibir Lithania kembali memerah, kulitnya pun bercahaya.

Usai menghanduki majikan kecilnya, Juwariyah memabluskan minyak telon dan bedak dengan telaten. Dia telah menyiapkan pakaian di meja dekat baskom mandi. Rok terusan kuning berhiaskan bordiran gajah, celana dan kaus hijau berpola bunga-bunga, serta rok terusan biru muda bergambar awan putih dengan burung-burung terbang di punggung.

"Ini." Gigi Lithania yang mulai tumbuh tampak saat dia tersenyum sembari menunjuk rok terusan biru muda.

"Pintar." Hamizan mengecup puncak kepala Lithania.

"Papa," tangan mungil Lithania menggapai, meminta digendong.

Hamizan mengangkat putrinya, melambungkan ke udara sampai Lithania terkekeh senang. Betapa banyak momen yang dia sia-siakan lantaran terlalu sibuk bekerja. Bukankah dulu Hamizan mengharapkan kehadiran anak? Lalu setelah hadis, kenapa dia seakan menyia-nyiakannya?

"Saya permisi menyiapkan sarapan Litha dulu, Pak." Juwariyah membungkuk sebelum pergi ke dapur.

Hamizan duduk bersila di permadani bercorak Bella dari Beauty and The Beast, memangku Lithania. Rasanya dia akan semakin jatuh cinta pada putrinya sendiri dan tak rela melepasnya.

"Hari ini Papa mau ke Bali," ujar Hamizan.

Lithania tidak menanggapi, malah asyik merangkak mengambil boneka unicorn. Tanduk kuningnya menarik perhatian, maka Lithania memasukkannya ke mulut. Mata Hamizan sedikit basah. Kenapa dia baru sadar betapa cantik dan lucu putrinya? Lithania tumbuh dengan cepat. Sebentar lagi berusia satu tahun. Dalam waktu kurang dari setahun, hidup Hamizan bagaikan roller coaster, naik turun secara drastis.

Hamizan cukup senang duduk berselonjor menonton Lithania yang bermain sendiri. Mungkin dia kesepian. Hamizan mencelus, rencananya dengan Cassandra untuk memberikan adik bagi Lithania belum terlaksana.

"Permisi, Pak, sarapannya Litha sudah siap." Juwariyah mengumumkan. "Habis ini Lithania mesti minum obat."

Meskipun sakit, selera makan Lithania seperti tidak terpengaruh. Fatma memang jago kalau urusan mencari asisten rumah tangga. Saat Hamizan kecil, semua pengasuh dan asisten rumah tangganya baik serta terampil, yang terpenting jujur. Maka, Hamizan dapat pergi tanpa terlalu banyak berpikir.

"Titip Litha, Yah. Saya ke Bali empat hari," ucap Hamizan seraya menggeret koper ukuran sedang. Dia memang tidak terlalu lama di Pulau Dewata. Ada manager yang diangkat, tugasnya mengurus The Parama Kitchen Uluwatu. Sebelum membuka pagar, sekali lagi Hamizan mengecup puncak kepala Lithania.

"Iya, Pak." Juwariyah mengangkat tangan Lithania, melambaikannya pada Hamizan yang sudah ditunggu taksi daring. "Papa, dadah Papa."

Senyum Juwariyah melebar begitu majikannya masuk ke mobil. Dia tidak buru-buru masuk, tetapi menunggu sampai taksi itu benar-benar menghilang.

"Litha, kita nonton Penthouse yuk, atau Mr. Queen aja ya enaknya?"

Hari-hari tanpa majikan di rumah memang semacam anugerah mahal bagi pengasuh seperti Juwariyah. Setidaknya dia harus menikmati kemerdekaan, sebab jika nanti Hamizan pulang, dia tidak dapat bersantai di kamarnya sendiri. Bayangkan, semalam saja Juwariyah harus bangun tiga kali untuk mengganti pampers Lithania dan memberinya susu. Juwariyah menguap, matanya berair.

"Mbak mau marathon drakor sampai papa kamu pulang. Litha jangan rewel ya." Juwariyah mencubit pipi Lithania. Dia menutup pintu depan, menguncinya agar tak diganggu.

♥♥♥


SEXY MISTRESSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang