Cassandra van den Heuvel merebut Hamizan Parama dari Mutiara, sahabatnya sendiri. Mereka menikah dan terlihat bahagia dengan kelahiran Lithania sementara Mutiara wafat meninggalkan Widi, suami barunya.
Widi yang masih belum bisa melupakan Mutiara me...
Cassandra telat tiga puluh menit dari waktu yang dijanjikan, lalu lintas Jakarta sedang tidak bersahabat. Setiap habis hujan, genangan di beberapa ruas jalan menambah kemacetan. Dia sudah mengirim pesan pada Widi untuk menunggunya. Cassandra menyusuri selasar RSKS dengan hati berdebar. Dalam hati, dia berharap pendonornya cocok.
Di depan poli interna, Widi menyambut kedatangan Cassandra dengan tampang sarat kesedihan. Perasaan Cassandra tidak enak, meski dia sudah berkali-kali mengembuskan napas untuk menghilangkan kegundahan.
"Maaf, Cass. Donornya tidak cocok untuk Lithania."
Di luar sana matahari sedang terik-teriknya. Namun dalam pendengaran Cassandra, petir dan guntur beradu mencipta badai. Tubuhnya seolah kehilangan nyawa, Cassandra terduduk lemas pada kursi tunggu, menatap kosong udara di belakang kepala Widi.
"Kenapa begini, Tuhan?" Cassandra terisak, kepedihan terlihat dari bahu yang mengguncang. "Kenapa hukumanMu malah Kau berikan pada putriku?" Cassandra memukul dadanya, "Kenapa bukan aku saja yang Kau hukum, Tuhan?"
"Cass, tenanglah. Ini rumah sakit," bujuk Widi.
"Justru karena ini rumah sakit, aku ingin menumpahkan kekesalanku agar tim dokter yang menolak donor itu tahu, Wid."
Widi berdiri mematung, membiarkan Cassandra larut dalam kedukaan. Bukankah dengan menangis separuh beban wanita itu akan terangkat? Widi tidak tahu harus melakukan apa, tak mungkin dia memeluk Cassandra meski itu alasannya adalah kasihan.
Cassandra menangis pilu. Ada Widi di sampingnya, tetapi laki-laki itu sama sekali tak berusaha menyentuhnya. Perawat dan dokter yang lewat tak menanyakan keadaan Cassandra. Pasien menangis adalah pemandangan biasa. Mungkin mereka mati rasa kehilangan iba.
Cassandra menghapus air mata menggunakan punggung tangan.
"Apa mereka nggak bisa melakukan tes lain, Wid? Ini kan baru tes darah."
"Kalau baru tes darah sudah nggak cocok, tes lain nggak perlu dijalankan." Widi menjelaskan sepelan mungkin. Dia ikut sedih melihat Cassandra sekarang. Bahkan memulaskan sedikit bedak pun dia lupa.
Cassandra rasanya tak mampu berdiri menopang dirinya sendiri. Dia mengirim pesan pada Hamizan, memberi tahu segalanya.
"Hamizan mau menjemputku sebentar lagi." Cassandra mendongak memberi tahu Widi.
"Aku temani di sini sampai dia datang." Widi meskipun bersimpati pada Cassandra, tetap saja menjaga jarak.
"Mungkin ini hukuman dari Tuhan karena aku merebut Hamizan dari almarhumah Mutiara," tukas Cassandra serak.
"Allah selalu punya rencana sendiri, Cassandra. Tidak baik berprasangka buruk."
Cassandra tak dapat menjawab. Diciumnya kepala Lithania dengan perasaan hancur. Setiap saat, dia akan kehilangan buah hatinya. Air mata yang sempat terhapus, kini mengalir lagi.
Widi duduk gelisah, serba salah harus bersikap bagaimana. Bolehkah dia menyentuh tangan Cassandra untuk menenangkan?
Baru saja tangannya terulur hendak menggenggam jemari Cassandra, sebuah dehaman membatalkan niatnya. Hamizan berdiri menjulang dengan kedua tangan masuk ke saku celana.
Pelakor merupakan singkatan perebut laki (suami) orang, sedangkan pebinor adalah perebut bini (istri) orang. Hamizan sepenuhnya tahu, sebagian besar pria menyukai tantangan. Sehingga, menyukai wanita bersuami menjadi sebuah tantangan yang sangat menarik untuk ditaklukkan. Dalam pandangan Hamizan, dia melihat Widi seperti itu sekarang, pria itu seakan menahan diri untuk tidak menenangkan Cassandra dengan sebuah pelukan. Ah, Hamizan merasa ada asap yang akan keluar dari kepalanya.
Bergegas, langkah panjangnya menghampiri Cassandra dan Widi. Untuk apa Widi berlama-lama di sini?
"Ndra, kita pulang sekarang." Hamizan berkata tegas. Dia mengabaikan Widi yang melongo menatapnya.
Menyadari kedatangan suaminya, Cassandra menghambur memeluk Hamizan, isak tangis wanita itu kembali pecah.
"Iya, Cass. Sebaiknya kamu pulang saja." Widi mencoba menengahi, Hamizan menoleh, menatap Widi seolah mengibarkan bendera perang.
"Anda duluan saja, biar istri saya menjadi urusan saya," sahut Hamizan ketus. Widi menyadari ketidaksukaan Hamizan sadar diri. Dia pun meninggalkan Cassandra setelah mengucap salam.
Hamizan membantu Cassandra menggendong Lithania, menyejajari langkah gontai istrinya ke parkiran.
"Aku menumpang sampai resto, ya." Hamizan menaruh Lithania pada baby car seat di sampingnya, pria itu mengambil alih kemudi, membiarkan Cassandra duduk di belakang.
"Mendingan Widi tadi yang mengantarku, kalau tahu kamu membiarkan aku menyopir sendiri." Cassandra bersungut kesal.
Hamizan yang sudah menahan sebal sejak tadi semakin berang. Pria itu mengembuskan napas kasar. "Jadi kamu lebih suka diantar pria lain daripada suami kamu sendiri?"
"Kamu nggak mengantarku, tapi menumpang ke resto," kilah Cassandra memalingkan wajah. Di sebelah mereka, kendaraan mengular rapi. Suara pedagang asongan bersahut-sahutan memanfaatkan kemacetan untuk menawarkan barang dagangan.
"Aku menjemputmu, dan kamu nggak menghargai itu?" seru Hamizan dengan nada tinggi.
"Apa sih susahnya kamu mengantarku pulang dulu? Hamiz, putrimu sekarat! Satu-satunya yang kuharapkan bisa membantu adalah pendonor yang ditemukan Widi. Dan kesempatan itu hilang."
"Widi lagi, Widi lagi! Bisa nggak sih kamu nggak menyabut nama pria sialan itu?" Hamizan memukul kemudi, membanting setir lalu menepikan kendaraan di depan Taman Suropati.
Cassandra mendengkus, "Pria sialan yang kamu maksud itu adalah orang yang bersusah payah mencarikan donor untuk putrimu." Cassandra menekankan kata 'putrimu' agar Hamizan paham. Namun, pria itu seolah kehilangan kendali akal sehatnya.
"Aaarghhh! Sudahlah. Apa yang kulakukan nggak ada benarnya di mata kamu." Hamizan menggeram marah, pria itu mengepalkan tangan meninju dasbor. Kesiap mengikuti tatapan Cassandra melihat Hamizan keluar dari mobil. Apa yang telah Hamizan lakukan untuk Lithania? Suaminya itu bahkan tidak pernah lagi memantau perkembangan putrinya.
The Parama Kitchen yang menjadi tujuan Hamizan masih jauh, tetapi dia enggan berlama-lama semobil dengan Cassandra. Bisa saja Hamizan kelepasan dan memecahkan kaca.
"Pulanglah sendiri, kita bicarakan masalah ini kalau aku pulang kerja." Hamizan menghela napas panjang, pria itu mencoba melunak, pertengkaran mereka menarik perhatian pengunjung taman.
"Memangnya apa yang sudah kamu lakukan untuk putrimu? Kamu lebih takut kehilangan restomu daripada Lithania." Cassandra membanting pintu setelah Hamizan turun. Dia benar-benar tidak bisa menanggapi kecemburuan Hamizan dengan kepala dingin. Otaknya terlalu kusut dengan kejadian beruntun. Wanita itu menstarter mobil dengan kasar, susah payah bergabung dengan antrean panjang lalu lintas.
♥♥♥
Hello Sexy Readers,
Terima kasih untuk yang masih membaca perjalanan cinta Cassandra, Widi, dan Hamizan. Yang nggak sabar nunggu lanjutannya, silakan baca di Karyakarsa Belladonnatossici. Yang mau baca gratis, tunggu di sini untuk update selanjutnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.