Bab 86

524 65 7
                                        

Hello Sexy Readers,

Vote dan komen yang banyak.

So, enjoy.

♥♥♥

Lithania berhenti mengisap botol susu. Dia menguap panjang sebelum kelopak matanya menutup. Cassandra menimang-nimang bayinya, mengecup puncak kepalanya. Betapa Cassandra merindukan aroma khas ini. Mungkin cinta terbesar yang dia rasakan adalah cinta pada Lithania, jauh lebih besar dibandingkan pada Hamizan, bahkan daripada dirinya sendiri.

Terlalu asyik menciumi tangan Lithania yang terlelap, Cassandra tak menyadari betapa tegang atmosfer di sekitarnya. Hamizan berdiri tegak dengan kedua tangan terkepal dalam saku celana, sementara Widi meskipun tampak tenang, tak beranjak dari dekat istrinya. Sikap Widi penuh antisipasi, sedikit ngeri jika Hamizan menerkam Cassandra. Dia teringat betapa nekat laki-laki itu kalau marah, malah tak segan mengobarkan keributan.

"Kami sudah selesai." Hamizan mengulurkan tangan, meminta Lithania.

"Aku masih kangen Litha," sahut Cassandra, "Kenapa dia nggak nginap di sini malam ini?"

"Kamu lupa ya, sekarang jadwalnya Litha kontrol ke dokter kan?" balas Hamizan datar.

"Iya, betul. Tapi habis dari rumah sakit, Litha tetap bisa menginap di sini. Aku ini ibunya, Ham. Litha pasti kangen aku," kata Cassandra sembari melirik Litha yang memeluk dadanya.

"Cassandra benar. Kami bersedia ikut ke rumah sakit," Widi buka suara juga setelah sempat diam cukup lama.

Hamizan tak membalas ide-ide di sekitarnya. Pelan-pelan dia mengangkat Lithania dari buaian Cassandra. Jemari mungil Lithania menggenggam kerah jubah Cassandra, tak rela lepas dari ibunya. Tetapi Hamizan menarik tangan itu dan memindahkan ke dekapannya.

Cassandra hanya dapat menghela napas disertai tatapan nanar. Sembilan bulan dia mengandung Lithania. Ditindih beban rasa bersalah pada Mutiara, dia mempertahankan Lithania. Sekarang buah hatinya dirampas paksa oleh laki-laki yang sempat bertahta sekian lama di hatinya.

Agaknya Widi memahami apa yang Cassandra rasakan. Digenggamnya bahu istrinya.

"Terima kasih, Cassandra. Maaf merepotkanmu," ujar Hamizan kemudian mendekap Lithania erat.

"Aku nggak pernah kerepotan untuk Litha. Dia selalu diterima di sini," sergah Cassandra cepat. Diambilnya kartu pasien dan salinan rekam medis milik Lithania yang selalu dia bawa ke mana pun. "Kalau nanti ke rumah sakit, jangan lupa kasih kartu ini ke bagian pendaftaran."

Hamizan menerimanya. Tatapannya bersirobok dengan Cassandra. Tidak ada sorot penuh cinta dan gairah di manik mata cokelat itu, hanya ada kekhawatiran dan kegelisahan. Semua sudah berubah. Hamizan sulit menerima bahwa Cassandra tak lagi mencintainya. Maka Hamizan mengangguk formal, menyalami Widi. Kakinya berderap keluar dari rumah itu. Dari bahasa tubuh, Widi terlihat menyayangi Cassandra. Atau boleh jadi Widi bersikap melindungi hanya demi menjalankan kewajiban sebagai suami. Hamizan tidak tahu persis, yang pasti dia tak mungkin memaksa Cassandra menggugat cerai laki-laki sebaik Widi meskipun pada sudut hati terdalam, Hamizan masih berharap Cassandra kembali ke pelukannya.

Hamizan menidurkan Lithania di baby car seat, kemudian melajukan mobil menuju rumah sakit. Kepalanya terasa berdenyut hingga Hamizan memijat pelipis. Panas membara menjalari jantungnya selama mengemudi.

"Sial!" gumam Hamizan sembari memukul setir. Dia masih merindukan Cassandra, ingin mengikat janji di depan penghulu lagi.

Upayanya memisahkan Lithania dari Cassandra agar wanita itu mengalah dan menjadi istrinya, gagal. Cassandra tadi tidak menyusul dia keluar. Berdiam saja di kamar. Tidak juga mencegahnya pergi. Jelas Hamizan sakit hati. Bahaimana masa depan Lithania kelak dibesarkan tanpa kasih sayang ibu?

Hamizan menoleh memandangi wajah malaikat Lithania. Akan tetapi dia terkesiap mendapati darah segar mengalir dari lubang hidung bayinya. Berusaha tidak panik, Hamizan menepikan mobil lalu mengelapnya.

"Bertahanlah, Litha. Kita akan ke rumah sakit."

♥♥♥


SEXY MISTRESSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang