Hello Sexy Readers,
Vote dan komen yang banyak.
So, enjoy.
♥♥♥
Berani sekali Widi menemui Hamizan untuk menawarkan sesuatu yang mustahil dia terima. Pada saat tertentu, tebersit dalam pikiran Hamizan bahwa Widi membalas dendam padanya. Dari penampilannya, Widi kelihatan layaknya laki-laki baik yang paham agama. Namun penampilan bisa menipu. Berapa banyak manusia yang berkostum religius ternyata terlibat perbuatan mesum bahkan mengebom rumah ibadah agama lain?
Hamizan mengempaskan diri ke kursi kerja di ruangannya. Mungkin agak keterlaluan kalau dia menuduh Widi akan melakukan perbuatan bejat pada Litha hanya karena mereka adalah ayah dan anak tiri. Tetapi Hamzian tak ambil pusing. Biarlah Widi berpikir di rumah nanti. Lebih bagus lagi kalau melaporkan pertemuan siang ini pada istrinya. Keadaan Lithania yang makin parah juga salah Cassandra.
Perut Hamizan lapar. Dia perlu makan sesuatu sebelum pergi ke rumah sakit. Ditekannya interkom yang tersambung ke service station.
[Iya, Pak.]
"Jer, bilang sama Chef Aaron, buatkan saya nasi goreng."
[Mau yang seafood, ayam, atau sapi, Pak?]
"Apa saja yang penting cepat. Saya harus ke rumah sakit."
[Baik, Pak.]
"Sama es jeruk ya, Jer."
[Siap, Pak.]
Berat memang menjadi laki-laki yang harus menguru anak sakit dan bisnis sekaligus. Pengasuh Lithania yang maniak drama korea itu sudah dia pecat. Wanita itu menangis sesenggukan, menyembah, meminta maaf akan kelalaiannya. Tetapi Hamzian sudah terlalu jengkel untuk memaafkan.
Tak lama kemudian Jerry membawakan nasi goreng dan es jeruk pesanan Hamizan. Setelah mengucapkan terima kasih, Hamzian makan dengan cepat nyaris tanpa mengunyah. Dia hanya perlu mengisi tenaga agar kuat menghadapi drama kehidupan. Sepuluh menit saja waktu yang diperlukan untuk menandaskan isi piring dan dua menit tambahan untuk menghabiskan jus jeruk. Gigi Hamizan sedikit ngilu akibat perubahan suhu yang drastis. Dia kembali menekan interkom.
"Jer, tolong bereskan piring di meja saya."
[Baik, Pak.]
"Saya pergi dulu ke RSKS, nanti sore balik. Titip restoran."
[Baik, Pak.]
Jalan sudah lumayan sepi saat Hamizan melajukan mobil menuju rumah sakit. Karyawan yang tadi istirahat telah kembali ke kantor masing-masing. Perasaan Hamzian tenang, tanpa firasat buruk apa pun saat tiba di parkiran RSKS.
Ponsel Hamizan berdering. Ternyata Fatma yang pagi ini gentian menjaga Lithania menelepon.
"Iya, Ma?"
[Ham, cepat ke rumah sakit. Litha berak darah. Tadi sesak napas juga.]
Tidak menunggu Fatma untu menyelesaikan telepon, Hamizan memutus sambungan. Hafal dengan letak ruangan perawatan Lithania, Hamizan berlari menuju sayap barat yang menjadi pusat untuk anak-anak. Ketika dia membuka pintu ruangan, perawat tengah membersihkan kotoran putrinya. Hamizan hanya dapat membeku di tempat saat melihat betapa banyak darah menodai seprai putih ranjangnya.
"Kenapa anak saya, Suster?" Hamizan menyadari suaranya bergetar.
"Fesesnya berdarah sejak pagi," ucap perawat yang membawa buntalan seprai.
Lithania merintih. Matanya terpejam, tetapi dia tak dapat menyamarkan betapa sakit tubuhnya kini. Hamizan mendekat dengan lutut bergetar. Baru pagi tadi dia gantian berjaga dengan Fatma. Hamizan membujuk Lithania makan dan memang anak itu tidak mau.
"Zan." Fatma menyentuh bahu Hamizan.
"Ma." Hamizan segera memeluk Fatma, tak sanggup menyaksikan keadaan gawat Lithania.
Layar monitor yang menunjukkan detak jantung Lithania tiba-tiba menunjukkan garis lurus. Bunyi alat itu memekakkan telinga. Hamizan menekan bel yang tersambung ke ruang petugas medis. Perawat dan dokter berdatangan memberikan resusitasi.
"Bapak tunggu di luar dulu." Perawat menggiring Hamizan dan Fatma ke luar.
Betapa cepat keadaan Lithania memburuk. Bukankah semalam itu masih tidur pulas? Hamizan tengah mencari donor sumsum yang tepat untuk Lithania, lalu mengapa semua jadi begini? Hamizan hanya dapat menangis sembari berangkulan dengan Fatma.
♥♥♥
KAMU SEDANG MEMBACA
SEXY MISTRESS
RomanceCassandra van den Heuvel merebut Hamizan Parama dari Mutiara, sahabatnya sendiri. Mereka menikah dan terlihat bahagia dengan kelahiran Lithania sementara Mutiara wafat meninggalkan Widi, suami barunya. Widi yang masih belum bisa melupakan Mutiara me...
