Bab 92

495 69 7
                                        

Hello Sexy Readers,

Vote dan komen yang banyak

So, enjoy.

Love,
Bella - WidiSyah

♥♥♥

Bukannya Widi mau bersikap jahat. Dia menyayangi Lithania seperti anak sendiri, tetapi kondisi fisik Cassandra tidak memungkinkan untuk menjenguk. Dalam kandungan Cassandra ada buah cintanya dengan Widi yang harus dijaga. Dengan berat hati Widi tidak menyampaikan pesan Hamizan. Dia menelepon sang Ibu di Surabaya.

[Le, piye kabare?]

Widi melambai melalui video call. "Sae, Bun. Kami baik-baik saja. Bunda sendiri bagaimana?"

[Kamu di mana, Le?]

"Di rumah sakit."

[Lho, tadi katanya baik? Cassandra mana? Dia baik-baik juga, tho?]

Widi membawa ponsel kepada Cassandra sebelum ibunya kena serangan jantung saking paniknya.

"Halo, Bunda." Cassandra duduk dibantu Widi. Tidur terus juga tidak enak.

[Lho, kamu kok diinfus, Nduk? Kamu ndak sakit, tho?]

"Dehidrasi saja, Bun. Seharian muntah-muntah terus. Sempat pingsan juga makanya harus diinfus buat mengganti cairan tubuh."

[Owalah, kamu ini kerja terlalu keras. Padahal kalau pun kamu di rumah saja pun Widi tetap bisa nafkahin kamu, Nduk. Sebaik-baiknya wanita adalah wanita yang di rumah.]

"Saya sekolah tinggi kan supaya mandiri, Bun. Nggak mau menadahkan tangan sama suami terus. Kalau Widi kenapa-kenapa, saya nggak mau jadi janda yang mengemis belas kasihan."

Widi berdeham. Ya, dia kenal Cassandra yang tidak akan mudah menuruti nasihat, apalagi jika nasihat itu tidak sesuai karakternya. Mungkin Cassandra lebih memilih bercerai daripada menuruti suami yang mengekangnya. Tidak, Cassandra bukanlah wanita anggun yang tunduk begitu saja. Dia pejuang, dia tangguh, dia sanggup berdiri di kaki sendiri. Maka, percakapan ibu dengan menantu perempuan ini sangat berpotensi menjadi perang dunia ketiga. Widi wajib menghentikannya.

"Saya menelepon mau memberitahukan kabar gembira kok, Bun," potong Widi cepat. Dia tak mampu menyembunyikan senyum semringah. "Cassandra hamil. Sebentar lagi saya akan jadi ayah dan Bunda akan jadi eyang."

[Alhamdulillah. Kamu ndak bercanda tho, Le?]

"Mana beranilah saya bercanda untuk hal seserius ini."

Mata tua Bunda berkaca-kaca. Berulang kali dia mengucap syukur. Pernikahan pertama Widi tak berlangsung baik. Jangankan bermesraan, Mutiara terlalu sakit untuk melaksanakan kewajiban sebagai seorang istri. Namun, Widi tetap bersabar merawatnya hingga ajal menjemput. Mungkin Tuhan iba dan malaikat takjub pada pengorbanan Widi. Jarang laki-laki sebaik putranya hidup di muka bumi. Kebanyakan malah sudah punya anak-istri malah mau poligami dengan dalih sunnah Rasul. Menemukan laki-laki sesetia Widi bagaikan mencari jarum di hutan Amazon.

"Sekarang Cassandra harus banyak istirahat supaya nggak muntah-muntah. Mohon doanya, Bun."

[Pasti, Wid. Bunda pasti mendoakan yang terbaik untuk kalian. Bunda akan kasih tahu kakak-kakakmu. Jagain Cassandra, yo cah bagus.]

"Pasti, Bun. Pasti."

Percakapan diakhiri dengan perasaan gembira yang semakin meluap. Widi mengecup puncak kepala Cassandra, tetapi wanita itu malah tertawa.

"Kamu kenapa sih? Kayak sinetron aja pakai cium-cium segala."

"Kan biar mesra," balas Widi sedikit malu.

Syukurlah akhirnya Bu Irma datang sehingga Widi tak perlu berlama-lama canggung. Cassandra memilih menu puree kentang dengan rolade daging dan sayuran untuk makan malam. Hidangan itu tiba pukul tujuh malam dibawa oleh staf bagian gizi.

"Suapin dong, Wid. Tanganku susah nih kehalang selang infus," pinta Cassandra.

Widi yang baru saja selesai salat magrib mendekat. Dia memotong rolade daging menjadi ukuran dadu menggunakan dadu, lelu menyuapkannya bersama dengan puree kentang dan sayuran.

"Hmmm... Enak ya makan disuapin," ucap Cassandra sembari mengunyah.

Widi menyuapkan lagi begitu Cassandra menelan suapan pertama. Dia terlalu bahagia sampai tak bisa berkata-kata. Bayangkan, dia akan segera punya bayi.

"Litha lagi apa ya?" tanya Cassandra tiba-tiba. Pandangannya berubah sendu. "Pasti dia akan senang ya punya adik. Apa kita kasih tahu dia ya?"

Widi menyambar ponsel yang hendak diambil Cassandra. Tidak, kalau Cassandra sampai tahu keadaan Lithania, malam ini dia akan ke RSKS menjenguk putrinya.

"HP kamu aku sita dulu ya, Cas. Istirahat saja dua hari, setelah itu kamu bisa telepon Litha. Aku janji."

Nada suara Widi terdengar sangat serius sehingga Cassandra yang biasanya melawan kini segan. Cassandra menurut, membuka mulutnya untuk menerima suapan Widi lagi. Mereka sama-sama terdiam hingga piring kosong.

"Sudah habis," ucap Widi lega.

"Thanks, Suami." Cassandra menyandarkan kepala di bahu Widi dengan manja.

"Sekarang gantian aku cari makan. Kamu istirahat ya." Widi membantu Cassandra merebahkan diri ke ranjang sempit rumah sakit.

Cassandra mengangguk dan memejamkan mata. Widi menghela napas saat keluar dari kamar. Perasaan bersalah ini hanya untuk dua hari. Semoga saja Lithania bertahan hingga ibunya datang.

♥♥♥

SEXY MISTRESSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang