75

61 3 0
                                        

"Saya akan urus perceraian dan akan mengambil hak asuh Ellgar dan Nouval" ucap Riana menatap Hendry yang masih sibuk dengan bibirnya yang berdarah.

"Tidak usah melewati jalur hukum, jika kamu ingin mengasuh mereka silahkan ambil saja, saya tidak butuh keduanya" ucap Hendry melihat Nouval yang sudah menatapnya tajam dan juga Ellgar yang masih lemah akan tubuhnya.

"Saya akan mengurus surat perceraiannya" ucap Hendry mengalihkan pandangannya.

"Bagus, sekarang silahkan anda angkat kaki dari rumah pemberian ibu dan ayah saya karena kehadiran anda sangat tidak berpengaruh dalam rumah ini" ucap Riana menatap Hendry tajam membuat sang empunya meringis melihatnya.

Pasalnya ia jika tidak tinggal di dalam rumah ini ia tinggal dimana?

Apalagi dirinya sekarang sudah pengangguran dan hanya mendapatkan uang dari kerja di hotel dari banyak perempuan simpanannya.

"Silahkan" ucap Riana mengarahkan tangannya pada pintu kamar Ellgar untuk mengode dan memerintah Hendry agar dirinya cepat untuk keluar dari kamar Ellgar.

Hendry menghela nafasnya berat.

Mengapa semuanya jadi kacau begini? Jika sudah begini ia harus bagaimana?

Hendry berjalan pelan menuju pintu kamar Ellgar tanpa melihat ketiga orang yang berada di tempat yang sama itu.

Hendry membalikkan badannya pada Riana, Ellgar, dan juga Nouval yang tengah menatapnya.

"Saya pastikan kamu akan menyesal dikemudian hari" ucap Hendry pada Riana yang sedang menatapnya dengan tatapan devil.

"Saya tidak akan menyesal dengan apa yang sudah saya keluarkan dari mulut saya" ucap Riana melipat tangannya di depan dadanya.

"Mungkin anda yang akan menelan ludah anda sendiri" ucap Riana menaikkan satu senyumannya membuat Hendry mati kata.

Hendry menutup pintu kamar Ellgar dari luar membuat Riana yang berada di dalam lega dibuatnya.

"Ellgar kamu nggapapa sayang?" ucap Riana menghampiri Ellgar dan tangan kanannya memegang tangan Ellgar sementara tangan kirinya mengelus lembut kepala Ellgar.

"Ellgar gapapa maa" ucap Ellgar mengelus kembali tangan mamanya untuk menenangkan mamanya itu.

"Maa... kita telfon dokter aja supaya Ellgar juga bisa langsung di obatin" ucap Nouval menatap Riana yang khawatir.

"Iya iya Nouval, tolong langsung telfon dokternya ya" ucap Riana yang langsung diangguki Nouval.

Nouval menjauhkan dirinya dari Riana dan juga Ellgar agar dirinya bisa leluasa untuk berbicara dengan Dokter.

Sementara itu Riana masih melihat Ellgar yang sekarang terbaring lemas di tempat tidur dengan banyak memar yang ada di bagian mukanya.

Dan juga darah yang terus mengalir disudut bibir Ellgar maupun di menetes dan keluar dari hidung Ellgar.

Ellgar sengaja untuk tidak membalas pukulan papanya kali ini, ia ingin papanya benar benar puas akan dirinya dan Ellgar hanya ingin melihat papanya dengan emosi yang utuh dikarenakan apa.

Sebenarnya Ellgar merasakan dirinya yang agak risih akibat gejala yang di idam oleh penyakitnya lagi lagi kambuh.

Pinggang dan punggung bawah Ellgar yang berada di dekat benjolan yang sudah lumayan besar itu terasa sangat nyeri membuat Ellgar susah bergerak dari tidurnya.

"Maa.. " ucap Ellgar mencairkan susana.

"Iya sayang?" ucap Riana kepada Ellgar dan masih mengelus tangan dan kepala Ellgar dengan lembut.

ELLGAR (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang