Haechan Dirga Derova
dan
Markie Arkha Adipura
Dua orang yang tidak saling mengenal dan mencintai harus tinggal satu atap karena perjodohan.
Bagaimana nasib keduanya? Apakah cinta akan tumbuh di antara mereka dengan seiring berjalannya waktu?
Warning...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
. . .
Setelah selesai makan siang Haechan mendapat pesan dari Ibundanya kalau sang Bunda sebentar lagi akan tiba di Apartment.
Markie yang mendengarnya dari Haechan langsung buru-buru merapikan meja makan serta piring kotor sampai bersih mengkilat.
Haechan yang melihatnya heran sendiri. Dia beranjak dari dapur setelah mendengar bel Apartment nya berbunyi. Sepertinya Tennesya sudah tiba.
Cepat juga. Mungkin wanita itu memberi kabar setelah ada di depan gedung Apartment.
Begitu Haechan membuka pintu, ia langsung dihadapi oleh wajah Ibundanya yang membawa dua paper bag.
"Ngapain Bunda ke sini?" tanya Haechan cukup tak bersahabat.
Tennesya masuk, lalu mencibir. "Markie mana?" balasnya tanpa menghiraukan pertanyaan sang putra.
Belum sempat Haechan menjawab, Markie muncul dari dapur.
Tennesya tersenyum dan berhambur memeluk menantunya itu.
"Hai, cantik. Betah tinggal di sini?" tanya Tennesya setelah pelukkannya terlepas.
Markie hanya mengangguk sambil membalas senyuman Tennesya.
"Itu bagus. Harus betah."
Haechan berjalan dan duduk di sofa. Tennesya ikut duduk. Dia meletakan paper bag yang ia bawa di lantai dekat sofa.
Markie menulis sesuatu, lalu menunjukannya pada Tennesya.
"Bunda mau minum apa? Biar Markie bikinin."
"Ekhm... teh manis anget juga boleh, kok," balas Tennesya tak melunturkan senyumannya.
"Tunggu bentar, Bunda. Markie buatin dulu."
Markie menulis lagi. Setelah pamit dengan sopan, dia beranjak ke dapur.
Tennesya mengalihkan pandangan ke putranya yang sedari tadi diam.
"Gimana, enak, kan, kalau udah nikah? Apa-apa ada yang ngurusin," ucap Tennesya dengan nada menggoda.
Haechan hanya mendengus mendengar perkataan dari Ibundanya.
"Semalam gimana?" tanya Tennesya. "Enak gak, Nak? Cerita sama Bunda, dong!" lanjutnya antusias.
Haechan mengernyit bingung. Apa maksud Bundanya, sih?
Sebelum menjawab, Markie datang membawa nampan berisi dua gelas teh manis hangat. Pemuda itu meletakannya di atas meja. Dia memberi senyuman ramah pada Ibu merutanya, lalu duduk di samping Haechan─walau sedikit agak berjauhan karena masih cukup canggung.
Sedari tadi Tennesya memperhatikan bagaimana Markie berjalan. Keningnya mengkerut kala melihat tak ada yang aneh.
Kenapa cara jalan Markie kelihatan biasa aja, sih? Apa jangan-jangan Dirga mainnya lembut banget penuh cinta, ya? Hm. Bisa jadi.