BAB 95

3K 92 12
                                        

Disclaimer:

part ini agak gak nyambung sebenarnya dan agak absurd, tapi buat aku ini adalah part paling penting karena part ini yang ngubah hidup Gerald.

Happy reading all!!!

.
.
.

Diantara ratusan atau bahkan ribuan manusia yang Gerald kenal, lelaki itu tidak pernah menyangka akan bertemu dengan Syahid di tempat yang kurang menyenangkan seperti rumah sakit.


Sekitar satu minggu yang lalu tiba-tiba saja pintu kamar rawat Aiza diketuk. Biasanya itu hanya formalitas karena kebanyakan akan langsung masuk tanpa harus mendengar respon dari dalam.


Tapi kali ini, pintu terus diketuk dengan ucapan salam dari luar. Gerald yang merasa terganggu langsung beranjak dan berjalan dengan kaki menghentak bersiap memaki orang diluar.


Namun semua amarah Gerald lenyap seketika begitu ia membuka pintu dan menemukan Syahid yang ada di balik pintu.




Ternyata, putri lelaki itu yang bernama Fatimah sakit dan dirawat disana. Kondisinya tidak jauh berbeda dengan Aiza. Saat mencari Aiza ke Tasik, Syahid memang sempat mengatakan kalau anaknya punya kelainan jantung bawaan yang cukup serius.


Lebih mengejutkan lagi, ternyata Syahid sudah cukup lama meninggalkan Tasik dan tinggal di Jakarta. Dokter terbaik untuk mengobati penyakit anaknya bertugas di Jakarta hingga mau tidak mau Syahid memutuskan untuk meninggalkan desa yang membesarkannya dan tinggal di kota itu.


Gerald melirik jam di tangannya lalu melihat ke arah jendela. Matahari hampir tenggelam, tapi Syahid tidak kunjung datang untuk menemuinya.


Yah, selama satu Minggu ini Syahid memang sering sekali mengunjunginya di ruang rawat Aiza. Lelaki itu akan datang untuk makan bersama Gerald, baik itu sarapan, makan siang hingga malam malam.


Tapi hari ini, batang hidung lelaki itu tidak kunjung terlihat. Entah kenapa rasa cemas hadir di hati Gerald. Tepat saat matahari tenggelam, lelaki itu memutuskan untuk mencari Syahid di ruang rawat anaknya yang kebetulan bersebelahan dengan ruang rawat Aiza.


Sayangnya Syahid juga tidak ada disana, seorang perawat yang menjaga bayi perempuan yang masih terbaring koma itu hanya mengatakan kalau kemungkinan Syahid sedang ada di mushola.


Dan disanalah sekarang Gerald berada. Untuk pertama kalinya setelah Aiza dipindahkan ke ruang rawat dua minggu lalu, lelaki itu bisa meninggalkan ruang rawat Aiza menuju mushola yang ada di lantai satu.


Gerald duduk bersandar di dinding mushola, memperhatikan Syahid yang tengah shalat seorang diri dengan khusyuk. Tidak satupun gerakan Syahid yang luput dari perhatian Gerald. Begitu pula dengan durasi sujud terakhirnya yang sedikit lebih lama dari sujud sebelumnya.


Dan sekarang, lelaki itu tengah menengadahkan kedua tangannya mengemis pada sang pemilik alam meski tanpa suara.


Begitu selesai lelaki itu berbalik dan menemukan Gerald yang tidak melepaskan tatapannya dari dirinya.


"Untuk apa kau melakukan itu?" Tanya Gerald dingin.


Syahid sedikit mengerutkan keningnya tidak mengerti "Maksudmu?"


"Mengemis. Padahal kondisi putrimu masih sama saja." Jelas Gerald masih dengan suara dinginnya.


Senyum getir terbit di wajah sayu Syahid. Ia mengerti apa yang Gerald rasakan.


"Tidak ada salahnya mengemis. Setidaknya ada hal yang kulakukan untuk putriku. Aku hanya berharap, tuhan akan mengasihaniku dengan melihatku mengemis setiap saat."


MARRIED WITH MY FRIEND Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang