Epilog

1K 75 14
                                        

SATU TAHUN KEMUDIAN

Sembari menguap kecil, Elena keluar dari dapur dengan botol kecil di tangannya. Jangan tanyakan penampilannya saat ini! Mata panda, rambut berantakan, belum lagi wajahnya yang suram.

Dari kejauhan, Elena bisa mendengar celotehan tidak jelas seorang anak dari kamarnya. Entah apa lagi yang dilakukan iblis kecil itu di kamarnya hingga dia bisa berceloteh seriang itu setelah dua hari ini selalu murung karena dititipkan Gerald di rumah Atmaja.

"ASTAGA! MUHAMMAD RENO ATMAJA! WHAT ARE YOU DOING?' Teriak Elena begitu ia membuka kamarnya.

Hampir saja botol susu di tangannya jatuh melihat kondisi kamarnya yang sudah tidak karuan. Bantal di kasurnya sudah berpindah tempat ke lantai. Baju-bajunya entah bagaimana bisa keluar dari wardrobenya dan yang paling membuat emosinya naik hingga ke puncak adalah make-up nya yang sudah tercecer di lantai. Entah bagaimana caranya bayi itu memanjat ke meja riasnya, dan sekarang anak yang baru lancar berjalan itu tengah menatapnya polos dengan lipstik di tangannya yang sudah berubah fungsi menjadi alat lukis di lantai.

"Ada apa, El? Reno kenapa? Dia ..." Ucapan Ranti terhenti begitu ia melihat kondisi kamar Elena yang sudah tidak karuan.

Wanita itu baru saja kembali dari berbelanja saat mendengar suara teriakan Elena. Ia kira terjadi sesuatu pada cucunya, ternyata putrinya yang tengah terkena masalah.

Alhasil, wanita itu hanya bisa tertawa melihat ekspresi anaknya yang idak karuan. "Lagian, kamu pasti ninggalin dia sendiri. Untung gak terjadi apa-apa sama dia."

Padahal Ranti hanya menitipkan Reno pada Elena sebentar sementara ia membeli keperluan cucunya itu. Tapi sudah ada kejadian menggelikan seperti ini di rumahnya.

"Sumpah, Elena Cuma ninggalin dia sepuluh menit."

"Dia bukan bayi lagi yang cuma bisa diem, El. Dia udah bisa jalan bahkan manjat." Ranti menghampiri cucunya itu dan menemaninya bermain.

"Lagian kapan sih Gerald pulang. Andai aja ada Aiza, pasti gak perlu kayak gini." Keluh Elena yang langsung dibalas dengan tatapan tajam Ranti.

"Kamu gak boleh gitu! Aiza udah pergi, biarin dia tenang disana."

Dering dari handphone Elena yang ada di nakas mengalihkan perhatian mereka. Elena segera mengambilnya, nama Gerald tertera disana, dengan cepat Elena menjawab panggilan kakaknya itu.

"Kapan lo pulang. Anak lo..."

"El ini gue." Potong suara wanita di seberang telepon dengan napas terengah.

"Aiza?" Elena mengerutkan keningnya mendengar suara kakak iparnya itu. Tapi kemudian, wajahnya berubah panik menyadari napas terengah Aiza. "Za, lo kenapa? Lo gapapa, kan?"

"Bu bu." Reno yang mendengar suara ibunya langsung mendekati Elena dan naik ke pangkuannya.

*
*
*

Sementara itu, di seberang telepon seorang wanita dengan gamis biru lembut tengah berlari menyusuri garis pantai berusaha kabur dari suaminya. Ia tidak memedulikan terik matahari yang membakar kulitnya atau pasir putih dibawahnya yang beberapa kali memerangkap kakinya.

Yang ia inginkan saat ini adalah mendengar suara putranya. Sudah dua hari ini ia terkurung dengan Gerald di sebuah vila milik keluarga Atmaja di Bali.

Entah gila atau memang tidak waras, Gerald dengan lancang membubuhkan obat tidur di minumannya hingga saat ia bagun di hari berikutnya, tubuhnya sudah berpindah pulau tanpa ia ketahui.

"Gue lagi kabur dari abang lo." Jawab Aiza dengan napas tersengal. "Reno, dia baik-baik aja kan, El? Dia gak rewel, kan?" Tanya Aiza disela napas beratnya.

MARRIED WITH MY FRIEND Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang