Pemakaman kecil di kampung yang biasanya sepi itu berubah ramai oleh orang-orang yang mengantarkan jasad tanpa dosa di lengan kekar Syahid ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Tanpa memedulikan tanah basah di bawahnya, Syahid turun ke liang lahat. Dengan hati-hati ia membaringkan tubuh mungil putrinya di tanah dingin yang akan segera memeluknya.
Untuk terakhir kalinya Syahid menatap dalam wajah cantik Fatimah, ia harus menahan tangisnya dan mengecup dalam kening itu menyalurkan seluruh kasih sayangnya yang tidak mungkin habis meski jasad itu habis dimakan tanah.
Engan berat hati Syahid melepaskan putrinya, Irish coklatnya tidak lepas dari jasad berbalut kafan itu hingga tanah perlahan menelannya. Tatapannya kosong, tapi semua orang tahu hatinya lebih remuk dari butiran tanah yang terus menimbun tubuh bayi itu.
Satu persatu warga mulai meninggalkan tempat itu, beberapa memberikan tepukan hangat di bahunya yang dingin dengan beberapa kata penyemangat yang samasekali tidak sampai ke otaknya.
Mang Jajang dan Mak ‘A’ah sudah mengajaknya untuk pulang, tapi Syahid enggan beranjak dari tempatnya. Hingga langit berubah senja lelaki itu masih setia ditempatnya.
Udara semakin dingin, cahaya senja semakin pekat dan suara serangga mulai memenuhi telinganya, saat itu Syahid baru merasakan dinginnya sepi. Tangisnya pecah dengan suara menyayat hati.
Ia menatap nisan kecil di tanah yang masih basah itu lalu beralih ke nisan lain yang berada tepat disampingnya.
KHALID BIN SYAHID, tulisan kecil di nisan itu tidak pernah berhenti menusuk hatinya setiap kali Syahid menatapnya.
Tidak pernah terbersit sekalipun dalam benaknya kalau ia akan melihat namanya tertulis diatas batu nisan dan disandingkan dengan nama kedua anaknya.
Yah, makam kecil yang belum benar-benar kering di samping makam putrinya adalah makan Khalid, putra pertamanya. Ia menatap tangan berlumpurnya dan mengepalkannya erat. Dua kali, dua kali ia harus mengantar jasad kedua buah hatinya ke liang lahat, dua kali juga ia harus hancur dan terluka.
Empat bulan lalu, Khalid dan Santi mengalami kecelakaan dalam perjalanan pulang dari rumah sakit. Saat itu, Syahid bergantian menjaga Fatimah, hari itu adalah giliran Syahid yang menjaga Fatimah, sementara Santi dan Khalid ia suruh pulang untuk beristirahat di rumah sewa mereka di Jakarta.
Diperjalanan, taxi yang ditumpangi Santi dan Khalid kehilangan kendali lalu jatuh ke jurang dan meledak. Jasad Khalid berhasil ditemukan dalam keadaan rusak parah. Sementara jasad Santi dan sang sopir tidak bisa ditemukan hingga saat ini.
“Dimana kamu San? Apa kamu ada sama mereka sekarang? Aku butuh kamu, sayang.” Lirih Syahid hampir tanpa suara.
“Bahkan setelah kau sungguh-sungguh memohon, bersujud, menangis. Dia tetap mengambil semuanya darimu, Syahid.”
Syahid sedikit terhenyak mendengar suara yang sangat dikenalnya itu. Dengan cepat ia menghapus wajahnya yang basah oleh air mata dengan ujunng baju lengannya yang bersih.
“Kau bermain terlalu jauh, Gerald. Tempat ini terlalu berjarak dengan tempat Aiza sekarang.”
Siapa yang akan menyangka, seorang Gerald Atmaja yang tidak pernah pergi dari sisi ranjang Aiza kini berada di tempatnya, berjarak ratusan kilometer dari tempat Aiza berada sekarang.
Begitu mendengar kabar tentang kepergian Fatimah, Gerald segera mengirim pesan pada anak buahnya di kantor untuk mengirimkannya mobil.
Sebelum pergi, Gerald menemui Aiza dan meminta izinnya. Ia meminta pada wanita itu untuk terus bertahan setidaknya sampai ia kembali. Ia enggan meninggalkan Aiza, tapi entahlah, hatinya seperti memaksanya untuk datang ke pemakaman Fatimah.
KAMU SEDANG MEMBACA
MARRIED WITH MY FRIEND
Romance"Aaaa" Aiza tidak bisa menahan suaranya karena terkejut melihat Gerald, sahabatnya sendiri tengah tertidur disampingnya, dibawah selimut yang sama dengan kondisi topless. Gerald yang mendengar teriakan Aiza seketika terbangun, ia terkejut dan bin...
