Let's Be Brave

12.9K 1K 30
                                        

Setelah sekian lama akhirnya aku bis alanjutin cerita ini.

Selamat membaca!

Katanya — entah mendengar dari mana, lebih baik melawan gengsi untuk mengungkapkan apa yang kita rasakan dari pada menyesal di kemudian hari. Bukan berarti selalu mengatakan apa yang terlintas dalam pikiran tanpa adanya pertimbangan, tetapi mencoba untuk mengungkapkan segala emosi yang dirasakan dengan cara dan langkah yang benar.

Mengapa? karena hal yang benar pun, bila tidak ditempuh dengan jalan yang baik maka tidak akan berakhir baik.

Aku menarik napas dan memasok banyak udara ke dalam rongga dada. Nasi sudah menjadi bubur, dan sangat tidak mungkin untukku menghindari kelompok orang-orang yang berhasil menarik banyak perhatian dari orang-orang di bandar udara.

Aku membalas sapaan dari Bang Jay dengan senormal mungkin. Mencoba tersenyum dan bersikap biasa, meski degup di dada terdengar tidak biasa. "Hai, Bang."

Aku melirik ke arah Bang Jeno yang ternyata juga sedang melirikku. Memberikan tatapan bombastic side eyes andalanku karena kelakuannya yang benar-benar tidak terpikirkan. Membuatnya langsung kalang kabut hingga ecpat-cepat mengalihkan pandangan dengan mengajak teman-temannya berbicara.

"Eh kayaknya bentar lagi udah mau take of. Yok masuk." Aku tahu ini adalah sebuah upaya yang dilakukan Bang Jeno untuk menghindari tatapanku yang ingin membunuhnya. Penerbangan kami masih cukup lama, tapi dia yang biasanya paling ogah-ogahan mendadak menjadi si paling semangat di antara semua orang.

Setelah mendapatkan persetujuan dari teman-temannya, dia cepat-cepat menarik koper dan berlalu pergi. Jalan paling depan tanpa repot-repot menunggu adiknya ini. Padahal dia yang inisiatif mengajak, dia yang menjebakku di antara sekelompok laki-laki asing, dan kali ini bahkan dia juga yang meninggalkanku seorang diri tanpa beban sama sekali.

Aku mendengkus sebal dibuatnya. Koperku dia tinggalkan begitu saja, yang berarti bahwa aku harus menarik-nariknya seorang diri.

Well aku tidak se pick me itu sampai tidak mau menarik koper yang bahkan tidak terlalu besar. Aku hanya malas melakukannya kalau masih ada opsi untuk meminta tolong orang lain. Toh yang aku mintai tolong adalah kakak kandungku sendiri, jadi menurutku tidak ada yang salah.

"Sini biar saya bawakan," aku menoleh dan mengedip-ngedipkan mata kaget. Baru sadar bahwa di posisiku ini, aku tidak seorang diri.

Saking fokusnya kesal dengan Bang Jeno, aku tidak menyadari bahwa masih ada satu orang yang tersisa yang belum pergi. Masih tersisa satu orang yang berdiri di sampingku, yang kemungkinan besar juga mendengar semua kebacotanku sejak ditinggal abang laknatku itu.

"Eh, gak usah, Pak. Saya bisa kok sendiri." Mencoba menolak kebaikannya, aku menarik kembali tarikan koperku. Meski kali ini bukan di kantor, aku tetap tidak bisa melupakan fakta bahwa aku ini adalah bawahannya. Bahkan bawahan bawahannya.

Selain itu, aku juga berjaga-jaga, siapa tau ada media yang diam-diam sedang mencari berita tentangnya. Aku tak mau terlibat issue dengan seorang politikus, apalagi di umurku yang masih muda ini. Aku tidak ingin hidup tenangku terganggu, maka sebisa mungkin aku akan menghindarinya.

Namun jika boleh jujur, alasan terbesar aku menghindarinya bukanlah karena itu. Tapi karena perhatian-perhatiannya yang pernah kusebutkan sebelumnya tanpa sadar ternyata sudah berhasil menggoyahkan hatiku. Aku tidak mau jatuh, apalagi pada orang yang berkemungkinan sangat besar tidak akan bisa bersamaku. Lo nggak boleh deket-deket sama dia, Liv."

"Udah bapak duluan aja, saya bisa kok sendiri. Siapa tau bapak mau sambil ngobrol sama teman-temannya," aku menunjuk ke arah teman-temannya yang sudah berjalan di depan. Lalu memberanikan diri untuk melirik ke arahnya, yang ternyata juga sedang menatapku dengan tatapan tajamnya.

Sial!
Kenapa dia ganteng banget sih,

"Jangan panggil saya, Pak, Liv. Ini lagi di luar, bukan di kantor. Lagian di sini saya bukan atasan kamu." Aku mengerjapkan mata kaget. Bukannya mengikuti saranku, beliau ini malah mengatakan hal lain. Bahkan tangannya dengan cepat menggeser tanganku, hingga sekarang koperku sudah terlihat aman di tangannya.

"Kamu panggil Jay abang, tapi panggil saya Bapak."

Lu juga manggil diri sendiri saya, si Bang Jay gue. Sungkan lah gue kalo manggil lu. Tentu saja aku tidak mengatakan itu lewat mulutku. Keberanianku hanya sebesar kecambah yang baru tumbuh, jadi aku menyimpan rapat-rapat ucapan itu di hati.

Sebagai gantinya, aku berujar. "Bang Jay udah temenan dari lama Pak sama abang saya. Jadi saya udah nggak sungkan kalau manggil dia abang."

Pak Gama terlihat tidak suka dengan jawabanku. Lalu tanpa menjawab, dia malah berjalan dan meninggalkanku. Untunglah aku cukup tanggap, jadi segera menyusul langkah kakinya yang jenjang sebelum tertinggal jauh.

"Beneran, Pak. Bukannya saya beda-bedain. Tapi kan saya udah kenal Bang jay dari lama, jadi udah akrab."

"Saya juga temen abang kamu, Liv."

"Hah?" aku langsung kaget dengan jawabannya. Memangnya siapa yang bilang dia bukan teman Bang Jeno? aku tahu dia temannya karena dia ada di sini, tapi kan aku baru tau sekarang. "Iya, Pak. Tapi kan saya baru tau,"

"Saya udah temenan lama sama Jeno, Liv. Bahkan sebelum Jay jadi temennya?"

Plot twist macam apa ini?
Kenapa tidak pernah ada dia di dalam ingatanku?
Temenan jalur apa dia dengan Bang Jeno?

Minis(try)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang