I Love You So Much

11.4K 605 14
                                        

Selamat berakhir pekan semua orang
Semoga hari libur kalian menyenangkan


"Tunggu sebentar ya," ujarnya sembari menepuk pelan ujung kepalaku.

Setelah rebahan dan bermalas-malasan hampir seharian, kami akhirnya keluar kamar. Itu pun setelah perutku keroncongan, dan berbunyi hingga membuatku malu setengah mati.

"Mas yakin udah bisa?" aku masih khawatir dengannya. Sementara yang dikhawatirkan, merasa sudah sehat dan bahkan menawarkan diri untuk membuat makanan.

"Aku bantuin ya," aku berniat berdiri dari kursi yang memang ada di dapur.  Namun belum sempat rencana terealisasikan, dia sudah menekan kedua pundakku pelan dan menahan ku untuk berdiri.

"Udah di sini aja."

"Mas beneran udah sehat," kali ini dia membawa salah satu telapak tanganku ke dahinya. "Udah gak panas kan?" tambahnya meyakinkan.

Dengan lemas aku akhirnya mengangguk. "Beneran gak mau dibantuin?" tawarku sekali lagi.

Mas Gama menggeleng, "Udah duduk manis aja."

Mau tidak mau, aku akhirnya hanya bisa mengikuti permintaannya. Meski begitu, mataku akan awas mengawasi, jaga-jaga jika dia kembali melemas.

Mas Gama tersenyum, lalu berjalan ke arah dapur untuk memulai aksinya.


***


Aku merebahkan kepala di atas meja. Menggunakan sebelah lengan sebagai bantalan, dengan pandangan yang masih lurus ke arah laki-laki yang sedang sibuk memotong berbagai sayuran. "Kenapa cuma potong sayur ototnya bisa keliatan gitu ya?" gumamku sangat pelan. "He's so fucking hot,"

"Kamu kenapa?" tanya Mas Gama bingung. Sebab saat menoleh ke arahku, malah menemukan ku sedang tertidur sebatas lengan.

"Lagi lemes, Mas. Lihat orang ganteng masak," jawabku setengah bercanda. Namun sebenarnya juga jujur, sebab sedari tadi pekerjaanku hanya mengagumi ketampanannya itu.

Mas Gama sedikit melebarkan matanya. Sepertinya tidak siap dengan sarangan tiba-tiba ini, apalagi posisinya sedang sibuk mengiris perbawangan.

Mas harus membiasakan diri ya?
Kayaknya abis ini Oliv bakalan semakin menggila
Soalnya pesona mas bener-bener bikin suka khilaf

"Menurut Mas, gimana penampilan bangun tidur Oliv?" berusaha mengembalikan atmosfer yang canggung dari ulahku sendiri, aku melempar pertanyaan. Namun sepertinya pertanyaan yang aku ajukan juga kurang tepat, sebab jawabannya akan sangat memengaruhi kondisi wajahku.

Ini namanya beralih sari satu situasi canggung ke situasi canggung yang lain, Liv.

Lagian kenapa itu mulut gak bisa dijaga sih?

"Cantik," jawab Mas Gama mengagetkan. Sebab aku tak menyangka jika dia menanggapi pertanyaan randomku itu.

Nah kan benar, sekarang pasti aku lagi blushing!

"Sama," jawabku. Menahan diri agar tidak tersenyum, sebab ingin memberikan kesan serius atas jawaban yang kuberikan barusan.

Mas Gama mengernyitkan dahi, seolah meminta penjelasan lebih dari apa yang aku katakan. "Menurut aku juga sama, Mas. Penampilan bangun tidurku memang selalu mempesona." Jelasku jumawa. Membuat Mas Gama dari tempatnya berdiri tertawa. Pasti heran bahwa pacarnya ini mempunyai tingkat self love yang sudah another level.

Sudahlah, sudah kepalang tanggung juga. Jadi aku memutuskan untuk menjadi perempuan yang tidak perlu menjada image lagi.

Aku akan tampil apa adanya, dan membuatnya semakin tergila-gila dengan Olivia Aritama yang cukup unik ini.

"Kamu kok bisa sepercaya diri ini?" sembari mengambil teflon dan meletakkannya di atas kompor, dia kembali mengajukan pertanyaan. Melirikku sekilas, lalu kembali fokus dengan berbagai kegiatan masaknya itu.

"Aku juga gatau, Mas. Emang udah dari sananya kayaknya,"

"Daripada nungguin orang yang memuji kita, mendingan aku aja yang muji diri sendiri." Lanjutku menambahkan. 

Pada dasarnya, aku memang senang self appreciated, self love affirmation, dan self-self  love yang lain. Aku bertanggung jawab atas diriku sendiri, dan aku tidak memerlukan validasi dari orang lain untuk membuatku bahagia.  

Mas Gama menyalakan kompor, lalu mengambil perbumbuan yang sebelumnya sudah disiapkan. "Bagus." Komentarnya.

"Manusia memang harus meletakkan kebahagiaannya pada diri sendiri. Bukan pada orang lain," dia menuangkan sedikit minyak ke atas teflon. "Kita adalah tuan dari diri kita, jadi jangan sampai kebahagiaan kita malah ditentukan orang lain. Ditentukan oleh bagaimana orang lain menilai kita."

Aku mengangguk. Setuju dengan jawabannya yang sejalan dengan prinsip hiduku.

Aku melihat Mas Gama yang semakin sibuk dengan masakan di hadapannya. Tak ingin melanjutkan obrolan serius ini karena sepertinya, akan sangat menganggu kegiatan memasaknya jika aku terus saja berbicara dan mengajaknya mengobrol.

"Aku minta camilan ya, Mas." Aku tau bahwa sejak aku sering main ke apartemennya, dia selalu menyetok makanan ringan untukku. Meski dia tak mengatakan itu untukku sih, tapi memang untuk siapa lagi? makanya aku sangat senang sekarang jika membuka kulkasnya. Ada banyak makanan yang tersedia, dan mostly adalah makanan favoritku semua.

I love you so much deh, Mas Gama Pradikta.


Minis(try)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang