We can learn anything from anything. You should not limit your self for a knowledge you can get anywhere.
***
"Dari mana?" aku yang baru saja masuk menoleh ke arah sumber suara.
"Jam balik kerja bukanya jam 4 sore? kok baru sampe rumah jam 10 malem?" Bang Jeno yang biasanya tidak peduli, mendadak jadi banyak tanya. Mungkin karena papa dan mama sedang tidak ada di rumah, makanya dia merasa punya tanggung jawab padaku.
Aku meletakan tas ke atas meja, dan menarik kursi yang paling dekat. "Tadi ada urusan dulu," jawabku singkat. Lalu mengambil segelas air putih yang memang sudah ada di depan mata, dan meneguknya.
"Minta dikit, Bang." Ujarku setelah berhasil mendinginkan kerongkongan.
Bang Jeno mencibir. "Dimana-mana minta tuh sebelumnya dek, bukan diminum dulu baru minta."
Aku hanya meringis. "Mie lo kelihatan enak, bang. Boleh cobain gak?"
Bang Jeno menggeser mie instan yang sedang dinikmatinya ke depanku. Meski kelihatan tak rela, dia tetap memberikannya kepada adik semata wayangnya ini.
"Lo balik sama siapa?" gerakan sumpitku yang sedang mengambil mie terhenti. Waduh, jawab apa nih?
"Gocar," Maafin gue Pak Pacar, bukan maksud nggak mengakui — ujarku dalam hati.
Bang Jeno mengangguk. Sepertinya tidak curiga dengan jawabanku. Toh di luar memang masih hujan, jadi jawaban yang aku lontarkan memang sangat masuk akal.
"Mama sama papa pergi berapa lama?"
Tadi siang, mama menginformasikan di grup keluarga bahwa beliau akan pergi ke luar kota untuk ikut perjalanan dinas papa. Namun yang aku tahu, tidak ada keterangan tentang berapa lama beliau ini akan pergi. Entah memang tidak ada, atau aku yang kelewat saat membaca.
Bang Jeno mengendikkan bahu. "Gak tau juga, nggak ada bilang tuh mama."
Ternyata memang tidak ada informasi seputar berapa lama kepergian sang nyonya rumah.
Aku mengangguk. "Bang," panggilku untuk yang ke dua kali. "Gue mau nanya sesuatu boleh gak?"
Bang Jeno mencomot martabak manis yang baru aku sadari keberadaannya. Sepertinya dia memang baru go food, karena selain martabak manis, ada juga martabak telur yang bertengger manis di atas meja. "Apa?" tanyanya sembari mengunyah.
"Pak Gama itu emang beneran temen lo sejak SMA?" sebisa mungkin pertanyaanku harus terlihat natural. Aku tak ingin dia menaruh curiga, karena aku yang biasanya cukup bodo amatan tiba-tiba bertanya.
Bang Jeno memicing curiga. Kan, apa aku bilang.
"Nggak ada apa-apa kok. Gue cuma penasaran sama obrolan di meja makan kemarin." Aku menggeser mangkuk mie yang sudah kandas. Aku memang mengatakan untuk menyicip, tapi akhirnya malah aku habiskan. Padahal sebelumnya aku sudah makan malam di tempat Pak Gama.
"Hmm,"
"Kok gue gak inget sih?" sebenarnya ini adalah pertanyaan yang aku ajukan untuk diri sendiri. Namun karena aku menggumamkannya cukup keras, sepertinya Bang Jeno bisa mendengarnya.
"Kan waktu dulu kenal lo masih bocil, masih SD."
"Tapi kok gue bisa inget Bang Jay?" tanyaku penasaran.
"Dulu pas lo udah agak gedean dikit, si Gama jadi jarang main ke sini. Makanya lo mungkin lupa sama dia."
Aku mengangguk mengerti. Sepertinya ini adalah fase kehidupan yang sama yang diceritakan Pak Gama, dimana dia sedang denial dari perasaannya dengan menjauhiku. Namun dalam proses itu, aku justru bertemu dengan Bang Jay yang tampan hingga melupakannya. Poor you, Pak Gama.
"Tapi kok kalian masih bisa deket, Bang?" aku menarik kotak martabak manis yang ada di hadapannya. Mungkin karena sedang datang bulan, aku jadi lebih banyak makan dibandingkan sebelumnya.
"Tumben lo banyak makan," tidak hanya aku, Bang Jeno ternyata juga menyadarinya.
"Gue lagi dapet tamu bulanan, Bang. Jadi napsu makan gue lagi baik." Bang Jeno mengangguk mengerti.
"Jadi kenapa?"
"Ya emang karena udah temenan lama. Kita kan udah temenan sejak SMA, terus kuliahnya juga bareng. Jadi jarang bisa ketemu pun kita masih bisa akrab," jelasnya singkat.
"Terus kalau sama temen-temen lo yang lain gimana? yang kemarin sempet liburan bareng."
"Ada beberapa yang baru-baru ini temenan, ada juga yang emang temennya temen gue."
"So far yang paling dekat ya sama Gama. Soalnya gue paling lama temenan sama dia."
"Kenapa nanya-nanya? tumben amat."
"Nggak papa, penasaran aja."
"Lo ngerasa ada yang aneh gak sama Gama?" aku tidak menyangka bahwa dia akan menanyakan pertanyaan itu.
"Aneh gimana?" tanyaku tak mengerti. Aku cukup bingung bagaimana definisi aneh yang dia maksudkan.
"Ya aneh. Misal kaya ngasih perhatian lebih ke loh atau apa kek," Bang Jeno terlihat bingung bagaimana menjelaskannya. Namun dari satu kalimatnya itu, aku tau betul apa yang sebenarnya dia maksudkan.
Mending jawab jujur atau nggak ya?
"Kalau aneh sih nggak ya, normal-normal aja." Aku mencoba memilih kata yang tepat agar tidak terjadi kesalahpahaman. "Tapi kalau ngasih perhatian, kayaknya iya deh."
"Tadinya gue kira gue aja yang belebihan. Tapi kata temen gue, Pak Gama emang keliatan kasih perhatian lebih ke gue daripada ke yang lain."
"Apa karena dia tau gue anaknya papa ya?" meski tau alasan sebenarnya, aku berpura-pura. Seolah tidak tahu motif Pak Gama melakukan hal tersebut. Selain agar tidak dicurigai, syukur-syukur aku juga mendapatkan informasi dari abangku ini.
"Lo nggak ngerasain apapun?" Bang Jeno terlihat penasaran. Pasti dia sedang mempertanyakan apakah aku tidak curiga dengan kelakuan temannya itu.
Please bang, adek lo gak sepolos itu loh.
Jangan lupa follow ya yang belum
Jangan lupa vote sama komen juga
KAMU SEDANG MEMBACA
Minis(try)
Chick-Lit"Akhirnya gue keterima magang, Bang!" Teriaku pada Bang Jeno, kakakku yang sampai sekarang belum bisa dibanggakan. Bang Jeno yang sedang bermain ponsel mendengkus, "Magang modal orang dalam aja bangga," "Ngakunya anti nepotisme, tapi mau magang aja...
