Begini Rasanya Berumah Tangga

7.2K 426 3
                                        

Setelah melakukan adegan dewasa yang tidak direncanakan, kali ini kami berdua duduk bersisian. Tidak ada yang saling bicara, hanya saling diam dengan pikirannya masing-masing.

"Mas, aku mau cerita." Belajar dari pengalaman sebelumnya, aku memutuskan untuk melakukan sesuatu. Meski suasana masih terasa canggung, aku memberanikan diri untuk memulai. Toh tidak mungkin kami akan terus diam-diaman, padahal hanya ada kami berdua yang ada di sini. Apalagi jika aku tidak mengatakannya sekarang, aku takut akan lupa seperti kejadian tempo hari.

Mas Gama menepuk pelan sofa yang ada di sebelahnya. Mengisyaratkan agar aku bergeser, sebab jarak duduk kami sekarang masih terbilang lumayan jauh.

"Di sini aja, Mas. Ntar kalau terlalu deket bahaya." Jawabku.

Kejadian ciuman tadi juga berawal dari kami yang duduk bersebelahan. Awalnya hanya nempel-nempel sedikit, tapi lama-lama ingin melakukan lebih. Bukan kah wajar karena manusia memiliki hawa nafsu? makanya lebih baik melakukan tindakan preventif.

"Yang tadi itu kelepasan," memang setelah berciuman, Mas Gama lah yang menjaga jarak. Dia meminta maaf juga atas kelakuannya, meski bukan sepenuhnya itu kesalahannya.

Intinya kejadian itu bukan kesalahan, tapi juga sebuah kesalahan. Bukan kesalahan karena tidak ada paksaan, kesalahan karena harusnya belum bisa kami lakukan sekarang karena hubungan yang belum terikat pernikahan. Tapi ini zaman modern? bukankah sudah normal?

"Jangan dibahas." Setiap kali membahasnya, pipiku pasti akan memerah. Tanpa bisa dikendalikan bayang-bayang itu muncul kembali dan membuatku menjadi salah tingkah.

Mas Gama tertawa. Tawa renyah yang  selalu menyenangkan untuk dilihat. "Malu ya?" bukannya mengikuti keinginanku, dia malah berbuat iseng. Dia sengaja meledekku dengan berkata seperti itu.

Ini Mas Gama kenapa jadi jahil? otaknya bergeser kah?

Aku menoleh ke arahnya dan mengerucutkan bibir. "Beneran, Mas. Oliv mau cerita."

"Jangan bahas yang itu dulu ya."

Menyadari ada keseriusan dari nada bicaraku, Mas Gama mengangguk. Dia bergeser duduk mendekat, yang tentu saja tidak bisa aku hindari karena sudah berada di ujung sofa. "Mas gak bakal ngapa-ngapain," ujarnya ketika menyadari ekspresi wajahku yang waspada.

Sebenarnya ini lucu, tapi aku memang merasa deg-degan saat dia menggeser duduknya.

"Ayo kalau mau cerita, Mas siap mendengarkan."

"Ini tentang Mas Hans."

"Senior Oliv yang kemarin gak sengaja ketemu pas lagi kerja sama temen-temennya mama." Aku menjelaskan siapa sosok Mas Hans yang akan aku ceritakan. Meski dia sudah stalk, aku tidak yakin bahwa dia ingat nama orang yang di stalking nya itu.

"Jangan dipotong dulu ya? biar Oliv ceritain dulu semuanya." Melihat responnya yang sudah siap menjawab, aku menghentikannya. Aku ingin menjelaskan cerita ini secara keseluruhan dulu agar tidak terjadi kesalahpahaman.

"Yang pertama, Oliv mau memperjelas kalau nggak ada hubungan sama dia. Kami gak sengaja ketemu di vila karena dia juga salah satu anak teman mama, juga orang yang ditunjuk buat jadi fotografer. Kaya Oliv." Aku memulai penjelasan ku dengan siapa itu sosok Mas Hans. Meski inti yang akan aku ceritakan adalah ajakannya untuk bergabung ke studinya, I should to make it clear first. Aku akan menjelaskan dengan detail soal dia agar tidak ada asumsi-asumsi yang berkembang di dalam pikirannya Mas Gama.

"Kami memang sempet ngobrol sebentar di sana, tapi bukan hal yang serius. Obrolan basa-basi biasa karena kebetulan kami satu kampus."

"Soal yang repost fotonya, aku minta maaf." Ujarku. "Oliv gak berpikir panjang waktu itu. Cuma karena foto pemandangannya estetik, jadi langsung klik bagikan. Gak ada maksud apa-apa."

Mas Gama mengangguk-angguk. Mengikuti permintaanku dengan tidak mengatakan apapun. "Pas ngobrol itu, Mas Hans sempet nawarin Oliv buat kerja di studionya. Dia udah punya studio foto sejak kuliah, dan udah lumayan terkenal." Aku mengambil ponsel di atas meja dan membuka Instagram. Menunjukkan padanya akun Instagram studio yang akan menjadi tempat kerjaku nanti — kalau jadi.

"Katanya studionya lagi lumayan rame, jadi dia lagi nyari tambahan fotografer." Lanjutku. "Dia sempet nawarin Oliv, Mas. Katanya emang lagi urgent needed karena banyak projek."

Aku meletakkan ponselku kembali, "Karena Oliv belum punya pekerjaan setelah lulus dan juga belum ada kesibukan, Oliv berpikir buat nerima tawarannya. Di kampus, kami sempet join di klub yang sama, jadi sedikit banyak dia udah tau ritme kerja dan juga kualitas hasil kerja Oliv."

"Makanya Oliv bisa nerima kalau tiba-tiba ditawarin kerja di sana. Menurut Mas gimana?" aku menoleh ke arahnya. Berniat untuk meminta pendapat karena aku akan memberikan hak penuh padanya untuk memutuskan.

"Kalau Mas gak setuju gimana?"

Aku mencoba tersenyum. "Oliv bakal tolak." Aku memang tertarik untuk bekerja di sana — makanya sudah mengiyakan. Namun jika Mas Gama tidak setuju maka aku akan menolak. Meminta maaf pada Mas Hans karena tidak jadi bergabung seperti yang aku katakan sebelumnya.

"Kamu pengen kerja di sana?"

"Dibilang pengen ya pengen, Mas. Tapi gak sepengen itu." Jawabku jujur. "Oliv emang belum memutuskan mau kerja apa ke depan, cuma dunia foto memang sangat menyenangkan."

Mas Gama mengangguk. "Kalau Mas izinin tapi maksimal satu tahun gimana?"

Aku mengangguk. "Deal," ini bukan berarti Mas Gama terlalu posesif, atau terlalu ikut campur dalam urusanku. Ini tak lain  karena dia mencintaiku. Aku yang memberinya hak untuk ikut memutuskan, tetapi dia tetap mempertimbangkan keinginanku. Bukankah ini sudah seperti latihan berumah tangga? istri punya keinginan, lalu mengkomunikasikannya pada suami yang merupakan kepala rumah tangga. Suami memutuskan, tetapi setelah persetujuan oleh istri yang akan menjalankan keputusan. 

Kalau kaya Oliv, udah kaya suami istri banget gak sih?
Selamat menjalankan ibadah puasa buat kalian yang menjalankan

Minis(try)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang