Pola menstruasi yang tidak normal bisa diakibatkan karena berbagai faktor — salah satunya yaitu stress. Banyak pikiran dapat mengakibatkan jadwal menstruasi bergeser, baik terlewat, tertunda, atau tidak teratur.
Pada umumnya, perempuan memiliki tanda-tanda tersendiri jika ingin mengalami menstruasi. Sehingga perubahan suasana hati maupun perubahan fisik yang tidak biasa, bisa diidentifikasi sebagai salah satu tanda-tanda bahwa masa periode akan segera tiba.
Aku merasakan sesuatu yang cair mengalir dari dalam bagian paha dalamku. Aku yang sedari tadi hanya rebahan karena tak bisa tidur, memutuskan untuk ke kamar mandi dan memastikan kecurigaanku. Dan benar saja, ada bercak merah yang tertinggal di bagian celana dalam. Mengkonfirmasi bahwa moodswing ku yang tidak normal itu adalah sebuah pertanda nyata bahwa aku mengalami haid.
Setelah selesai bersih-bersih, aku ke luar dari dalam kamar mandi. Mencoba mencari ponsel yang sepertinya aku tinggalkan di atas ranjang, lalu menarik kursi belajar karena rasa kantuk yang memang belum datang.
Mataku membola sempurna ketika mendapatkan satu pesan dari orang tidak terduga. Orang yang sebenarnya ingin aku hubungi, tetapi dengan egoku yang tinggi tentu aku tidak ingin menghubunginya, lebih dulu.
"Tidur, Oliv. Besok kamu masih harus ke kantor."
Tulisnya dalam pesan singkat yang dikirimkan.
Aku mengetikkan beberapa kalimat, lalu menghapusnya kembali karena merasa tidak boleh secepat ini dalam membalas pesan darinya. Padahal biasanya, aku tidak terlalu peduli dengan hal semacam ini. Jika sudah membaca dan ingin membalas, maka aku akan mengetikkan pesan balasan. Jika tak ingin membalas, ya aku diamkan saja pesan tersebut setelah centang dua biru.
Lalu kenapa kali ini berbeda? entah!
Belum juga pesan balasan yang sudah aku susun dikirim, satu pesan baru kembali masuk. "Saya pulang ke apartemen, jadi baru sampai."
"Kalau kamu tidak bisa tidur karena penasaran dengan apa yang saya bicarakan dengan papa kamu, besok saya akan ceritakan."
Aku langsung melempar ponsel yang ada di tangan. Pak Gama benar-benar seperti cenayang, karena tau apa yang sedari tadi mengganggu pikiranku hingga sulit menutup mata.
"Bapak serius?" jawabku cepat. Bahkan pesan yang sebelumnya itu langsung aku hapus, tanpa perlu repot mengirimkannya.
"Iya, tapi setelah jam pulang kantor."
"Saya bisa menunggu bapak di mana?" tulisku. Kelewat semangat sehingga tidak peduli bahwa aku harus menemuinya ketika jam kerjaku telah selesai.
"Apartemen saya."
"Alamat dan PINnya akan saya kirimkan ke kamu."
Otakku tiba-tiba berhenti berpikir. Ini Pak Gama laki-laki baik, kan?
"Jangan berpikiran yang aneh-aneh." Pesan barunya masuk ketika aku tak kunjung juga menjawab. Seolah tau bahwa aku sedang kaget karena lokasi pertemuan kami.
"Sepertinya besok saya tidak ke kantor, dan lokasi rapat saya terakhir lebih dekat ke apartemen."
"Apa gak bisa di tempat lain saja?" tanyaku.
Namun setelah beberapa menit menunggu, tak ada pesan balasan masuk darinya. Bahkan status pesanku masih berwarna abu, menandakan bahwa sang pemilik masih belum membacanya.
***
"Mas, bapak emang gak dateng ya hari ini?" aku yang baru selesai meeting dengan Mas Shua melemparkan pertanyaan. Pasalnya pesanku dari semalam belum ada kemajuan, sementara aku sudah terlampau penasaran dengan kelanjutan janji kami semalam.
Mas Shua yang sedang menumpuk beberapa file yang ada di depannya mendongak. "Gue gatau sih, Liv. Soalnya hari ini gak ada janji sama Bapak."
Aku mengangguk lesu. Ternyata orang yang paling aku harapkan untuk mendapatkan informasi, tidak memilikinya. "Kenapa?" tanyanya terlihat penasaran.
"Gue ada sedikit urusan sama beliau,"
Mas Shua memicing curiga. "Lo ada sesuatu ya sama bapak?"
Kontan aku kaget dengan pertanyaannya. Kenapa bisa-bisanya dia berujar seperti itu, "Nggak kok, Mas."
"Ada juga gapapa kali, Liv." responnya sembari tertawa. Lalu bangkit dari kursi dan merapikan posisi kursi bekas yang didudukinya itu.
Aku mengikuti apa yang dia lakukan, lalu beranjak untuk mensejajarinya ke luar ruangan. "Beneran, Mas. Gue gak bohong." Masih tak ingin meninggalkan kesalahpahaman, aku kembali berujar. Menjelaskan padanya bahwa tak ada hubungan apa-apa antara aku dan juga Pak Gama.
"Gue udah denger dari Budi, katanya kalian tinggal di komplek yang sama."
Langkahku terhenti. Waduh, apa Mas Shua udah tau banyak soal hubungan kami?
"Iya, Mas. Tapi masih agak jauh kok,"
Mas Shua mengangguk. "Gue kira tadinya lo bukan berasal dari keluarga begitu,"
Aku mengernyitkan dahi. "Maksudnya, Mas?"
Laki-laki di sebelahku ini terlihat menggaruk tengkuknya. "Sori banget ya," wajahnya terlihat tidak enak. "Gue kira lo dari keluarga middle to low. Soalnya dibandingin yang lain, lo keliatan paling biasa."
Ah, aku mengerti kenapa dia menunjukkan ekspresi seperti itu. Dia beranggapan bahwa aku berasal dari keluarga miskin.
Lalu kenapa?
Aku merasa tidak terganggu dengan anggapan orang tentang status sosial ekonomiku.
"Soalnya pas terakhir kali gue minta lo ikut dinas ke Bali, lo keliatan ragu-ragu gitu. Jadi gue kira karena masalah ekonomi." Jari telunjuk dan tengahnya bergerak, memberikan tanda kutip untuk menyempurnakan kalimat yang dia berikan.
Aku mengangguk. "Its okay, Mas."
Aku memang terbilang tidak suka menggunakan barang-barang high end. Aku cukup sederhana, dan sepertinya penampilanku juga tak menunjukkan bahwa aku adalah anak dari keluarga kaya. Jadi aku tidak masalah, jika orang berpikir bahwa aku berasal dari keluarga biasa saja. Toh tak ada pengaruhnya untukku.
"Back to topic, Mas. Lo beneran gatau bapak ngantor apa nggak hari ini?"
Lagi-lagi Mas Shua menggeleng. "Gatau, Liv. Cuma semalem pas gue ketemu Budi, dia bilang sih hari ini kegiatannya banyak di luar."
"Gue gak nanya, apa dia bakal ada waktu ke kantor atau nggak,"
Yah, sepertinya harapan terakhirku memang hanya menunggu pesan darinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Minis(try)
ChickLit"Akhirnya gue keterima magang, Bang!" Teriaku pada Bang Jeno, kakakku yang sampai sekarang belum bisa dibanggakan. Bang Jeno yang sedang bermain ponsel mendengkus, "Magang modal orang dalam aja bangga," "Ngakunya anti nepotisme, tapi mau magang aja...
