Sudah sepuluh menit sejak aku menatap penampilanku di depan cermin. Sebuah dress berwarna biru langit, berlengan panjang, dan berada di bawah betis sudah melekat apik di tubuh. Adapun rambut panjang ku yang biasanya digerai atau di kuncir kuda, kini sudah ku tata sedemikian rupa sehingga terlihat rapi dan juga eye catch.
"Cakep juga ternyata," aku menghabiskan dua jam hanya untuk bersiap. Mulai dari memilih gaun yang ingin dikenakan, tipe make up yang akan aku pakai, hingga sepatu jenis apa yang paling cocok untuk melengkapi penampilan.
Mas Gama kembali mengajakku untuk menemaninya kondangan. Kali ini sedikit berbeda, sebab dia memberi tahu lebih dulu sehingga aku bisa bersiap. Dia juga sudah memberitahukan di mana lokasi hotel yang akan digunakan mempelai, sehingga membantu keputusanku memilih outfit agar tidak salah.
"Nggak usah insecure, girl." Aku memberikan afirmasi positif pada diri sendiri. Mencoba untuk meningkatkan kepercayaan diri karena sebentar lagi akan bertemu dengan anggota circle nya yang pasti terlihat keren.
Aku meraih parfum dan menyemprotnya untuk yang kesekian kali. Mas Gama baru mengabari bahwa dia sudah dekat, dan aku memastikan bahwa penampilanku sudah cukup aman untuk bersanding dengannya.
"Halo, Mas." Sapaku pada laki-laki yang ada di seberang. Kebetulan rumah sedang tidak ada orang, jadi aku memintanya tidak usah masuk dan membiarkan aku saja yang ke luar.
"Udah di depan?" tanyaku memastikan.
Mendapatkan jawaban bahwa dia sudah stand by di halaman rumah, aku bergegas untuk meraih tas. Sekali lagi memastikan riasan di depan cermin, sebelum akhirnya berjalan sedikit cepat ke luar kamar.
Begitu pintu rumah terbuka, aku langsung menemukan sosoknya. Tampan seperti biasanya, tetapi malam ini terasa tiga kali lipat lebih tampannya. Menggunakan setelah formal dengan warna senada, dengan senyum manis yang terpatri di wajah.
"Sudah siap?" aroma wangi khas tubuh Mas Gama langsung tercium.
Aku mengangguk, lalu menyandarkan tubuh ke sisi pintu. Mengangkat tangan kananku dan meminta Mas Gama untuk menunggu. "Sebentar, Mas."
"Kamu kenapa?" tanyanya bingung.
Setelah berhasil mengatur mimik wajah, aku memandangnya dan meringis. "Syok, Mas. Lihat cowok ganteng di depan mata gini."
Mas Gama melebarkan matanya. Pasti tidak siap dengan serangan tiba-tiba yang aku lontarkan. Dia juga pasti tidak menyangka, bahwa pacar kecilnya sudah sangat mahir menggoda. Bahkan di situasi apa saja.
Mas Gama tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala. Sebuah respon yang sangat wajar untuk menanggapi kelakuanku yang agak lain ini. "Kamu bikin saya bingung tadi."
Aku hanya meringis. Sebab jika diingat, kelakuanku barusan memang sedikit alay.
"Gimana penampilanku, Mas? cantik gak?" aku bergaya bak layaknya seorang model. Menengok ke arah kanan, kiri, juga berputar agar dia bisa melihat penampilanku dari belakang. Benar-benar seperti perempuan pick me yang membutuhkan validasi dari orang lain.
Bukannya mengangguk mengiyakan, Mas Gama malah tertawa. Lalu menghentikan gerakanku yang sedang berputar dengan memegang ke dua lenganku. "Udah, nanti pusing."
Bibirku mengerucut, tetapi tetap menghentikan gerakan seperti keinginannya. "Oliv cantik gak hari ini?"
"Cantik," jawabnya singkat.
"Cantik banget, sampai Mas tadi sempet ngira yang ke luar dari rumah bidadari."
Ya ampun, gombalannya cringe khas om-om tapi kok gue deg-degan ya?
KAMU SEDANG MEMBACA
Minis(try)
Romanzi rosa / ChickLit"Akhirnya gue keterima magang, Bang!" Teriaku pada Bang Jeno, kakakku yang sampai sekarang belum bisa dibanggakan. Bang Jeno yang sedang bermain ponsel mendengkus, "Magang modal orang dalam aja bangga," "Ngakunya anti nepotisme, tapi mau magang aja...
