Sukses di usia muda tak selalu berkaitan dengan kebahagiaan. Pencapain-pencapaian yang tinggi selalu diiringi dengan kerja keras, dan juga waktu yang harus dicurahkan untuk berbagai pekerjaan yang entah kenapa selalu saja tersedia di depan mata.
Sukses di usia muda berarti menghabiskan sebagian waktu yang harusnya bisa digunakan untuk bersenang-senang untuk bekerja. Tidak selalu demikian, tapi biasanya hal ini terjadi di kasus sebagian besar orang.
To be honest, memasuki daftar nominasi Forbes under thirty adalah sebuah hal yang sebenarnya tidak begitu aku inginkan. Begitu juga dengan jabatan menjadi menteri pariwisata dan ekonomi kreatif beberapa tahun terakhir, ini juga tak sepenuhnya hasil dari keinginanku sendiri.
Beberapa masalah yang terjadi membuatku akhirnya memilih jalan politik. Tak selamanya berjuang harus turun ke lapangan dan mengkonfrontasi, karena dalam beberapa kasus jalur diskusi dan kerja sama politik bisa menjadi solusi. Bahkan berkali-kali lipat lebih efektif dibandingkan dengan demo besar-besaran di jalanan.
"Untuk supplai barang, pastikan untuk sebagian besarnya adalah produk hasil masyarakat lokal." Untuk mengembangkan ekomoni lokal dan kewirausahaan sosial melalui pengembangan pariwisata, jalan yang ditempuh tidak bisa sembarangan. Wisata bukan lagi untuk meraup keuntungan yang sebesar-besarnya, tetapi juga bagaimana untuk mensejahterakan masyarakat di sekitarnya. Melalui pemanfaatan sumberdaya lokal yang tersedia.
Misiku bukan hanya mengenalkan wisata alam ke mancanegara, tetapi bagaimana membuat masyarakat mandiri melalui keringatnya sendiri. Aku ingin setelah proyek pembangunan berakhir, mereka tetap bisa berdiri. Bisa terus berkembang, meski tak lagi mendapat dana sokongan dari pemerintahan.
Aku mengambil sebuah tab dari sahabat sekaligus PA ku ini. Lalu mengamati beberapa gambar yang tertera di layar, sebelum akhirnya kembali memberikan arahan kepada supervisor lapangan.
"Setelah ini ada agenda apa?" tanyaku setelah selesai melakukan pengecekan lapang. Meski jabatanku terbilang di atas, aku masih menyukai turun ke lapangan untuk memastikan sendiri bahwa proyek-proyek yang aku lakukan berjalan sesuai rencana.
Belum juga dijawab, suara getar ponsel di saku celana berhasil mengalihkan sedikit atensi. Dahiku mengernyit, tepat setelah melihat nama seseorang yang terpampang di layar. Tumben banget!
"Kenapa?" tanpa perlu repot menyapa, aku langsung menanyakan maksud dan tujuannya menghubungiku. Sejak sibuk dengan kegiatan masing-masing, Jeno sudah jarang sekali menghubungi apabila tidak ada urusan yang menurutnya penting — atau mendesak.
"Gue punya kabar baik dan buruk. Lo mau denger yang mana dulu?"
Aku mempersilahkan Budi untuk melanjutkan perjalanannya menuju mobil. Sepertinya obrolanku dengan bocah ini tidak bisa dikatakan sebentar, jadi aku memutuskan untuk membiarkannya menunggu di dalam kendaraan saja.
"Gam, are you still there?"
"Yes, I'm here."
"Want good or bad news first?"
"Both are definitely not as bad as I thought." Aku paling tidak suka jika harus bertele-tele seperti ini. Namun jika berkaitan dengan Jeno, aku memang harus menahannya karena dia malah akan semakin menjadi-jadi jika tau bahwa aku sudah merasa kesal. "Apa? cepetan, gue sibuk."
"Gaya lo, Gam." Cibirnya dari ujung telepon.
"Lo masih suka adek gue gak?" Gerakan kakiku yang sedang menendang-nendang kerikil terhenti. Pertanyaannya benar-benar tidak terduga, membuat jantungku tiba-tiba saja berdetak tidak biasa.
To be continue di karyakarsa yaaa
KAMU SEDANG MEMBACA
Minis(try)
ChickLit"Akhirnya gue keterima magang, Bang!" Teriaku pada Bang Jeno, kakakku yang sampai sekarang belum bisa dibanggakan. Bang Jeno yang sedang bermain ponsel mendengkus, "Magang modal orang dalam aja bangga," "Ngakunya anti nepotisme, tapi mau magang aja...
