Aku meraih jepit rambut dari atas kepala lalu menjepitnya dengan bibir. Selagi kedua tanganku sibuk mengumpulkan rambut, suara Mas Shua yang menyuruhku untuk berjalan lebih cepat sudah terdengar. Sembari berjalan mengikutinya, tanganku menyisir helai-helai yang masih tertinggal. Mengumpulkannya menjadi satu dan mengendurkannya sedikit, sebelum akhirnya mengikat dan membentuk sebuah cepol yang berada di sisi belakang kepala.
"Tungguin gue, Mas!" Mas Shua adalah tipe yang super humble. Makanya aku mudah akrab dengannya, hingga tak sungkan untuk memintanya menungguku sebentar.
"Ini ruangannya?" tanyaku saat kami sudah berada di depan sebuah ruangan. Terlihat berbeda dengan ruangan lain, baik secara fisik maupun vibes yang menyelimutinya.
Mas Shua mengangguk,"Lo udah tau kan Bapak kaya gimana?"
Aku mengangguk. Tidak memberikan informasi apapun selain anggukan. Apalagi sampai keterangan bahwa aku sudah pernah melihatnya, sedang mengobrol asyik di rumahku saat penampilan si pemilik rumah sedang seperti singa betina. "Orangnya galak gak, Mas?"
Masih menunggu pemilik yang tak kunjung membukakan pintu, aku mencoba menggali informasi dari Mas Shua. Dari dua kali pertemuanku, aku tidak bisa menilai seperti apa Pak Gama. Bagiku dia masih menjadi sosok misterius, meski wajahnya seringkali muncul diberbagai media.
"Deg-degan ya?" bukannya menjawab, Mas Shua malah meledek. "Nggak kok. Tapi orangnya memang nggak banyak ngomong juga," lanjutnya menambahkan.
Lagi-lagi aku mengangguk. Sebab tak ada hal lain yang terpikirkan olehku, selain menggerakan kepala atas informasi yang keluar dari mulutnya itu.
"Jo..." Bola mataku membesar. Cukup kaget dengan orang yang membukakan pintu. Bukankah ini orang yang gue temuin beberapa saat lalu?
"Ayo masuk, Liv." Kesadaranku kembali, tepat saat Mas Shua memintaku untuk mengikutinya ke dalam.
Semoga gak ada kejadia luar biasa yang bakal terjadi di dalam.
***
Aku memandang sekeliling ruangan. Bukan karena heran atau pun terlalu takjub, hanya sekedar mencari kesibukan karena tidak bisa masuk dalam obrolan Mas Shua dan Mas Budi - personal asistent Pak Gama yang kutemui di minimarket beberapa hari lalu.
"Masih lama emang meetingnya?" pertanyaan dari Mas Shua berhasil mengalihkan perhatianku. Diam-diam aku menoleh ke arah pemilik ruangan, yang masih terlihat sibuk menatap layar laptop yang ada di hadapannya.
"Harusnya sih nggak ya, Jo. Soalnya udah dari tadi juga."
Jujur awalnya aku kaget dengan interaksi keduanya. Aku tidak mengira bahwa mereka akan mengobrol sesantai itu, padahal lingkup kerja kami berada di pemerintahan.
"Lo kok bisa sesantai itu sih, Mas?" aku berbisik ke arah Mas Shua. Mumpung Mas Budi sedang pergi, aku memanfaatkan situasi ini untuk mencari jawaban atas rasa ingin tahuku. "Itungannya dia kan atasan lo juga, Mas." Suaraku masih kutahan agar tetap sepelan mungkin. Enggan mengganggu Pak Gama yang kali ini juga sedang berbicara dengan orang yang ada di tempat yang berbeda.
"Itu karena gue udah akrab sama dia. Udah sering kerja bareng, dan kadang juga hangout bareng juga. Gue sama Budi seumuran." Aku mengangguk mengerti.
"Kalo sama Pak Gama gimana?" tanyaku penasaran.
Mas Shua berdehem, "Nggak beda jauh sih, tapi kalo sama Bapak gue ngomongnya formal."
"Kenapa?" belum sempat Mas Shua menjawab, suara dari seseorang berhasil menginterupsi obrolan di antara kami.
"Kenapa Jo?" mataku mengerjap. Baru sadar bahwa orang yang ingin kami temui sudah selesai dengan urusannya, dan bahkan sudah duduk tepat di hadapan kami.
"Saya mau memberitahu Bapak terkait detail acara saat kunjungan, sekalian mengenalkan anak magang yang akan ikut saya di tim digital creative." Suara Mas Shua terdengar serius. Tidak seperti ketika mengobrol denganku, kali ini aku bisa merasakan bahwa dia menghormati orang yang sedang diajaknya bicara.
Aku membenarkan posisi duduk, tepat sebelum Pak Gama melirikku yang entah kenapa mendadak merasa dag dig dug ser. Kenapa nih?
"Liv, kenalan." Mas Shua menyengggol pelan lenganku.
Aku menoleh ke arahnya dan mengangguk. Lalu mengulas sebuah senyum sebelum akhirnya mengatakan, "Selamat siang, Pak. Perkenalkan saya Olivia, anak magang yang ditugaskan jadi anggota tim digital creative."
Jujur aku bingung ingin mengatakan apa. Dan hanya sederet kata itulah yang berhasil keluar dari mulutku.
Pak Gama mengangguk. "Cuma satu orang?" tanyanya pada Mas Shua.
"Tadinya berdua, Pak. Tapi karena ada sedikit masalah, jadi yang satu di oper ke divisi lain."
"Nanti saya juga ikut handle kaya biasanya, Pak. Jadi nanti Oliv bagi tugas sama saya."
Lagi-lagi Pak Gema mengangguk. Sementara aku masih betah dengan keterdiaman, sebab juga tak tahu ingin mnegutarakan apa. Kira-kira Pak Gema inget nggak ya sama gue?
Lama banget gak update ya
Kangen gak?
KAMU SEDANG MEMBACA
Minis(try)
ChickLit"Akhirnya gue keterima magang, Bang!" Teriaku pada Bang Jeno, kakakku yang sampai sekarang belum bisa dibanggakan. Bang Jeno yang sedang bermain ponsel mendengkus, "Magang modal orang dalam aja bangga," "Ngakunya anti nepotisme, tapi mau magang aja...
