Setelah tinggal bersama dan mengamati Mas Gama dalam waktu yang cukup lama, aku menyadari bahwa side profil-nya benar-benar sempurna. Rahangnya terlihat tegas, sementara hidungnya juga terpahat sempurna. Tidak pesek dan juga tidak mancung. Membuatku sangat betah melihatnya yang kini sedang bekerja tepat di sisi ranjang di sebelahku.
"Tidur, Ay. Udah malem." Perintah yang dibarengi dengan elusan di pipiku membuatku mengerjap. Aku tidak sadar kapan dia menoleh ke arah ku, sebab yang aku ingat dia masih sibuk dengan layar Ipad yang ada di tangannya.
"Kenapa belum tidur? Mas ganggu kamu ya?" tanyanya tidak enak. Kebetulan aku memang sudah sikat gigi dan memakai skincare, jadi satu-satunya hal yang seharusnya aku lakukan adalah tidur.
Aku menggeleng. "Nggak kok, Mas. Aku cuma lagi mengagumi suamiku yang super ganteng ini."
Mas Gama tersenyum. "Bisa aja ya gombalnya," responnya sembari menoel pipiku. Gue yang gombalin, kenapa gue juga yang salting?
"Diajarin siapa hm?" Mas Gama yang tadinya bersandar di kepala ranjang, kini meletakkan Ipadnya di meja sebelah ranjang. Kemudian dia merebahkan tubuh sepenuhnya, dan mensejajarkan diri denganku yang sudah lebih dulu rebahan.
"Bukan gombal, Mas. Emang fakta ini."
Mas Gama menarik pinggangku mendekat. Kemudian saat tubuh kami akhirnya saling menempel, dia memeluk. "Hari ini kamu udah selesai?"
Meski pertanyaannya tidak begitu lengkap, aku tahu kemana arah pembicaraannya. Kata 'selesai' yang dia gunakan pasti merujuk pada tamu bulanan yang sedang aku alami. Jika tidak salah menebak, dia pasti melihat rambutku yang tadi sore basah, yang menandakan bahwa aku baru saja keramas. "Hmm,"
Mendengar penuturan ku, Mas Gama semakin mengeratkan pelukan. Kemudian kepalanya sedikit menunduk, dan mengecup pelan bibirku. Sebuah pergerakan yang aku terima dengan baik, sebab aku juga merindukan aktivitas panas kami yang sudah libur beberapa hari.
Ciuman Mas Gama yang awalnya hanya lumatan lembut berubah menjadi semakin liar. Lidahnya pun ikut bergerak, mengabsen satu persatu gigi yang ada di dalam mulutku. Menimbulkan kesan erotis yang berhasil membuatku kewalahan mengimbangi cumbuannya.
"Nghh ...mphhh," lenguhku. Aku bahkan sudah memejamkan mata, sebab ciuman yang diberikannya itu semakin memabukkan.
Merasakan udara di sekitarku yang semakin menipis, aku menepuk dada Mas Gama sedikit keras. Memberikan kode padanya agar menghentikan ciumannya sebentar karena aku sudah kekurangan pasokan oksigen. "Hahh... hah... " Aku menghirup napas banyak-banyak saat Mas Gama akhirnya melepaskan ciumannya. Kemudian dengan mengumpulkan keberanian, aku menatap matanya yang kini telah terselimuti oleh kabut gairah. Alamak! Udah pasti gak selamat nih gue.
Mas Gama tiba-tiba melakukan gerakan tak terduga. Dia mengukung tubuhku, kemudian berujar. "Ay, I want you," dengan nakalnya, Mas Gama mulai melakukan gerakan seduktif. Mulutnya mulai menjilati leherku, yang dia tahu betul bahwa di sanalah tempat paling sensitif bagiku. Aku belum mengiyakan, tetapi dia bahkan sudah menyesapnya hingga menimbulkan bercak kemerahan. "May I, Ay?" lanjutnya di sela-sela kegiatannya.
"Kalau aku bilang gak, emang kamu masih bisa berhenti, Mas?" sekuat tenaga, aku menahan desahan yang ingin ke luar. Meski terkesan sedang meminta izin, sebenarnya dia tidak benar-benar membutuhkannya. Buktinya dia terus bergerak, padahal belum ada izin yang aku berikan padanya.
To be continueeee ....
KAMU SEDANG MEMBACA
Minis(try)
ChickLit"Akhirnya gue keterima magang, Bang!" Teriaku pada Bang Jeno, kakakku yang sampai sekarang belum bisa dibanggakan. Bang Jeno yang sedang bermain ponsel mendengkus, "Magang modal orang dalam aja bangga," "Ngakunya anti nepotisme, tapi mau magang aja...
