Mas Gama meletakkan segelas air di depanku. Kemudian dia membuka kulkas dan mengambil beberapa camilan yang memang dengan sengaja disediakan untukku. Si Olivia yang suka makan.
"Gimana hari pertama kerja?" dia meletakan beberapa jenis snack di depanku, lalu menanyakan bagaimana kondisi pekerjaanku. Memang dengan sengaja Mas Gama pulang cepat, sebab ingin menjemput ku pulang. Namun akhirnya justru membawaku pulang ke apartemennya ini.
"So so lah, Mas." Jawabku kurang bersemangat.
Pada dasarnya, aku memang introvert. Sedikit tertutup pada orang lain, apalagi orang baru yang belum lama dikenal. Namun begitu, aku tidak pernah punya masalah dalam hal bersosialisasi. Aku mudah menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan orang baru. Namun jika yang menjadi masalah adalah subjeknya — which is orang barunya, maka aku tidak bisa berbuat apa-apa.
Aku bukan orang baik, tentu saja. Jadi jika aku sudah mencoba mengakrabkan diri dan respon orang tersebut kurang baik, maka aku memilih mundur. Toh kenapa harus memaksakan orang yang memang tidak ingin berteman? padahal tidak ada keuntungannya sama sekali.
"Kenapa? ada yang gak kamu suka?" dia menarik kursi dan mendudukinya. Membuat kami menjadi berhadapan karena kursi yang dipilihnya berada di seberang.
"Aman-aman aja sih sebenernya, Mas." Aku membuka keripik singkong dari merek Kusuka. Aku cukup menyukainya karena mereka memiliki beberapa rasa, dan semuanya terasa gurih di lidah. "Ada satu mbak-mbak gitu, kayanya gak terlalu suka sama aku."
Aku mengingat bagaimana hari pertamaku kerja. Diawali dengan perkenalan dan berkeliling melihat kantor, lalu kemudian ditugaskan membantu siapa pun yang butuh bantuan karena belum diberikan tugas spesifik. Kami — aku dan juga Alvin dan Dion yang sama-sama merupakan anak baru hanya diberi tugas untuk mengamati. Bagaimana work flow kerja orang-orangnya, jam berapa istirahatnya, apa yang harus dilakukan ketika ada klien, dan sebagainya. Terdengar sangat umum dan mudah, tetapi menjadi berubah ketika ada senior yang tidak menyukai keberadaan kita.
"Mau cerita?"
Aku menggeleng. "Saat ini belum sih, gak terlalu mengganggu juga." Si mbak-mbak sok senior ini memang keberadaannya belum terlalu mengganggu. Dia hanya bersikap cuek dan sedikit jutek, jadi aku belum ingin memperbesarnya. Apalagi sampai ikut membebankan pikiran Mas Gama.
"Yakin?" aku mengangguk.
"Masih bisa Oliv handle kok, Mas. Aman." Jawabku meyakinkan. Membuatnya mengangguk dan tidak mempermasalahkan kembali kejadian yang sempat aku mention itu.
"Pindah ke ruang tamu yuk, Mas! Pengen di duduk di sofa yang empuk ..." ajak ku sedikit manja. Selain karena alasan yang aku sebutkan, aku juga ingin bermodus-modusan ria dengannya. Bukankah lebih menyenangkan duduk dempet-dempetan di sofa dibandingkan duduk berhadapan di meja makan?
"Jangan makan sambil tiduran." Seolah tau dengan jalan pikiranku, Mas Gama langsung mencegah apa yang ingin aku lakukan. Padahal aku sudah membayangkan betapa menyenangkannya tidur di pangkuannya sembari menikmati seplastik keripik singkong rasa lada hitam. "Kalau mau tiduran makannya berhenti dulu, atau kalau masih pengen makan rebahannya yang ditunda."
Aku menimbang dua pilihan tersebut. Mana yang sekiranya lebih baik, lebih menguntungkan, dan juga tidak akan memberikan rasa penyesalan. "Rebahan aja, deh." Pada akhirnya aku memilih pilihan pertama. Makan masih bisa dilakukan di rumah, tetapi rebahan beralaskan pahanya tidak akan bisa aku lakukan di kediaman Aditama.
"Mau tiduran di paha kamu ya, Mas." Sebelum dia kembali mengatakan sesuatu, aku berujar. Tidak ingin bahwa niatku digagalkan olehnya.
"Sini!" Senyumku merekah. Dia tidak menolak permintaanku, dan langsung duduk di sisi ujung sofa agar aku bisa rebahan di pangkuannya.
Aku langsung meletakkan camilan yang ada di tangan. Mengelap tangan sebentar menggunakan tisu, lalu memposisikan diri dengan menempelkan kepalaku di pahanya.
"Mas," panggilku. Membuat Mas Gama yang sedang menonton siaran televisi di hadapan kami menunduk.
"Kenapa?" tanyanya. Sembari mengelus pelan rambutku. Untung tadi pagi gue keramas.
"Mas pengen punya anak laki-laki apa perempuan?" entah kenapa, pertanyaan random terlintas di pikiranku. Mumpung tidak ada obrolan juga, maka aku putuskan untuk mengutarakannya.
"Kenapa tiba-tiba?"
Aku meringis. "Gapapa. Emang tiba-tiba kepikiran aja."
Mas Gama menatap lurus ke arah dua mataku. "Mau laki-laki atau perempuan, Mas gak masalah. Tapi kalau boleh jujur, Mas selalu pengen punya anak perempuan."
"Kenapa?" aku cukup heran dengannya. Di negeri yang patriarki masih dijunjung tinggi ini, kebanyakan orang masih sering mengharapkan anak laki-laki. Namun uniknya, Mas Gama malah tidak seperti itu.
"Gak ada alasan khusus sih. Mas cuma pengen kamu ada temen curhatnya." Dia menjeda kalimatnya sebentar. "Kalau punya anak perempuan, kamu kan jadi punya temen belanja, temen nonton drama, juga temen berbagi ketika ada hal yang bikin kamu kepikiran."
Singkat, jelas, dan membuatku terharu. Bagaimana mungkin dia sampai berpikiran seperti itu? memiliki anak perempuan agar aku memiliki teman cerita?
Kamu secinta itu sama aku ya, Mas?
KAMU SEDANG MEMBACA
Minis(try)
Literatura Feminina"Akhirnya gue keterima magang, Bang!" Teriaku pada Bang Jeno, kakakku yang sampai sekarang belum bisa dibanggakan. Bang Jeno yang sedang bermain ponsel mendengkus, "Magang modal orang dalam aja bangga," "Ngakunya anti nepotisme, tapi mau magang aja...
