"Mas, tadi ngobrolin apa aja sama papa?" tanyaku sembari menggerakkan kaki di dalam air. Kebetulan kami memang memilih duduk di tepi kolam, dengan ke dua kaki yang terendam di dalamnya.
Berbeda denganku yang pecicilan, ke dua kakinya justru diam. Tidak digerak-gerakannya seperti yang aku lakukan. "Masalah kerjaan aja," jawabnya.
Aku mengangguk menanggapi. Sepertinya aku yang terlalu khawatir saja, karena ucapan yang dikatakan Bang Jeno sebelumnya. "Oliv boleh nanya nggak, Mas?"
Mas Gama menoleh ke arahku. "Boleh,"
"Kenapa?" lanjutnya menambahkan.
"Mas target menikah di umur berapa?" tanyaku langsung. Selain karena penasaran, aku juga ingin membuktikan apa yang dikatakan oleh abangku itu.
"Nggak ada target khusus. Tapi makin cepet makin bagus." Jawabnya sembari menatap lurus ke arahku. Membuat ku yang ditatapnya blank, karena ketampanannya yang bersentuhan dengan sinar matahari membuatnya benar-benar bersinar.
"Tapi gak tahun ini kan?" tanyaku hati-hati.
"Kalau kamu udah siap, Mas oke kalau mau tahun ini." Jawabnya tanpa beban sama sekali. Seolah pembicaraan ini adalah hal yang ringan, padahal berkaitan dengan masa depan.
"Mas ..." Bibirku mengerucut kesal. Membuatnya tertawa, lalu mengacak pelan rambutku.
"Mas bercanda ...."
"Tapi Mas jujur kok. Mas memang nggak punya target waktu buat menikah,"
Mas Gama memegang kedua bahuku. "Mas tahu kamu belum siap. Mas juga tahu kalau masih banyak hal yang ingin kamu lihat dan rasakan. Mas nggak akan batasi, dan Mas akan selalu support sama apa yang ingin kamu lakukan."
"Tapi kalau kamu mau dan nggak keberatan, Mas pengen selalu ada di setiap proses dalam hidup kamu. Mas pengen selalu membersamai kamu di setiap momen berharga. Makanya Mas berencana buat bawa hubungan kita ke arah yang lebih serius setelah kamu lulus nanti."
Kali ini mataku berkedip-kedip tidak jelas. Ternyata Bang Jeno berbicara jujur, bahwa pacarku memang sudah ngebet untuk menikah. Bagaimana ini?
"Ini Mas lagi bercanda atau serius?"
"Kelihatannya gimana?" tanyanya sembari menaik turunkan alis. Entah meledek atau bagaimana, sebab belakangan ini dia memang sedang aktif-aktifnya menjahili aku. Seperti bukan seorang Gama Pradikta yang aku kenal sebelumnya.
"Mas serius," dia menjawab sendiri apa yang ditanyakannya.
"Tapi Mas nggak akan maksa kamu, Liv. Jadi nggak usah kepikiran." Ujarnya menenangkan. "Mas cuma pengen sharing aja, karena kebetulan kamu nanyain soal hal itu."
"Kalau tahun depan emang nggak kecepatan, Mas? papa aja belum tau soal hubungan kita." Bukannya memilih topik pembicaraan yang lain, aku justru mendalami topik yang sangat tidak main-main ini.
"Mas udah kasih tau,"
"Hah?"
"Mas mau bikin pengakuan," tiba-tiba Mas Gama terlihat serius. "Mas mau minta maaf karena udah nggak nurutin mau kamu buat backstreet."
Maksudnya gimana? aku gagal paham!
"Sebelum ngajak kamu pacaran, Mas udah minta izin dulu ke om dan tante."
"Mas udah bilang kalau mas tertarik sama kamu, dan pengen serius menjalin hubungan sama kamu."
"Sebelum Mas ngasih tau aku?" tanyaku sembari menunjuk diri sendiri. Pasalnya ini sangat aneh, sebab jika dia meminta izin sebelum mengatakan pada orang yang bersangkutan, bukankah akan memalukan jika ternyata aku menolak berhubungan dengannya?
"Iya,"
"Kok bisa? kalau misal udah dikasih izin terus akunya nolak gimana? apa Mas nggak malu?"
"Mas orangnya percaya diri," sekarang aku tau kenapa Mas Gama bisa berteman dengan Bang Jeno. Mereka sama-sama memiliki tingkat percaya diri yang sudah another level.
"Oliv serius, Mas."
"Mas juga serius," wajahnya sangat lempeng ketika mengatakannya.
"Jadi papa mama udah tau hubungan kita?" dia mengangguk.
"Kalau Bang Jeno?" aku teringat bagaimana kami akhirnya ke gap di apartemennya.
Mas Gama menggeleng. "Belum,"
"Dia emang baru tau pas kemarin itu,"
Kali ini aku mengangguk. Sepertinya hanya orang tuaku saja yang sudah tau. Lalu kenapa mereka tidak pernah membahasnya sama sekali? kenapa ya?
"Aku belum siap nikah," aku menggigit bibirku pelan. Aku takut mengatakannya, tetapi aku harus segera mengatakannya. "Oliv belum kepikiran ke arah sana, Mas." Kali ini aku tidak berani menatapnya. Aku takut dia marah padaku.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Tidak ada suara.
Dengan hati-hati aku memberanikan diri mendongak. "Mas marah?" tanyaku. Sebab dia belum juga mengatakan apapun pasca aku mengatakan belum siap menikah.
Mas Gama tersenyum. "Nggak sayang,"
Blush!
Pipiku pasti merona. Kenapa sih dia malah manggil aku sayang?
"Terus kenapa diam?"
"Mas pikir kamu belum selesai ngomong," lanjutnya menjelaskan. "Udah?" aku mengangguk.
"Gini...." Mas Gama terlihat menarik napas. "Mas gak papa kalau kamu belum siap menikah."
"Seperti yang mas bilang sebelumnya, kamu masih muda. Masih punya banyak hal yang ingin kamu wujudkan. Mungkin masih banyak juga mimpi yang ingin kamu kejar."
"Mas juga nggak mau jadi orang pemaksa, Liv. Makanya mas juga nggak pernah ngobrolin soal masalah ini, karena takut bikin kamu nggak nyaman."
"Tapi kamu tadi nanya kan?" aku mengangguk. "Mas cuma mau kasih tau isi hati, Mas."
"Hubungan itu kan dijalanin berdua. Mas tidak akan pernah memaksakan keinginan."
"Jadi Mas gak papa kalau nikahnya nanti dulu?"
Mas Gama tertawa. "Iya, gapapa. "
"Asal sama kamu, Mas bisa nunggu sampai kapan pun."
KAMU SEDANG MEMBACA
Minis(try)
ChickLit"Akhirnya gue keterima magang, Bang!" Teriaku pada Bang Jeno, kakakku yang sampai sekarang belum bisa dibanggakan. Bang Jeno yang sedang bermain ponsel mendengkus, "Magang modal orang dalam aja bangga," "Ngakunya anti nepotisme, tapi mau magang aja...
