Pink Blush

11.8K 810 32
                                        

"Saya nggak pede, Pak." Tepat saat memasuki ballroom sebuah hotel, aku berbisik pelan pada laki-laki yang ada di sebelahku.

Dengan pakaian batik couple, keberadaan kami berdua tidak luput dari perhatian beberapa orang. Meski tak sebanyak saat-saat adegan di sebuah drama, tetapi aku tetap menyadari bahwa ada beberapa pasang mata yang terang-terangan menoleh ke arah kami. "Dandanan saya aneh ya?" sempat melirik seorang perempuan berbisik pada temannya setelah memerhatikan kami, aku langsung over thinking bahwa dia sedang mengomentari penampilan. Hal ini karena Pak Gama terlihat tampan paripurna, jadi satu-satunya orang yang mungkin terlihat aneh adalah diriku sendiri.

Pak Gama menunduk, lalu berbisik pelan di telingaku. "Mereka liatin kamu karena kamu cantik banget."

Blush,
Sepertinya aku sudah tidak membutuhkan blush on lagi.

Kontan, aku kembali mengalihkan pandangan ke depan. Jika dilihat dari kacamata orang ketiga, pasti aku dan Pak Gama akan terlihat sebagai pasangan. Dengan baju sama di sebuah acara pernikahan, sudah dipastikan tidak akan ada yang mengira bahwa hubungan kami adalah atasan dan bawahan.

"Temen bapak mempelai laki-laki apa perempuan?" untuk menghindari perasaan tidak nyaman, aku membuka obrolan. Sebelum nantinya bertemu dengan pemilik acara, aku mencoba mengorek informasi tentang siapa yang merupakan koleganya.

Selain untuk menghindari obrolan yang membahayakan kerja jantungku, aku juga tak ingin menambah pikiran burukku karena over thinking yang tidak jelas ini.

Dia-diam aku mengambil napas dan menghembuskannya secara perlahan. Aku juga menggesek-gesekkan tanganku ke sisi baju untuk mengurangi perasaan kekhawatiran ini.

Kamu berjalan menuju panggung untuk memberikan ucapan selamat. Katanya lebih baik menemui kedua mempelai dulu, sebelum nantinya mengobrol sebentar dengan teman-teman lama.

Jantungku seolah berhenti berdetak, tepat ketika Pak Gama merangkul bahu kananku hingga tubuhku mendekat ke arahnya. "Hati-hati," ujarnya tiba-tiba. Ternyata ada seorang anak kecil yang berlari dari arah belakang kami, dana sepertinya dia menyadari tepat sebelum si anak menabrak.

Kenapa ini? kenapa harus ada adegan seperti di drama?
Apa akhirnya aku akan menjadi tokon utama wanita seperti yang biasanya aku tonton?

"Makasih, Pak." Ujarku sedikit canggung. Namun sebisa mungkin mengontrol nada bicaraku agar tidak terdengar aneh di telinganya.

"Bisa gak nanti kamu panggil saya, Mas?" jawabnya. Sedikit berbisik di teliga, hingga membuatku merinding seketika.

Hah?

"Maksud saya, biar nanti saya gak diledekin teman-teman saya kalau sudah tua." Lanjutnya sembari tersenym. Senyum yang kusadari semakin menawan setelah dilihat dari jarak sedekat ini. Tahan Liv, tahan. Jangan diterkam!

Aku mengangguk. Meski sedikit kecewa karena tadinya cukup senang akibat mengira dia ingin terlihat hubungan kami terlihat seperti pasangan. Meski nyatanya justru malah karena tak ingin dianggap tua. Berharap apa lo, Liv!

"Di depan mempelai aja, kan, Pak?" aku bertanya untuk memastikan. Takut jika tidak diperjelas aku menjadi terlalu nyaman, padahal dari sisinya sendiri tidak nyaman dipanggil seperti itu.

"Kalau bisa sepanjang acara," ujarnya masih terlihat biasa. Ekspresinya terlampau datar sehingga aku tak bisa menebak apa yang sesungguhnya dia rasakan.

Mama, mau meleleh, ma!!

***

"Selamat, bro." Ternyata Pak Gama bisa bersikap santai juga jika bersama temannya. Persis seperti saat dia bertemu dengan Pak Elang saat di Bali dahulu. Juga saat bersama teman-temannya ketika kami berdua berlibur di Pulau Komodo.

"Selamat mba, mas," aku tidak tahu harus menggunakan kata ganti apa untuk dua orang yang sedang berbahagia ini. Namun mengingat fakta bahwa mempelai laki-laki adalah teman Pak Gama, maka aku memutuskan untuk memanggil keduanya dengan sebutan Mas dan Mbak. Meski sepertinya mempelainya lebih muda, dan mungkin tidak jauh berbeda umurnya denganku.

"Wah, akhirnya ya lo bawa gandengan," Sindir si mempelai laki-laki. "Anak-anak pasti heboh kalo lo dateng ke sini bawa cewek," Dia berujar pelan, tetapi telingaku yang mendadak sensitif tetap mendengarnya.

Pak Gama tertawa.

"Jadi ini yang selama ini bikin lo betah sendiri?"
Antrian di belakang kami masih ada, tapi dua orang ini malah asyik berbicara. Sepertinya aku harus mengingatkan, tetapi lidahku masih cukup kelu untuk memanggilnya dengan sebutan 'Mas'.

"Doain aja ya," jawab Mas Gama sembari tersenyum. Terlihat nyaman meski mendapatkan respon seperti itu.

Apanih maksudnya?

Perempuan di belakangku sudah selesai mengucapakan selamat. Menandakan bahwa kami berdua juga harus segera turun agar tidak mendapat tatapan maut dari orang-orang yang masih mengantri di belakang.

Ini adalah pernikahan mewah, dan aku tak ingin terlihat masalah dengan orang-orang kaya. "Mas," dengan menekan segala gengsi, aku akhirnya mengucap satu kata itu. Tidak keras, tapi sanggup membuat obrolan di depanku ini terhenti.

"Kita harus turun dulu, Mas. Masih ada antrian di belakang," bisikku melanjutkan.

Pak Gama tiba-tiba tersenyum. Senyum yang sangat cerah seperti matahari, yang meningkatkan kadar ketampanannya berkali-kali lipat.

Waduh, dia kena pelet sama panggilan 'Mas' kah?
Kenapa hari ini dia sering banget senyum?
Sedang merasa bahagia kah?

Minis(try)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang