Melihat teman gagal itu sedih, tapi melihat teman berhasil ternyata berkali-kali lipat lebih sedih
- Olivia -
"Liv, please akhirnya gue keterima magang!" Shenina berteriak, padahal dia hanya duduk berjarak beberapa jengkal denganku.
Aku yang sedang asyik menonton drama korea berjudul Dr. Cha menoleh. Menjeda scene yang sedang berputar, lalu memberikan seluruh atensiku untuknya. "Seriusan?" ujarku tak percaya dengan kata-katanya. Jujur dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku berharap bahwa yang barusan itu aku salah dengar.
"Gue keterima magang!"
Shit!
Di antara circle kami yang berjumlah tujuh orang, tinggal aku dan Shenina yang belum menemukan tempat magang. Meski setiap lowongan intern kami apply - bahkan yang tidak relevan dengan jurusan kami sekali pun, aku dan dia tidak pernah mendapat panggilan.
Lalu apa ini?
Saat hanya dia yang bisa aku harapkan ketika merasa insecure dan overthinking, dia malah sudah menemukan tempat magang dan meninggalkanku sendirian?
Ya Allah, apakah aku harus senang atau sedih?
"Serius, Liv. Lihat nih!" Responnya sembari menunjukkan layar ponsel bertanda apel tergigit itu di depan mukaku. "Congratulations tuh awalannya .... "
"Akhirnya setelah ribuan lamaran gue kirim, gue keterima magang juga." Nada bicaranya menggebu-gebu, khas orang yang sedang bersemangat - atau mungkin juga bahagia.
Meski belum jelas apa yang sedang aku rasakan, aku mencoba untuk menata ekspresi. Enggan bersikap egois, lalu memilih untuk tersenyum atas kabar bahagia yang menimpa salah satu sahabatku. Mengucapkan selamat padanya, lalu memberi semangat pada diriku yang kini resmi menjadi satu-satunya orang yang belum diterima magang di circle kami.
"Makasih banyak ya, Liv...." Nana - begitu kami memanggil Shenina secara singkat, kini menarik ku ke pelukannya. Meski merasa amat sedih, aku tetap membalas pelukan hangatnya itu.
"Na..." panggilku saat dia tak kunjung melepaskan pelukan kami. "Lepasin dong, gue sesek."
Shenina langsung mengikuti ucapanku. Lalu terkekeh pelan saat melihat ekspresiku yang seolah-olah mau pingsan akibat perbuatannya. "Lebay lo..."
"Gue sedih ini," tak biasa memendam rahasia, aku memutuskan untuk mengungkapkan apa yang aku rasakan. "Gue bukannya gak bahagia ya atas magang lo. Gue mendadak sedih aja karena berarti cuma tinggal gue doang yang belum dapet tempat magang."
Belum juga dia merespon, aku kembali melanjutkan. "Gue kayaknya gak jadi nginep di tempat lo, deh."
Aku yang sangat peduli dengan kesehatan mental langsung membuat keputusan. Aku tidak jadi menginap di kosannya karena harus menenangkan diri - sekaligus mencoba menerima fakta yang sebentar lagi harus ku hadapi.
Nana menautkan dahi, juga memicingkan mata. "Kenapa? ini udah jam sebelas lewat loh..." Sepertinya dia juga belum menemukan kata yang tepat untuk menghibur kegalauan yang baru aku utarakan. Makanya lebih memilih untuk merespon perkataan terakhir, perihal aku yang tak jadi menginap di tempatnya.
Rasanya aku ingin berteriak di depannya. Namun karena aku masih waras, tentu saja hal gila dalam pikiranku itu tidak akan pernah aku wujudkan.
"Bang Jeno tadi chat gue. Katanya dia lagi main ke Bogor dan mau ketemu." Dengan cepat, otakku langsung mencari alasan yang masuk akal. Memanfaatkan abang semata wayang ku yang sering direbutkan oleh sahabat-sahabatku karena tampangnya yang bisa dibilang lumayan.
"Semalem ini?" aku mengangguk.
Nana terlihat sedih. Mungkin karena sudah punya banyak agenda yang ingin dia lakukan denganku, yang kini tak mungkin dia realisasikan karena aku tak jadi menginap.
To be honest aku merasa kasihan. Tapi mau bagaimana lagi? aku harus mengasihani diriku sendiri sebelum mengasihani orang lain.
"Iya, Na. Janji deh kapan-kapan gue nginep lagi."
"Lo tau kan sebawel apa Bang Jeno kalo gak diturutin?" untuk kedua kalinya aku menumbalkan Bang Jeno. Kebetulan dia memang agak sedikit cerewet jika keinginannya tidak terpenuhi. Maafin gue, bang!
"Ya udah deh. Lo dijemput apa gimana?"
Aku menggeleng. "Balik sendiri." Jawabku terdengar biasa. Aku bahkan bersusah payah menampilkan wajah yang sangat biasa agar dia tidak curiga. "Mau gue anter?"
Aku menggeleng. "Gak usah. Gue naik gojek aja."
"Lagian motor lo udah masuk kan? susah ngeluarinnya." Lanjutku saat Nana ingin protes.
Meski ingin mengelak, pada akhirnya Nana tidak bisa berbuat apa-apa. Nyatanya motornya memang berada di barisan paling depan, dan akan sangat melelahkan jika kami harus memindahkan motor-motor dibelakangnya yang berjumlah cukup banyak itu.
"Ini gue udah pesen nih, udah dapet driver juga."
Aku berdiri dan merapikan rambutku yang sudah mencuat kemana-mana. Kebetulan sebelum aku mendapatkan kabar tidak terduga ini, aku sudah berguling-guling di ranjangnya dan bersiap untuk tidur. "Tas gue tinggal sini aja ya? biar besok gak perlu bawa apa-apa kalo mau nginep."
Aku sudah tak punya tenaga untuk membawa-bawa barang pulang. Tahu kan perasaan seperti itu saat suasana hati kita sedang tidak baik-baik saja?
Hanya membawa diri saja pun kini juga sudah terasa melelahkan, sehingga aku memilih untuk meninggalkan semua barang-barang tidak begitu penting di kehidupanku ini di kamar kosannya.
"Aman sih,"
Aku tersenyum. "Ya udah, gue balik ya. Abangnya udah sampai nih."
"Gak usah nganterin gapapa. Gue tau ko lo mager pasti buat turun tangga." Selalu paham dengan kemageran Nana ketika disuruh naik turun tangga. Meski kamarnya sendiri berada di lantai dua yang berarti setiap hari harus naik turun, dia memang tidak akan mau naik turun jika tidak ada urusan yang menurutnya mendesak.
Ya terserah lo aja aja lah, Na.
Belum pernah nulis cerita yang gap umurnya lumayan banyak
Bismillah sesuai dengan yang diharapkan 😊
Jangan lupa buat dukung aku ya, walaupun banyak cerita yang belum kelar
FYI buat yang mau peluk Mas Rizal
Sebelum harga kembali normal, ayo segera check out sekarang!
Terima kasih banyak semuanya
I love you so much!
KAMU SEDANG MEMBACA
Minis(try)
ChickLit"Akhirnya gue keterima magang, Bang!" Teriaku pada Bang Jeno, kakakku yang sampai sekarang belum bisa dibanggakan. Bang Jeno yang sedang bermain ponsel mendengkus, "Magang modal orang dalam aja bangga," "Ngakunya anti nepotisme, tapi mau magang aja...
