Surprised

13.1K 956 27
                                        

Takdir memang sering sekali memberiku kejutan
Tapi siapa sangka bahwa kejutannya akan semengejutkan ini?

- Olivia -

Hari sabtu memang hari yang paling tepat untuk bermalas-malasan.

Namun karena sudah terlanjur mengiyakan ajakan Bang Jeno, tentu rebahan sepanjang hari hanya tinggal angan. Tiket pesawat sudah dibeli, dan tidak mungkin aku membatalkannya hanya karena kemageran yang tiba-tiba melanda.

Aku menghabiskan waktu sekitar lima belas menit untuk memastikan tidak ada barang yang ketinggalan. Meski kami hanya akan tinggal selama dua malam, tetap saja aku harus datang dengan penuh persiapan. Aku tidak mau ada barang yang dibutuhkan tertinggal, sebab aku ingin fokus menikmati alam dan merasakan vibes liburan dengan maksimal.

FYI senin adalah tanggal merah. Jadi meski kami berangkat sabtu pagi, kami masih sempat untuk tinggal di pulau komodo selama dua hari. Orang-orang sibuk ini bisa beristirahat lebih lama karena hari libur nasional. Dan tentu saja, aku juga tidak perlu repot untuk meminta izin atau mencari alasan untuk diberikan kepada Mas Shua.

Memastikan tidak ada barang yang tertinggal, aku akhirnya bisa bernapas lega. Menutup koper dan menarik resletingnya, lalu beralih pada kegiatan untuk bersiap-siap.

Selamat datang liburan singkat!

"Udah siap, Liv?" aku yang sedang duduk manis di depan kaca rias menoleh. Melihat kepala Bang Jeno yang menyembul dari balik pintu, dan kemudian menganguk untuk menjawab pertanyaannya.

"Udah bang, bentar gue ambil tas dulu." Jawabku to the point. "Tolong bawain koper gue ke bawah dong,"

Melihat ada kesempatan untuk meminta bantuannya, segera aku langsung memanfaatkan. Daripada harus menariknya sendiri, lebih baik aku memanfaatkan sumberdaya yang tersedia dengan semaksimal mungkin. Mengeluarkan modal sedikit mungkin untuk hasil semaksimal mungkin, begitu prinsipnya.

"Hati-hati ya, dek." aku membalas pelukan mama dengan tak kalah eratnya. Meski kami hanya akan pergi selama dua hari, acara meminta izin sudah seperti aku akan pergi dalam waktu yang lama.

Jujur aku selalu merasa bersyukur di situasi ini. Mama memang selalu saja penuh kekhawatiran, dan terkadang juga penuh banyak aturan, tapi aku tau pasti bahwa apa yang beliau lakukan semata-mata adalah ungkapan dari rasa sayangnya. Orang tua yang khawatir dengan kondisi anaknya adalah sebuah hal yang patut disyukuri. Di dunia yang luas ini, ada banyak orang yang tidak seberuntung aku. Ada banyak orang yang harus berjuang sendiri, tanpa ada yang mengkhawatirkan. Jadi keberadaan mama dan papa selalu membuatku bersyukur, karena aku masih menjadi satu dari sekian juta orang yang beruntung itu.

"Jagain adek kamu, bang." Kali ini papa sudah berbicara. Sebagai satu-satunya anak perempuan, memang aku adalah anak yang paling dimanja. That's why tidak mengherankan apabila aku sudah sebesar ini, mama dan papa sering kali khawatir kalau aku bepergian tanpa mereka.

"Iya, pa." Bang Jeno hanya mengiyakan.

Dia kemudian menarik dua buah koper — miliknya sendiri dan tentu milik adiknya, sebelum akhirnya diambil alih oleh Pak Bun, sopir papa yang kali ini akan mengantarkan kami ke bandara.

"Bye-bye Ma. Olive pasti bakalan kangen," pamitku sembari membuka kaca mobil. Membuat laki-laki yang duduk di sebelahku mendengkus dan mengataiku sebagai bocah alay.

Biarkan saja!
Toh bagaimana pun alay nya aku, aku tetap saja adik satu-satunya dia.

***

Aku melirik tajam ke arah laki-laki yang berdiri di sampingku dengan wajah tanpa dosanya. Bahkan dia masih sempat memainkan kacamata hitam yang sedari tadi dipakainya, seolah membenarkan pemikiranku bahwa dia memang tidak merasa melakukan kesalahan sama sekali.

Di pagi menjelang siang ini, di tengah keramaian bandara Soekarno Hatta, aku rasanya ingin menendang tulang kering Bang Jeno dengan sekuat tenaga. Berkali-kali. Supaya dia merasa kesakitan dan sadar dengan kesalahan apa yang telah dia lakukan.

Sejak tiba di bandara dan menemukan teman-temannya yang akan berlibur bersama kami, aku sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Otakku benar-benar tidak membayangkan bahwa orang-orang yang akan diajaknya ini, adalah orang-orang yang tidak aku kenal. Beberapa aku tahu karena wajahnya sering berseliweran di majalah bisnis, sementara beberapa yang lain aku sering melihatnya di layar kaca. Aku tahu abangku juga terbilang bukan laki-laki sembarangan, tapi setelah melihat circle nya ini, aku menyadari bahwa keberuntungannya sangat besar. Bagaimana mungkin dia bisa masuk ke kelompok elit ini? pakai dukun mana dia?

Aku hanya bisa diam dan tersenyum canggung saat ada yang melirikku. Entah Bang Jeno mengatakan bahwa dia mengajakku atau tidak, yang jelas mereka tidak terlihat terganggu dengan keberadaan bocah aneh di tengah-tengah mereka. Hanya saja aku sadar diri.  Dengan  penampilanku yang super santai dan dandanan tipis-tipis dengan rambut yang dikepang ala orang yang siap menikmati liburan musim panas, aku tiba-tiba merasa salah kostum dan juga terjebak diantara om-om eksekutif yang selalu menjadi incaran ibu-ibu sosialita untuk dijadikan menantu.

Ini mereka mau liburan atau mau kerja sih? kenapa semuanya pakai kemeja gini? gue kan jadi kaya bocil yang lagi diajak pamannya main!

Lagi-lagi, aku hanya bisa berdiri kikuk tanpa bisa berkata apapun. Saat akhirnya fokus Bang Jeno teralihkan dari teman-temannya, aku hanya bisa menarik kemejanya hingga membuatnya menoleh.

Aku memelototkan mata padanya. "Lo bohongin gue ya, Bang?" tanyaku curiga. "Ini lo mau kerja apa mau liburan?" tanyaku melanjutkan.

Bang Jeno menaikkan kacamatanya, "Dua-duanya lah, Dek. Emang gue belum bilang?"

Reflek, aku benar-benar menendang tulang keringnya dengan sangat keras. Membuat si korban mengaduh kesakitan, hingga semua mata di sekitar tertuju pada kami. Termasuk teman-temannya yang sedari tadi mengobrol dengannya. Matilah kau, Liv!

Belum juga aku terbebas dengan kondisi kecanggungan ini, kedatangan dua orang yang tiba-tiba berhasil membuat aku bisa bernapas lega, bersyukur. Aku tidak perlu menjelaskan apa yang baru saja aku lakukan, dan tentu saja aku juga dapat keluar dari tatapan teman-teman Bang Jeno yang rasanya bisa menembus dada. Meski mereka semua berwajah tampan, tetap saja mereka adalah orang-orang yang tidak aku kenal. Aku memang pecinta cowok tampan, tapi tidak semua cowok tampan aku cintai.

"Sori telat!"

Bola mataku mungkin siap keluar. Tepat setelah memalingkan wajah ke orang yang baru datang, mataku langsung bertabrakan dengan sepasang mata yang menatap lurus dengan tajam. Please, gue salah lihat gak sih? gumamku pada diri sendiri.

"Eh, Oliv ikut?" aku hanya bisa tersenyum canggung dan mengangguk pelan. 

Bang Jay — orang yang dulu pernah aku kagumi, dan merupakan salah satu dari dua orang yang baru datang ini menyadari keberadaanku dan tersenyum cerah.

Tiba-tiba saja jantungku berdetak tidak normal. Entah karena akhirnya melihatnya lagi setelah sekian lama, atau justru karena keberadaan satu orang yang datang bersamanya. Jantung, lo berdetak buat siapa?

Siapa hayo yang dateng bareng Bang Jay?

Minis(try)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang