Setalah menunggu penuh kecemasan di dalam kamar, akhirnya aku bisa bernapas. Tepat setelah pintu kamar di dorong dari luar, dan menemukan sesosok orang di belakangnya.
Jujur aku sedikit kecewa karena menemukan orang yang tidak aku harapkan. Meski begitu, aku tidak bisa berbuat apa-apa karena kelakuan ku kali ini memang sedikit di luar batas. Mematahkan harapkan Bang Jeno yang dia letakan padaku selama ini.
"Mas Gama gak lo apa-apain kan, Bang?" tidak menemukan Mas Gama diantaranya, aku bertanya. Takut dia melakukan sesuatu, seperti memukulinya hingga babak belur. Namun setelah mengamati bahwa wajahnya sendiri baik-baik saja, rasa khawatirku sedikit berkurang. Apalagi setelah melihat tangan kanannya dan tidak menemukan tanda-tanda bekas memukul sesuatu, sedikit banyak aku bisa bernapas lega. Meski sebenarnya, kedua hal tersebut tidak bisa menjamin apa yang sudah dia lakukan.
Mengingat bahwa abangku aktif berlatih bela diri, sangat mungkin bahwa ketakutan-ketakutan di kepalaku itu sebenarnya terjadi. Namun dia memang berhasil tidak meninggalkan jejak. Sebab Jenoandra Aditama bukanlah seorang amatir.
"Pulang!" Bukannya menjawab, dia malah memintaku pulang. Bahkan tanganku juga ditarik paksa oleh Bang Jeno. Membuatku yang sebelumnya duduk santai di atas ranjang kelimpungan, sebab dia tak berniat memberikan aku waktu bersiap-siap.
"Bang," panggilku. Namun tak dia hiraukan sama sekali. Wajahnya masih datar, khas orang yang masih memendam kemarahan.
Bang Jeno membuka pintu kamar yang ternyata sedikit tertutup. Wajahnya semakin terlihat datar, tetapi terkesan ada aura tidak biasa yang memancar di sana. "Jen," Mas Gama muncul dan mencoba menghentikan abangku yang satu ini. Namun sepertinya apa yang dia lakukan itu sia-sia.
Aku melirik ke arahnya. Sepertinya obrolan serius dua orang laki-laki ini memang serius wajah keduanya sekarang.
"Pelan-pelan," akhirnya hanya kata itu yang Mas Gama keluarkan. Aku tau dia berniat untuk menghentikannya, tapi dia juga sadar di mana posisinya. Bagaimana pun, Bang Jeno masih lebih berhak atas diriku dibandingkan dia.
Cekalan di tanganku terasa sedikit mengendur. Itu berarti bahwa dia masih mendengarkan apa kata sahabatnya itu. "Kita balik!"
Otakku benar-benar blank. Semuanya terlalu tiba-tiba sehingga aku tidak tahu harus bereaksi apa. Aku juga tidak bisa menebak apa yang mereka berdua obrolkan, tau-tau salah satunya sudah berada di dalam kamar dan menarik ku untuk ke luar dari unit apartemen itu.
"Apa-apaan sih, bang?" setelah sampai di dalam mobil, otakku baru bisa berjalan. Aku baru bisa mengeluarkan beberapa patah kata, di mana sebelumnya hanya bisa diam dan mengikuti setiap langkahnya.
Bang Jeno terlihat mengacak-acak rambutnya sendiri. Semacam orang yang frustasi, padahal hanya karena mengetahui bahwa aku memiliki hubungan spesial dengan salah satu sahabatnya. "Kenapa sih, bang?" tanyaku lagi. Namun yang ditanya masih betah diam, tanpa ada tanda-tanda ingin mengutarakan sesuatu.
Tidak tahu harus bagaimana, aku hanya bisa diam. Nasibku sekarang berada di tangannya, sehingga aku tidak boleh gegabah dan membuatnya semakin marah.
Mama papa memang tidak pernah melarang aku untuk berpacaran atau menjalin hubungan spesial dengan lawan jenis. Namun karena selama ini aku tak pernah mengenalkan satu lelaki pun pada mereka, sedikit banyak aku cukup takut dengan reaksi yang akan diberikan bila tiba-tiba mengatakan bahwa Gama Pradikta adalah pacarku. How scare is it!
Meski sebenarnya, aku sudah memberitahunya pada mama. Namun dengan papa? aku hanya bisa bergidik ketika membayangkannya.
"Kamu beneran belum ngapa-ngapain kan sama Gama?" tanyanya setelah beberapa saat. Bang Jeno mengunci pandanganku dengan tatapan matanya, sehingga aku tak punya kesempatan untuk mengelak — apalagi menghindari pertanyaannya yang tidak terduga ini.
"Bener kok bang," jawabku pelan. Sedikit terdengar ragu-ragu karena abangku yang satu ini kini malah memicingkan matanya curiga.
Aku menggigit bibirku pelan. Jawabanku sudah benar bukan? Ciuman bibir tidak termasuk dalam definisi ngapa-ngapain versi Bang Jeno kan?
"Jangan bohong, dek. Atau gue bakal laporin papa."
"Beneran, bang." Sergahku cepat. Tentu aku tidak mau dia mengadu yang tidak-tidak. Bisa-bisa aku dikeluarkan dari KK gara-gara aduannya yang tidak berdasar itu.
"Gue bukan anak kecil yang bisa dikibulin ya," ujarnya. Masih dengan tatapan mengintimidasi, dia melanjutkan. "Lo baru dateng aja main peluk-peluk, terus malah ngajakin cuddle segala."
Aku kehabisan alasan. Memang kedengarannya agak terlalu bar-bar, tapi percayalah bahwa aku juga tidak berani untuk melakukan yang lebih dari itu.
"Sumpah, bang." Jawabku meyakinkan. Aku tidak boleh kalah dengan tatapan mengintimidasinya. Aku harus meyakinkan bahwa gaya pacaran kami sehat, untuk mencegah adanya tragedi yang mungkin terjadi. Menikah dadakan karena tuduhan aku sudah tak suci lagi. Ngeri sekali!
Bantu follow akunku yuk!
KAMU SEDANG MEMBACA
Minis(try)
Chick-Lit"Akhirnya gue keterima magang, Bang!" Teriaku pada Bang Jeno, kakakku yang sampai sekarang belum bisa dibanggakan. Bang Jeno yang sedang bermain ponsel mendengkus, "Magang modal orang dalam aja bangga," "Ngakunya anti nepotisme, tapi mau magang aja...
