Sebagai seorang yang hobi membaca, aku memang sering nongkrong di perpustakaan atau di toko-toko buku ternama seperti Gramedia. Makanya saat Jeno mengatakan akan mengantar adiknya, aku ingin ikut. Sebab sebelumya aku juga berniat untuk mencari beberapa bahan bacaan untuk mengisi waktu luang.
"Gue cari buku dulu ya," aku pamit kepada dua orang ini. Aku memiliki beberapa buku yang memang harus dibeli, sementara temanku ini pasti akan menemani adiknya berkeliling.
Jeno hanya mengangguk, lalu menuntun adiknya ke arah rak yang memang menyediakan buku-buku untuk anak kecil. Sedangkan aku, berbelok ke arah lain karena buku yang aku cari memang tidak satu area dengan buku anak-anak.
Entah sudah berapa lama kami berpisah, tiba-tiba ponsel di sakuku bergetar. Menandakan bahwa ada panggilan masuk, yang ternyata dari Jeno. "Ada apa? udah kelar?"
"Lo bisa bantuin gue nggak?" bukannya menjawab pertanyaan, dia malah mengajukan pertanyaan lain.
"Kenapa?" menyadari ada sesuatu yang terjadi, aku langsung paham harus mengambil sikap seperti apa.
Dari balik telepon, Jeno terdengar menghela napas. "Lo bisa anterin Oliv balik? tadi gue baru dikabarin anak-anak, katanya ada masalah sama acara Minggu depan. Gue harus ke sekolah buat lihat."
Anak-anak yang dimaksud Jeno adalah anak-anak taekwondo. Dia adalah ketua ekskul taekwondo, yang aku tau akan melakukan kegiatan kenaikan sabuk — atau entah apa namanya itu di Minggu depan. "Serius banget masalahnya?"
"Gue belum tau sih, cuma kayaknya gak sesederhana itu juga." Aku mengangguk mengerti.
"Lo dimana sekarang?" aku langsung mengembalikan buku yang tadi sempat aku baca blurnya ke rak. Lalu mengambil dua buku yang memang sebelumnya sudah aku pilih. "Biar gue samperin," lanjutku.
"Gue udah di kasir. Lo langsung ke sini aja."
"Oke. Gue otewe." Jawabku sembari memutus panggilan.
"Gue nitip adik gue ya," pintanya sembari menepuk pelan pundak ku. "Tapi tolong ntar sebelum balik diajak makan dulu ya?" ternyata tak hanya harus mengantar pulang, aku juga harus mengajaknya makan terlebih dulu.
"Dia baik kok, gak nakal." Sebagai seorang yang tidak punya adik, Jeno pasti tau bahwa aku mungkin akan sedikit kerepotan. Makanya dia meyakinkan kalau Oliv adalah anak yang baik dan tidak akan merepotkanku.
Aku hanya mengangguk, meski tak yakin apakah aku bisa menjalankan amanahnya dengan baik atau tidak. "Oke,"
Jeno tersenyum, lalu berbaik dan menatap ke arah Oliv yang sedari tadi hanya melihat interaksi kami berdua.
"Kamu pulang sama Mas Gama ya, soalnya Abang mau ada urusan dulu sebentar." Aku tidak tahu kenapa Jeno menggunakan panggilan 'Mas' untuk mengenalkanku pada Oliv. Bukan 'Abang' sebagaimana Oliv memanggilnya.
"Abang mau kemana?" Oliv terlihat tidak suka bahwa dia akan ditinggalkan.
"Abang mau ada urusan dulu di sekolah, dan kayaknya bakal lama. Jadi nanti kamu pulang diantar sama Mas Gama."
"Oke?"
Kulirik Oliv mengangguk. Sepertinya benar apa kata Jeno, dia adalah anak yang cukup penurut. Buktinya dia langsung mengiyakan, meski kami baru mengenal selama beberapa jam.
"Pinter banget adik Abang. Nanti pulang Abang bawain es krim," lanjutnya untuk mengapresiasi sikap adiknya. Dia terlihat sangat berbeda ternyata ketika sedang berinteraksi dengan adiknya.
"Rasa coklat ya bang?" pintanya bersemangat.
Jeno mengangguk. "Siap tuan putri."
***
"Oliv mau makan Susi ya, Mas, boleh?"
Berawal dari permintaannya ini, di sinilah kami sekarang. Berakhir di sebuah restoran Jepang di mall tempat kami berada.
Aku menggandeng tangannya untuk masuk. Rasanya agak sedikit aneh, sebab aku terbiasa kemana-mana sendiri. Aku tak pernah punya pengalaman pergi berdua dengan anak kecil — apalagi perempuan, sehingga aku cukup bingung harus bersikap seperti apa.
Sementara anak kecil yang sedang aku gandeng, dia justru terlihat biasa-biasa saja. Sepertinya sudah nyaman denganku dan menganggapku sebagai pengganti abangnya.
Aku menyobekkan plastik sumpit dan memberikannya padanya. "Pelan-pelan ya makannya,"
Oliv mengangguk, lalu menerima uluran sumpit dari tanganku.
"Kamu bawa tali rambut?" melihat bahwa rambut tergerainya cukup mengganggu, aku berinisiatif untuk membantu.
Masih dengan mengunyah, bocah kecil ini menjawab. "Di situ, Mas." Jawabnya sembari menunjuk tas kecil yang ada di sudut meja.
Aku mengangguk, lalu berdiri untuk mencari tali rambutnya.
To be honest, ini pengalaman pertamaku mengucir rambut orang lain. Awalnya memang agak sulit, tapi dengan pelan-pelan aku akhirnya bisa mengatasi kesulitan ini.
"Mas Gama kaya Abang deh. Suka bantuin Oliv iket rambut kalo lagi makan gini,"
Definisi menjaga jodoh sejak dini
Versi full di apps sebelah
KAMU SEDANG MEMBACA
Minis(try)
Romanzi rosa / ChickLit"Akhirnya gue keterima magang, Bang!" Teriaku pada Bang Jeno, kakakku yang sampai sekarang belum bisa dibanggakan. Bang Jeno yang sedang bermain ponsel mendengkus, "Magang modal orang dalam aja bangga," "Ngakunya anti nepotisme, tapi mau magang aja...
