Dating

11.8K 774 9
                                        

Acara bimbingan kali ini berakhir dengan baik. Pak Bayu tidak banyak memberikan revisi, yang berarti bahwa apa yang sedari kemarin aku kerjakan sudah cukup benar menurut pandangannya.

"Untuk bagian di tabel frekuensi, jangan lupa ditambahkan juga nilai persentasenya ya. Biar nanti yang nguji juga lebih gampang ." Aku mengangguk mengiyakan.

"Untuk data terkait umur dan tingkat pendidikan responden, ini tolong di take out dari tabel aja. Soalnya masuknya karakteristik responden, bukan karakteristik rumah tangga." Lagi-lagi aku mengangguk mengiyakan.

Setelah memastikan bahwa Pak Bayu selesai memberikan saran, aku berujar. "Setelah semua revisi sudah saya perbaiki, kira-kira saya bisa melakukan bimbingan kapan lagi ya, pak?"

Sudah ku katakan bukan kalau aku ingin segera lulus dari kampus? bukannya tak betah, aku hanya ingin wisuda bersama teman-temanku yang lain. Kami masuk kuliah di tahun sama, dan kalau bisa juga keluar di tahun yang sama juga.

Pak Bayu membenarkan letak kacamata. "Pengen cepet lulus mau apa kamu? mau nikah kah?" Tanyanya berniat bercanda.

Aku hanya meringis. Sebab dosen ku yang ini memang kadang-kadang melontarkan pertanyaan random, "Emang sudah punya calon?" lanjutnya sembari tersenyum.

"Belum, pak." Jawabku. "Cuma temen-temen saya sudah pada lulus, saya ngejar biar wisuda bareng."

Menurut testi dari kating, aku harus jujur kepada dosen pembimbing. Jujur terkait target-target yang aku tetapkan, agar beliau juga bisa kooperatif.

Pak Bayu hanya mengangguk. "Rabu sore saya ada waktu kosong. Kalau bisa kamu kirim draftnya di hari senin, biar bisa saya koreksi."

Aku mengangguk semangat, "Baik, Pak."

Aku membereskan beberapa lembar kertas dan menutup macbook yang sedari tadi terbuka. "Kalau gitu saya permisi dulu ya, pak." Pamitku sebelum akhirnya keluar ruangan.

Karena jam masih bisa dibilang siang, aku memilih tak langsung pulang. Aku berniat untuk menghabiskan siang di kota hujan, sembari menikmati segelas kopi di tepi jendela.


***


"Pak, dandanan saya menor, gak?" tanyaku. Pasalnya situasi memaksa aku bergerak cepat, maka aku berdandan seadanya di dalam mobil.

Pak Gama mengalihkan pandangan dari kancing kemeja batik yang baru selesai dikenakannya. Lalu memberikan perhatiannya pada wajahku, dan kemudian tersenyum. "Pas, pretty as always."

Aku tidak pernah menyangka bahwa kegiatan pasca bimbinganku akan sangat tidak terduga seperti ini. Saat aku sedang nongki-nongki asyik di sebuah coffeshop, Pak Gama tiba-tiba mengirim pesan padaku. Menanyakan apakah aku masih ada di Bogor, yang langsung aku balas dengan iya.

Dan tebak apa? aku berakhir di sini. Di dalam mobilnya yang tiba-tiba datang menyusul, karena aku diminta untuk menemaninya pergi kondangan ke tempat salah satu koleganya.

Memang setelah obrolan malam itu, dia membuktikan perkataannya. Dia mulai move and action di hubungan ini. Terbukti dari sikapnya yang lebih perhatian, lebih terbuka, dan juga terang-terangan ketika berinteraksi denganku.

Sedangkan aku? mencoba untuk bersikap biasa. Memperlakukan dia sebagaimana dia memperlakukanku, juga merespon semua tingkah lakunya sewajar mungkin.

Aku rasa kami berdua sama-sama tau apa yang kami rasakan. Kami berdua juga tau, bagaimana kami harus saling bersikap di situasi ini.

"Dandanan saya berlebihan gak?" aku masih belum percaya dengan kata-katanya. Pasalnya sejak dia bilang ingin menunjukkan ketertarikannya, dia memang sering memujiku. Makanya aku tidak terlalu percaya, apalagi untuk kasus seperti ini.

"Tidak. Cantik."

Blush....
Untung tadi gue udah pake blush on.

Aku kembali memastikan riasanku di kaca kecil yang sedari tadi aku pakai. Kami hanya sempat membeli baju —  couple, tanpa sempat mampir ke salon. Untunglah sebagai perempuan tulen, pouch make up selalu aku bawa ke mana pun aku pergi. Jadi paling tidak, wajahku tidak aku terlalu memalukan untuk dibawa ke acara pernikahan.

"Kayaknya mending jangan di jepit begitu, Liv." Aku menoleh atas komentarnya.

"Maksud bapak rambut saya ini?" aku memegang bagian rambutku yang memang aku model seperti di sanggul. Model batik yang aku pakai sedikit terbuka di bagian bahu, dan aku rasa memperlihatkan bagian leherku akan semakin pas dengan model bajunya.

"Iya," ujarnya.

"Kenapa, pak? gak cocok ya?" setiap akan pergi ke acara semi formal atau formal, aku biasanya meminta pendapat mama — karena biasanya cukup tak percaya diri. Makanya karena dia bilang seperti itu, aku berasumsi bahwa tatanan rambutku tidak terlihat cocok.

Pak Gama menggeleng. "Bukan."

"Terus?" tanyaku mengernyitkan dahi.

"Saya gak bisa fokus nanti, leher kamu terlalu menarik." Mataku berkedip-kedip.

"Saya juga nggak rela kalau nanti leher kamu di lihat-lihat orang."

Hah?

"Di gerai aja ya, tetep cantik kok."

Aku tidak habis pikir dengan kelakuannya. Namun karena terlalu bingung bagaimana menyikapinya, aku justru mengangguk dan mengikuti permintaannya.

Untuk menghilangkan suasana canggung yang menyelimuti kami, akhirnya aku kembali mencari topik obrolan.  "Bapak kenapa tiba-tiba banget sih?" ujarku sedikit kesal. Bukannya tidak ikhlas, aku hanya sedikit kesal dengan diriku sendiri. Bisa-bisanya aku tidak menolak ajakannya, padahal hubungan kami tidak jelas.

"Saya baru ingat hari ini ada kondangan, terus acaranya di Bogor."

"Saya ingat kamu hari ini bimbingan, jadi saya pengen ajak kamu." Lanjutnya menambahkan.

Aku cukup tercengang dengan jawabannya ini. "Kenapa bapak mau ajak saya?"

"Mengajak kamu itu bagian dari bukti saya serius sama kamu."

Speechless WIR!

"Ini acaranya dimana?" Pak Gama dan setiap kata yang keluar dari mulutnya berbahaya bagiku. Makanya aku langsung mengalihkan obrolan, sebelum perkataannya membuat jantungku tidak karuan.


Minis(try)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang