Too Unprepared to Meet

14.2K 935 10
                                        

Jangan lupa komen ya!

Aku mengetuk-ngetukkan ujung sepatuku ke lantai. Menghilangkan rasa bosan sembari menunggu seseorang yang sedang menyelesaikan urusannya di dalam sana.

Senyumku merekah ketika penantianku terbayarkan. Meski hanya menunggu beberapa menit, aku yang dasarnya bukan orang yang sabaran memang langsung bosan. Apalagi jika menunggu sendirian, maka rasa bosanku memang akan lebih cepat datang.

Aku melangkah dan menyusul seseorang yang sudah berjalan menjauh dari minimarket ini. "Mas!" Panggilku sedikit keras. Pasalnya dia terlihat terburu-buru dalam melangkah.

Sosok yang aku panggil menghentikan langkah, menoleh ke belakang dan menautkan kedua alis.  Mungkin memastikan apakah yang diteriaki itu dirinya atau bukan.

Aku tersenyum dan melambai ke arahnya. Laki-laki yang sudah membantu membayarkan air mineralku tadi. Laki-laki baik yang tidak aku kenal, tetapi langsung menawarkan bantuan tanpa pikir panjang.

"Lo manggil gue?" ujarnya ketika aku sudah tepat berdiri di depannya.

Kontan aku mengangguk. Pasalnya aku memang sengaja menunggunya , sebab tadi belum sempat untuk mengucapkan terima kasih. "Iya, Mas."

"Gue mau ngucapin makasih buat yang tadi," lanjutku menambahkan. Aku tidak mau dicap sebagai orang yang tidak tahu terima kasih, jadi tentu saja aku harus mengatakannya.

Dia terlihat mengangguk-angguk. "Oke."

"Ya udah, gue duluan ya." Tanpa basa-basi, dia langsung ingin berpamitan pergi.

"Bentar, Mas." Sebelum dia beneran pergi, aku kembali menghentikannya. 

"Gue boleh minta nomor lo?" tanyaku langsung. Bukannya ingin modus, SUMPAH!  Hanya ingin mengembalikan uangnya yang tadi dia gunakan untuk membayarkanku.

"Gue gak ada maksud apa-apa kok. Cuma mau balikin duit lo yang tadi." Aku segera menjelasakan sebelum dia salah paham. Mimik wajahnya terlihat tidak nyaman, tepat setelah aku mengutarakan ingin meminta nomor ponsel.

"Budi!" belum juga dia menjawab, suara seseorang berhasil mengalihkan perhatian mas-mas yang ada dihadapanku ini. Membuatnya menoleh dan mengabaikan perempuan cantik yang tadi sedang meminta nomornya.

"Gam," katanya pada laki-laki yang sedang berjalan mendekat ke arah kami, entah datang dari mana.

Kedua mataku melotot sempurna. Tepat ketika menyadari siapa sosok laki-laki yang sedang berjalan. Kok bisa? 

Aku menelan ludah susah payah. Belum siap jika harus bertemu pandang lagi dengannya, apalagi dengan jarak yang cukup dekat ini.

Mulutku tidak bisa mengatakan apapun. Bahkan hingga laki-lagi yang dipanggil 'Gam' oleh mas-mas di depanku ini  tepat berdiri diantara kami. "Kenapa lama banget?" tanyanya pada mas-mas baik hati yang aku tebak bernama Budi. Sesuai dengannya ketika memanggil.

"Pak Gama ..." Gumamku begitu pelan. Amat sangat pelan hingga kedua orang yang ada di dekatku tidak menyadarinya. Kenapa bisa muncul di sini?

Kewarasanku baru kembali ketika ada suara deheman seseorang. Entah berapa banyak kejadian yang aku lewatkan, yang jelas saat ini dua pasang bola mata menatap lurus ke arahku. "Hey, lo gapapa?" tanya Mas Budi terlihat khawatir. Ekspresinya sangat berbeda dengan yang tadi.

"Gak papa kok, Mas." Jawabku sembari tersenyum. Senyum yang sedikit dipaksakan, yang semoga tidak terlihat aneh.

Aku memandang sekitar untuk mengembalikan kesadaran. Beberapa orang yang keluar dari minimarket terlihat mencuri pandang ke arah kami — atau lebih tepatnya Pak Gama. Meski tak ada yang berani menyapa, aku sedikit yakin bahwa mereka tau siapa dia. Sosok menteri yang baru-baru ini cukup populer di kalangan milenial dan gen z. Begitu kesimpulan dari hasil pencarianku kemarin.

"Gimana, Mas?" memilih menghiraukan dan pura-pura tidak kenal, aku kembali memfokuskan diri pada Mas Budi. Melanjutkan obrolan kami yang tadi sempat terhenti. "Gapapa ga usah. Lagian cuma lima ribu doang."

Kali ini aku mengangguk. Memilih untuk tidak memperpanjang karena merasa tidak nyaman — sebab aku merasa ditatap oleh seseorang, tetapi tidak berani untuk menengok dan memastikan. "Ya udah deh, Mas. Makasih ya..." cepat-cepat aku ingin pergi dari sini. Entah kenapa jantungku berdetak tidak normal, dan aku juga ingin segera pergi dari sini.

"Kalo gitu gue duluan ya, Mas..."

Kenapa rasanya serem banget ya?
Batinku sebelum akhirnya mengendikkan dua bahu dan melangkah lebih cepat dari sebelumnya.

Minis(try)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang