Hari ini jadwalku adalah bertamu di kediaman Pak Aditama. Sudah cukup lama sejak terakhir aku mengunjungi bangunan itu, hingga rasanya aku punya debaran jantung tak biasa setiap memikirkan bahwa aku akan segera pergi ke sana — sebentar lagi.
Padahal tujuan ku ke sana sebenarnya bukan juga untuk mengunjunginya, tetapi mengunjungi papanya. Salah seorang politikus senior yang ingin aku tanyakan tentang berbagai hal.
"Kita di sini saja ya," ujar Om Tama ketika ditemui di ruang tamu. Beliau ternyata sudah menitip pesan kepada salah satu asisten rumah tangganya, sehingga ketika aku datang langsung di bawa masuk.
Aku menyalimi Om Tama dan tersenyum, "Gimana om? sehat?" tanyaku. Sebab memang sudah cukup lama tidak bersua dengannya.
Agendaku kali ini adalah membicarakan hal yang cukup krusial. Aku membutuhkan insight darinya terkait suatu hal, sebab menurut papa beliau punya pengalaman yang sama dalam menghadapi masalah yang kini sedang aku hadapi. Makanya bisa dibilang bahwa pertemuanku kali ini adalah semacam konsultasi.
Butuh hampir satu jam lamanya sampai kami berdua bisa bernapas lega. Solusi yang aku inginkan sudah ditangan, jadi obrolan sudah bisa dilanjutkan ke hal yang lebih santai.
"Kabar mama papamu gimana?" tanya beliau sebelum akhirnya menyeruput kopi di cangkir kecilnya.
"Sehat, Om." Meski menjadi salah satu orang yang tau betul bagaimana kondisi keluargaku yang sebenarnya, Om Tama tidak pernah menyinggungnya sama sekali. Bahkan seperti orang lain, beliau seolah tidak tahu bahwa mama dan papa sudah tak lagi bersama seperti saat aku kecil.
Om Tama terlihat mengangguk. Namun belum sempat kami melanjutkan obrolan, suara cempreng seseorang berhasil menginterupsi kegiatan kami. Sesosok perempuan dengan pakaian rumahan yang sudah sedikit luntur tiba-tiba terlihat, sembari menyanyikan sebuah lagu dengan penuh semangat. Bergoyang ke kiri dan kanan, hingga membuat seluruh atensiku dan Pak Aditama berubah sepenuhnya padanya.
Akhirnya ...
Otakku mendadak blank karena akhirnya bisa kembali bertemu langsung dengannya — setelah selama ini hanya bisa memantau dan melihat dari jarak yang cukup jauh. Bahkan kesadaranku baru kembali, tepat ketika Om Tama berdehem-dehem untuk menunjukkan keberadaan kami padanya.
Gemes banget, udah gapapa dilanjut aja!
Ingin sekali rasanya mengutarakan apa yang aku pikirkan. Tapi untungnya otak warasku masih berjalan, jadi aku memilih diam dan hanya memperhatikan apa yang dilakukan oleh ayah dan anak ini.
Siapa inget sama pertemuan pertama ini?
Versi full ada di aplikasi karya karsa yaaa
KAMU SEDANG MEMBACA
Minis(try)
ChickLit"Akhirnya gue keterima magang, Bang!" Teriaku pada Bang Jeno, kakakku yang sampai sekarang belum bisa dibanggakan. Bang Jeno yang sedang bermain ponsel mendengkus, "Magang modal orang dalam aja bangga," "Ngakunya anti nepotisme, tapi mau magang aja...
