Sinar matahari yang masuk dari celah jendela membuatku mengernyit dan terbangun dari tidur. Pagi ini udara terasa dingin, meski sang surya sudah mulai menampakkan diri ke permukaan.
Masih berusaha untuk tersadar dengan mengerjapkan mata beberapa kali, aku menyadari bahwa ada pelukan dari seseorang. Sebuah fakta yang mengagetkan hingga berhasil membuatku sadar sepenuhnya.
Aku tersenyum, lalu membalikkan badan menghadap Mas Gama yang masih terlelap. Ya ampun, wajah tidurnya ternyata sangat tampan.
Aku kembali tersenyum dan mengelus lembut wajah Mas Gama. Ingatanku kembali melayang ke kejadian semalam yang menjadi alasan kenapa aku bisa tertidur di apartemennya. Ya benar, aku menginap di tempatnya. Tidur berdua dengannya di ranjang yang sama.
"Kamu yakin mau pulang? udah malem loh."
"Iya, Mas." Jawabku. Sebenernya sedikit ragu, sebab masih ingin tinggal lebih lama di tempat ini.
"Di luar hujan."
"Kan ada taksi,"
"Besok masih weekend," lanjutnya,
Aku menatap ke arahnya dan tersenyum. Bukannya menawarkan tumpangan menggunakan mobilnya, dia malah memengaruhiku. Membuatku gemas karena tau kemana arah pembicarannya ini.
"Belum boleh ya, Mas. Kita belum menikah."
Mas Gama menatap ke arahku dan merengut. Terlihat sangat lucu di mataku.
"Mas janji gak ngapa-ngapain. Cuma tidur biasa, gak ada yang lain."
Sejak kembali dari menghabiskan waktu di taman, aku dan Mas Gama memang tidak pulang ke rumah. Alih-alih menghabiskan waktu di tempat lain, aku justru di bawanya ke apartemen setelah meminta izin kepada papa. Hal ini karena rumah masih sangat ramai, dan kami masih membutuhkan waktu berdua lebih lama.
Aku tidak tau apa yang dia katakan atau janjikan. Yang aku tahu, papa yang biasanya over protective memberikan izinnya ketika anak gadis satu-satunnya mau dibawa pergi.
"Kan tadi izinnya cuma mau main, bukan nginep." Meski tergiur, aku masih sok jual mahal. Sebagai perempuan, tentu aku tidak mau dicap gampangan. Tidak peduli bahwa tawaran yang diberikannya sangat menggiurkan.
Sudah aku katakan bukan kalau aku bukan termasuk perempuan yang sangat baik? bukan berarti jahat, tetapi maksudnya aku masih terus berusaha untuk memperbaiki diri. Namun godaan-godaan semacam ini juga cukup sulit untuk dihindari.
Selagi tidak kebablasan, aku masih cukup mentoleransi.
"Gimana kalau izin nginep di tempat abang?" harusnya saran seperti ini ke luar dari mulutnya yang laki-laki. Namun disayangkan, ide gila yang tercetus barusan justru keluar dari mulutku. Perempuan yang tadi masih menolak untuk diajak menginap.
Apa bisa menggunakan alasan menginap di apartemen abang yang bahkan jarang ditempati oleh pemiliknya?
Belum puas dengan apa yang dilakukan, aku terus memandang wajah Mas Gama yang kelihatan damai. Ntah kenapa hatiku merasa tenang ketika bangun dan menemukannya berada di sisiku.
Apa begini rasanya ketika sudah menikah?
Bangun pagi dan menemukan pak suami yang berbaring dengan nyaman di sebelah?
"Kamu membangunkan Mas, sayang." Aku menghentikan gerakan tanganku. Tanpa sadar tanganku memang menjelajah setiap inci wajahnya hingga membuatnya terganggu.
Aku tertegun ketika Mas Gama tiba-tiba membuka matanya dan berbicara. "Apa wajah Mas sangat menarik?"
"Euhm... maaf." Ujarku tulus. Aku tak berniat mengganggu tidurnya, meski apa yang aku lakukan justru sebaliknya.
Mas Gama tersenyum, lalu menarikku hingga ke pelukannya. "Gak perlu minta maaf. Mas justru suka."
Aku mencoba melepaskan pelukan kami. Bukannya tidak suka, tetapi kerja jantungku menjadi di luar kendali.
"Sebentar, mas masih pengen peluk kamu." Menyadari kelakuanku, dia berujar. "Rasanya sangat nyaman. Mas bahkan jadi sangat nyenyak karena tidur di sebelah kamu."
"Ayo segera menikah, Olivia Aditama!"
- End Versi WP -
Buat yang masih penasaran bisa langsung ke karya karsa
Buat yang mau baca ulang, juga segera yaa
Siapa tau habis ini aku unpub
Thank you banget buat yang udah ngikutin cerita ini dari awal
Thank you banget buat yang selalu kasih support lewat bintang dan komentarnya
See you di ceritaku yang lain yaa
KAMU SEDANG MEMBACA
Minis(try)
ChickLit"Akhirnya gue keterima magang, Bang!" Teriaku pada Bang Jeno, kakakku yang sampai sekarang belum bisa dibanggakan. Bang Jeno yang sedang bermain ponsel mendengkus, "Magang modal orang dalam aja bangga," "Ngakunya anti nepotisme, tapi mau magang aja...
