Senyumku masih saja merekah, bahkan ketika aku sudah sampai rumah. Padahal seluruh tubuhku basah dan terasa dingin, karena habis diguyur hujan di jalanan setelah mengambil motor di parkiran mall.
"Assalamu'alaikum," Meski terbilang cukup berada, aku memang lebih senang kemana-mana naik motor. Selain karena tidak terlalu terjebak di kemacetan karena bisa meliuk-liuk, angin jalanan yang menyapa bisa sedikit mendinginkan otakku yang sering tidak karuan.
Sejujurnya kondisi keluargaku tidak sebaik apa yang dilihat orang lain. Hubungan setiap orang di dalam rumah ini tidak terlalu baik, tetapi karena pekerjaan yang menuntut membuat papa dan mama terus membangun citra keluarga harmonis di depan publik mau pun kamera. Meski kenyataan sesungguhnya, berbeda seratus delapan puluh derajat.
"Mas Gama, kok basah semua?"
Mbok Inah, asistem di rumah kami, yang sudah ku anggap sebagai ibu kedua ku lari tergopoh-gopoh dari arah dapur. Melihatku yang basah-basahan, dia terlihat sangat khawatir. Padahal kami tidak ada hubungan darah, tetapi beliau adalah orang pertama yang selalu khawatir dengan kondisiku.
"Tadi kena ujan mbok di jalan. Tapi udah nanggung, jadi Gama trabas aja." Jawabku sembari tersenyum.
Sebagai seorang laki-laki, aku sudah terbiasa bersikap kuat. Apalagi sebagai anak satu-satunya, aku tidak pernah menunjukkan kelemahanku pada orang lain.
Semua orang menganggap hidup ku sempurna, tanpa tau apa yang sebenarnya aku alami. Namun aku juga tak berniat menjelaskan, dan membiarkan saja kesalahpahaman itu menjadi fakta yang dipercayai oleh orang-orang di luar sana.
"Ini Gama bawain buku resep buat bibi," aku memberikan sebuah paper bag yang sudah basah. Tapi untungnya buku di dalamnya masih berplastik, jadi sepertinya tidak akan menjadi masalah.
"Loh," Mbok Inah terlihat kaget.
"Kemarin Gama gak sengaja denger mbok pengen belajar bikin kue, tapi gatau belajar dari mana. Itu Gama beliin, biar nanti Gama bisa cicipin hasil percobaannya, mbok." Terangku.
Wajah Mbok Inah terlihat berkaca-kaca. Sebuah ekspresi yang sering beliau tunjukkan padaku. "Gama masuk kamar dulu ya," bukannya tidak mau berlama-lama berinteraksi, aku hanya tak mau dikasihani. Aku tahu Mbok Inah ingin belajar membuat kue karena ingin membuatkannya untukku, sebab aku pernah mengatakan bahwa aku kangen dengan rasa kue buatan mama.
***
"Selamat siang Mas Gama, Oliv mau mengucapkan terima kasih sekali lagi."
Sembari mengeringkan rambut menggunakan handuk, aku tersenyum. Membaca pesan ucapan terima ksih Oliv, yang dia kirimkan melalui ponsel abangnya.
Meski mengatakan ingin memiliki adik, sebenarnya aku bersyukur karena tidak memilikinya. Aku tidak mau dia merasakan ketidakharmonisan keluarga, karena rasanya pasti akan sangat berat.
Aku yang seorang laki-laki saja, mengakui hal itu. Bahkan ketika bertahun-tahun telah berlalu, rasanya amat sangat masih menyedihkan ketika mengalaminya kembali. Padahal sudah entah ke berapa kali hal-hal seperti itu terjadi.
Aku melempar handuk yang aku gunakan ke atas kasur, lalu menyusul dengan melemparkan diriku ke tempat yang sama.
Sembari memandang platform-platform kamar, aku membalas pesan dari bocil bernama Olivia ini. "Sama-sama adek. Kapan-kapan kalau ada waktu kita main lagi."
"Anjing!"
"Tercium aroma-aroma pedofilia,"
"Takut.." tambahnya yang disertai dengan stiket tertawa-tawa.
Dari ketikannya, aku sudah tahu bahwa ponselnya sudah kembali kepada pemilik aslinya. "Kalo ngomong dijaga, Bang."
Aku dan Jeno memang sudah sangat akrab. Bahkan dia sudah menjadi satu-satunya orang yang aku percayai untuk melihat semua sikap baik burukku dan juga keluargaku.
"HAHA."
"Bercanda,"
"Masalahnya gimana? aman?" aku menanyakan masalah di ekskulnya. Namun melihat dia sudah kembali ke rumahnya, aku tebak bahwa masalahnya tidak seserius itu.
"Aman mas bro," jawabnya yang dilanjutkan dengan mengirim banyak stiker lagi. Stiker alay. Bahkan semakin banyak dan tidak nyambung, hingga membuatku kesal.
"Alay," aku harus menghentikkannya sebelum semakin gila. Jeno ini memang kadang-kadang agak-agak anaknya. "Lo kirim lagi gue blok!" Sekarang stikernya sudah mulai merambah ke kanak-kanakan, seperti stiker dora, panda, dan bahkan anabul-anabul dengan berbagai gaya.
Di ujung sana, Jeno kembali mengetik. Namun aku tunggu beberapa saat, pesannya tak kunjung masuk. Kenapa?
Dua menit berlalu dia masih mengetik. Namun tetap saja, tidak ada satu pesan masuk pun yang aku terima.
"Kenapa?" karena jengah menunggu, akhirnya aku kembali mengirim pesan.
Dan yang terjadi adalah, aku malah yang jadi kebingungan harus berbuat apa.
"Mas Gama marah ya Oliv kirim-kirim stiker?"
Astagfirullah, kenapa tiba-tiba ada si bocil lagi?
Nah loh, gimana nih?
Jangan lupa yang belum follow profil aku, follow dulu ya teman
Terima kasih
KAMU SEDANG MEMBACA
Minis(try)
Chick-Lit"Akhirnya gue keterima magang, Bang!" Teriaku pada Bang Jeno, kakakku yang sampai sekarang belum bisa dibanggakan. Bang Jeno yang sedang bermain ponsel mendengkus, "Magang modal orang dalam aja bangga," "Ngakunya anti nepotisme, tapi mau magang aja...
