Kantor sudah sepi saat akhirnya aku selesai mengreander sebuah video. Jarum jam pendek sudah menunjuk angka delapan malam. Wajar sekali jika orang-orang sudah pulang ke rumahnya sendiri-sendiri.
Bisa dibilang ini adalah jam kerja yang aku tambahkan sendiri. Jam kerjaku berakhir pukul empat sore, tetapi karena pekerjaan yang sedang aku lakukan terasa nanggung untuk ditinggalkan, pada akhirnya aku memaksa untuk menambahkan jam kerja. Menyelesaikan sebuah video perjalanan Pak Gama ketika mengunjungi sebuah komunitas penggiat wisata di daerah Jawa Barat.
Aku meregangkan otot yang terasa kaku. Memijit pelan kedua betis dengan tanganku sendiri, lalu menggoyang-goyangkan badan ke kanan dan ke kiri. "Aduh lelahnya..." Ujarku pada diri sendiri.
Aku menyapu bersih ruangan yang sudah sepi ini. Baru sadar bahwa suasana terasa sangat berbeda, mungkin karena hanya ada aku seorang di ruangan besar ini. "Anak magang mana lagi yang dedikasinya segede gue? kagak ada!" Aku memuji diriku sendiri.
Pada beberapa momen, memang kadang aku tidak tau waktu. Saat-saat ketika asyik mengerjakan sesuatu, maka aku tidak akan berhenti sebelum apa yang aku kerjakan selesai.
Aku menarik napas dalam-dalam, sebab akhirnya bisa menyelesaikan hari ini dengan baik, meski dengan mengelembur.
To be honest awalnya aku tidak melakukan pekerjaan ini secara sukarela. Hari ini aku menjadikan kegiatan menyibukkan diri sebagai pengalihan agar tidak memikirkan banyak hal tidak jelas yang terus bersarang di dalam kepala.
Sejak kejadian liburan Minggu lalu, aku belum bertemu kembali dengan Pak Gama. Kerjaanku pun hanya mengedit-edit footage untuk dijadikan video, lalu menguploadnya di berbagai sosial media sehingga tidak menuntut interaksi dengan beliau. Makanya aku memilih lembur lewat jalur ilegal supaya tidak kepikiran hal-hal tidak berarti seperti ini.
Baru saja aku memasukkan beberapa barang ke dalam tas, suara langkah kaki seseorang yang mendekat membuatku reflek menghentikan kegiatan. Meski hidup di era modern, kadang-kadang pikiranku memang sedikit liar hingga berpikir yang tidak-tidak. Nggak mungkin hantu kan ya?
"Oliv?"
"Astaghfirullah," aku berteriak karena terlalu kaget. Tiba-tiba ada suara berat yang memanggil, dan horornya nama yang dipanggil adalah namaku.
Dengan keberanian yang tersisa, aku akhirnya menoleh. Lalu nenemukan sosok yang sudah cukup lama tidak aku temui. "Pak Gama?" beoku pelan.
Dari ekspresi wajahnya Pak Gama terlihat heran. "Kamu ngapain?"
Aku menunjuk diriku sendiri. "Saya?"
"Lagi siap-siap pulang." Lanjutku menambahkan.
"Saya tau kamu lagi siap-siap pulang. Maksud saya ngapain kamu jam segini belum pulang?"
"Jam kerja kamu selesai jam empat sore kan?" tanyanya sembari meletakkan tas kerjanya di meja yang tepat berada di samping meja kerjaku.
Gerakannya yang sedang membuka dua kancing atas kemeja slimfitnya terlihat sangat seksi. Padahal apa yang dia lakukan adalah sebuah hal lumrah, untuk orang yang suntuk karena lelah bekerja. Pikiran lo tolong dikondisikan, Liv!
"Tadi ada kerjaan yang belum selesai, Pak. Jadi saya selesaikan dulu."
"Siapa yang nyuruh?"
Aku menggeleng. Enggan membuatnya salah paham dan berakhir dengan timbulnya masalah karena permasalah lembur ilegal diperkarakan. "Nggak ada kok, Pak. Malah tadi saya udah disuruh-suruh pulang sama Mas Joshua. Tapi dasarnya saya yang pengen selesein video yang udah terlanjur saya edit, jadi saya nggak pulang dulu."
"Eh, malah keterusan sampe jam segini." Lanjutku yang diakhiri dengan meringis pelan.
Pak Gama menghela napas. Entah karena lelah, atau karena mendengar alasanku. "Ya udah ayo balik," tidak menanggapi alasan yang aku berikan, dia justru mengajak pulang.
"Bapak duluan saja, ojol saya belum sampai." Karena malas meminta jemputan, aku memilih untuk memesan ojek online. Toh ini belum terlalu malam, jadi tidak akan ada apa-apa walaupun aku pulang dengan orang yang tidak dikenal.
"Saya tungguin,"
Baru saja aku ingin menolak, ekspresi wajahnya langsung menunjukkan seperti tak ingin ditolak. Makannya aku mengangguk saja, lalu secepat kilat menyelesaikan kegiatan memasukan barang-barang.
Entah kenapa kecanggungan rasanya menyelimuti atmosfir di antara kami. Meski berjalan bersisian tanpa jarak, baik aku maupun Pak Gama tidak ada yang mengeluarkan kalimat sama sekali. Padahal terakhir kali kami bertemu, dia ini sudah cukup talk active dan bahkan beberapa kali berhasil membuatku mati kutu.
"Baru turun, pak?" suara satpam yang menyapa Pak Gama saat kami baru keluar lift dijawabnya dengan senyuman. Sebuah gesture yang amat tidak aku sangka bahwa orang penting sepertinya bisa bersikap ramah.
"Loh, neng Oliv baru pulang juga?" sempat terlihat agak kaget saat melihatku melangkah di belakang Pak Gama, Pak Bin, which is satpam yang berjaga malam ini berhasil menata kembali ekspresinya.
"Iya, Pak. Kebetulan tadi masih ada pekerjaan," aku tersenyum ramah kepadanya. Meski begitu, aku tetap melanjutkan langkah karena perjalanan menuju lobi masih harus ditempuh beberapa meter lagi.
Aku menghela napas lega ketika mobil yang aku pesan sudah terdiam manis di depan sana. It means aku tak perlu terjebak lebih lama dengannya, meski tidak bertemu dengannya juga lah yang membuatku uring-uringan.
"Maaf pak, itu mobil ojol saya sudah sampai. Saya duluan ya..." Aku meminta izin untuk mendahului. Namun alih-alih mengiyakan, dia malah justru ikut berjalan ke arah yang aku tuju.
Lah, bukannya mobil dia ada di basement ya?
"Saya numpang ya? hari ini saya gak bawa mobil. Budi juga udah saya suruh pulang."
Tanpa menunggu jawaban, atau at least sebuah anggukan persetujuan, Pak Gama langsung melengang tanpa keraguan. Seolah dia yang memesan, dengan cepat dia menyapa Pak supir untuk memastikan. Lalu tanpa aku sadari, tiba-tiba sudah masuk dan duduk bangku depan.
Ini konsepnya gimana ya? Pak Gama mau numpang sama ojol gue?
KAMU SEDANG MEMBACA
Minis(try)
Chick-Lit"Akhirnya gue keterima magang, Bang!" Teriaku pada Bang Jeno, kakakku yang sampai sekarang belum bisa dibanggakan. Bang Jeno yang sedang bermain ponsel mendengkus, "Magang modal orang dalam aja bangga," "Ngakunya anti nepotisme, tapi mau magang aja...
