CHAPTER 22: Sharp Triangle

48 8 0
                                        

Caesar’s View

“Caesar…”

Hmm? Alvin? Dia memanggilku?
Semenjak kejadian di kelas kemarin hubunganku dan dia benar benar merenggang. Dia dengan sukarela memindahkan posisi duduknya ke samping Ardi, Padahal aku ga minta.

Yahh, harus kuakui aku sudah benar benar hilang kesabaran menghadapi dia. Setiap kami bertemu pandang, tatapannya seakan akan selalu menantangku. Aku jelas tidak terima, tapi aku memutuskan untuk selalu membuang muka setiap dia memandang ke arahku

“Sir Caesar, Lord Arsais daritadi menunggumu…!!”

Axel? Dia ikut berteriak juga? Jadi dia ada disamping Alvin?
Aku bergegas keluar dari ruang Strategi, ruang tempat aku dan Axel biasa bekerja membahas strategi perang untuk pasukan kami.

Aku mendorong pelan pintu kayu yang ada di hadapanku, kususuri lantai marmer dengan lambang Harmonia tercetak di atasnya. Tak lama aku berjalan, aku segera berhadapan dengan kedua orang yang daritadi mencariku

“Ada apa…?” Aku menatapnya tajam, kemudian memindahkan pandanganku ke Axel

“Bagaimana dengan laporan tentang keadaan Shrine Guard? Apa kau sudah mengatur pertemuan dengan keempat Bishop?”

Aku menatap dingin ke arahnya.
Arsais membalasku dengan sebuah senyuman dingin.

“Orang yang kukirim ke Central belum menampakkan dirinya di hadapanku, dan untuk pertemuan para Bishop, aku masih menunggu balasan dari mereka. Mungkin sore ini aku akan kembali mengirim surat kesana.”

Arsais mengangguk pelan, kemudian kembali menyeringai tanpa disadari oleh Axel.

“Baiklah..” Ucapnya ringan.

“Axel, temani aku jalan jalan…” Arsais merangkul bahunya pelan, dan membawa Axel pergi.

Axel sedari tadi selalu menghindari pandangannya ke arahku. Matanya terlihat kosong

Perih…
Itulah yang aku rasakan sekarang.
Aku sudah menyadarinya. Perasaanku ke Axel mulai tumbuh, dan setelah melihat semua usahanya, dan dia melakukan semuanya tanpa ingin aku ketahui, aku benar benar merasa aku telah menyakitinya. Rasanya aku tidak lagi pantas untuk mengeluarkan sebuah katapun kepadanya.

Tapi saat seperti ini? Aku melihat dia berdua dengan Alvin?
Dadaku Sesak!
Aku ga rela! Aku ga bisa membiarkan Alvin mempermainkannya begitu saja. Aku tahu Alvin sebenarnya tidak menyukainya, tapi kenapa dia seakan menjauhkan Axel dariku?

Dadaku terasa dingin, tenggorokanku terasa kering hanya karena mengingat semua yang baru saja terjadi.

Tanpa aku sadari, kakiku sudah bergerak sendiri. Aku mengikuti mereka secara diam diam.

Dia membawa Axel kemana?

Apa yang ingin dilakukannya?

Kenapa rasanya aku ingin merebut Axel darinya?

Tapi, dengan apa yang sudah aku lakukan, aku tidak merasa pantas berada di samping Axel.
Semenjak kejadian itu, hubunganku dengan Axel semakin merenggang. Apalagi hubunganku dengan Alvin. Bahkan di sekolah pun kami tidak bertegur sapa. Dia lebih memilih tidur di kursinya daripada menemani aku ke kantin seperti biasa, walau biasanya di kantinpun dia memang Cuma tidur tiduran sih (=_=”)

Aku mengikuti mereka berdua ke beranda di kamar Alvin.
Kurapatkan diriku ke dinding agar aku bisa melihat mereka tanpa ketahuan.
Alvin tampak diam bersandar di tepi pagar, sedangkan Axel tampak duduk di bangku kecil di beranda itu.
Sejenak mereka terlibat pembicaraan kecil. Wajah mereka berdua tampak sangat serius. Apa yang sebenarnya mereka bicarakan! Aku mau mendengarnya!

Axel meremas kedua tinjunya dan berbicara dengan penuh emosi kepada Alvin yang tampak menatapnya datar. Axel terus berbicara hingga akhirnya segaris airmata meleleh di sisi matanya.

Dia menangis?
Kenapa?
Apa aku lagi?
Kenapa selalu aku?

Aku menyandarkan diriku ke pelataran, aku sudah tidak mampu lagi melihatnya menangis. Dia sudah terlalu banyak menderita bagiku. Kenapa aku begitu jahat?
Kutarik nafas sedalam dalamnya, dan kembali kulongokkan perlahan kepalaku ke arah mereka
Adegan berikutnya yang kulihat benar benar membuatku panas.!

Aku melihat Alvin memeluknya pelan, dan membelai rambutnya, sedangkan Axel tampak menyandarkan wajahnya di dada Alvin. Dia masih terisak pelan.
Mukaku terasa memanas melihat mereka. Ada perasaan benci yang besar saat aku membalikkan mukaku dari mereka. Apa ini? Aku ga pantas ngerasa begini! Alvin jelas lebih memperhatikan dan mengerti dia daripada aku!

Axel tampak membalas pelukan Alvin. Dia memeluk Alvin dengan kuat sebelum akhirnya dia melepaskan pelukannya dan tertawa riang kembali. Alvin mengelus rambutnya pelan, dan merangkul Axel.

Begitukah? Wajah cerianya sudah kembali, Alvinlah yang mengembalikannya. Aku telah mengambil wajah itu, dan sekarang Alvin berhasil mengembalikannya.

Syukurlah.

Tapi perasaan sakit apa ini? Kenapa dengan perasaan ini?
Aku menyandarkan diriku ke dinding, dan melorot turun hingga terjatuh ke lantai

“Beginikah hukuman untukku? Seberat itukah salahku….?”

Aku menutup mataku dengan tanganku, dan tertawa pelan, untuk menutupi segaris airmata yang perlahan menuruni wajahku.

Silver’s View

Arsais masih tetap memeluk Axel dengan lembutnya, dia menutup matanya.

“Hmm…”

Sejenak kemudian ia melirik ke arah dalam ruangannya dan menyeringai pelan. Segaris wajah penuh misteri tergambar di wajahnya

“Lord Arsais, terimakasih….”

Axel melebarkan senyumnya dan menatap polos ke arah Arsais.

“Diluar panas, kenapa kita ga masuk aja sekarang Lord Arsais…?”

Arsais tersenyum pelan mendengar perkataan Axel, kemudian ia melirik sebentar ke arah ruangannya.

“Jangan, jangan masuk sekarang…”
Axel mengangguk perlahan.

“Ah, Aku mungkin ga bisa online untuk beberapa hari kedepan.”

Axel tersenyum lebar sambil melirik kearah cokelat yang disodorkan Arsais ke arahnya. Tangan kanannya dengan malu malu mengambil cokelat itu dan membukanya.
Arsais hanya mengangguk pelan dan kembali menyandarkan kepalanya ke dinding.

“Ya, baiklah kalau begitu, tapi jangan terlalu lama, oke?”

Axel mengangguk kuat, dan menggigit batang cokelatnya

“Siap!” Axel kembali menghiasi wajahnya dengan senyuman lebarnya yang sekarang sudah penuh dengan cokelat, tapi Alvin yang diajaknya bicara tampak sudah asik dengan pikiran lainnya.

The Night and The DayTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang