Yue's View
"...atau harus kupanggil, Lord Jyo...?"
Ketakutanku benar benar jadi nyata.
Aku tidak pernah berfikir akan jadi seperti ini sebelumnya.
Arsais, adalah Bishop dari Harmonia, dan sekarang, berarti dia adalah orang yang menjadi lawan utamaku dalam peperangan ini.
Sejak aku melihat fotonya saat kasus penyerangan di perbatasan Aronia, aku selalu berdoa agar saat ini tidak pernah terjadi.
Tapi tampaknya memang aku tidak bisa menghindari kenyataan ini.
Aku juga sempat curiga saat melihat dia menggunakan Rune di Forest of Confusion
Mana mungkin orang biasa bisa memiliki rune sekuat itu, bahkan Rune yang bisa menghancurkan tubuh pemiliknya?
Seharusnya aku sadar itu adalah True Rune dan tidak mungkin dia adalah orang biasa.
"Kenapa kau tidak berani menatapku, Lord Yue?"
Deg
Jantungku berdersir, seluruh tubuhku terasa bagai diguyur air es.
Aku merasakan Arsais menyeret langkahnya mendekatiku.
Tubuhku sontak segera melangkah mundur menjauhinya.
"Kenapa kau menjauhiku? Bahkan anak panah itu? Kau yang melepaskannya bukan? Aku mengenalinya. Itu anak panah yang dulu kuhadiahkan padamu. Dan rune ini.... Rune ini yg membuatku sadar kau adalah Cardinal..."
Dia melemparkan sebuah anak panah kepadaku, sebuah anak panah berwarna putih keperakan dengan ukiran indah di sepanjang batangnya.
"Aku tak menyangka panah itu akan kembali ke padaku dengan cara ini. Panah ini tertancap di tubuhku..."
Deg.
Aku hanya memanah untuk memimpin batalyon panahku.
Aku tidak menyangka panah itu akan menancap di tubuhnya.
Sungguh kebetulan yang tidak menyengangkan.
Dari ribuan panah yang terlempar, mengapa harus panahku yang tertancap?
Pikiran pengecut mengisi kepalaku.
Andaikan bukan panahku, apakah dia tidak akan semarah ini?
"Lord Yue, angkat kepalamu..."
Arsais berdiri sekitar 3 meter dari tempatku. Dia berdiri diam.
Dari arahku melihat, ada banyak darah di lantai, dan terus menetes.
Aku yakin dia terluka sangat parah.
"Cardinal, apa anda terluka?"
Lady Kanna bertanya dengan nada kuatir kepadaku, karena aku hanya diam membatu di hadapan Arsais.
Aku menggeleng lembut, kemudian tersenyum kearah wanita di belakangku.
"Tidak apa apa Kanna, aku baik baik saja.."
Kanna dan Keith yang sedari tadi mengikutiku menatap dengan kuatir ke arahku.
Aku tersenyum lembut untuk menenangkan mereka.
Aku menarik nafas beberapa kali, kemudian menguatkan tubuhku untuk menatap ke arahnya.
Aku serasa melorot dari pijakanku saat aku memandang hasil perbuatan pasukanku pada Arsais.
Apa yang aku lihat saat ini benar benar jauh dari apa yang aku sering lihat dulu.
Tubuhnya yang dulu tampak kuat dan lincah, sekarang tampak lemah dan penuh luka.
Bajunya tampak sobek sehingga meninggalkannya hampir bertelanjang dada, dan aku bisa melihat banyak sayatan di berbagai tempat.
Wajah manisnya pun sekarang tampak letih, beberapa luka tampak jelas di wajahnya.
Benar benar pemandangan yang tidak ingin aku lihat.
Inikah yang sudah aku lakukan padanya?
Aku sungguh hina.
"Lord Yue, aku Arsais, Bishop dari Valerie. Kau sudah mengetahuinya kan?"
Aku melebarkan mataku, menatap wajah dinginnya yang sekarang tersenyum sinis ke arahku.
Aku ingin membuka mulutku, tapi wajahnya membuat mulutku terkatup dengan mantap dan menolak untuk berbicara
"Bahkan sejak awal Campaign palsu di North Wall, kau sudah mulai mendekatiku, apa pertemuan di Hutan itu sudah kau atur?"
Dia menatapku dengan senyum dingin, selangkah kakinya bergerak mendekatiku.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Night and The Day
FantasíaLove Story in Fantasy Game and Real Life! Check it out! Based on Suikoden Game! I rewrite and Edited some parts and Ending from my last story.... Its in Indonesian!
