Axel's View
"Jerat kakinya, Axel! Jerat kakinya!"
Kuhunjukkan tongkat dari punggungku, dan sebuah tali berbentuk sarang laba laba langsung menjerat kaki makhluk di depan kami. Makhluk itu meraung ganas.
"Caesar! Maju! Aku Assist!"
Lord Arsais mengangkat tangan kirinya dan sesosok malaikat besayap delapan muncul diatas kami bertiga. Itu adalah lambang perlindungan dari Lord Arsais yang dipergunakan untuk meningkatkan serangan dan pertahanan pasukannya.
Sir Caesar dengan sigap menghunus pedang besarnya. Dia menebaskannya beberapa kali ke monster itu rambut panjang di kedua sisi wajahnya ikut meliuk liuk saat ia menggerakkan badannya dengan lincah.
Monster raksasa itu meraung kencang dan melepaskan dirinya dari ikatan jaringku. Sir Caesar segera mundur dan mengganti pedangnya dengan dua buah belati panjang.
Monster berbentuk banteng itu meraung marah dan segera berlari kencang ke arahku. Aku yang tanpa persiapan segera mencoba melancarkan mantra pengikat lagi.
"Axel! Lari!"
Monster itu berlari dengan kecepatan tinggi ke arahku. Aku segera berbalik dan berlari menghindarinya, tapi kecepatanku tidak bisa mengalahkan monster itu yang terasa semakin mendekat.
Aduh! Aku deg degan! Tapi mau gimana lagi! T_T
Bruak!
Sir Caesar tiba tiba berlari ke arahku dan menahan monster itu. Tapi, karena terlalu kuat hentakkannya langsung melemparkan Sir Caesar.
"Sir Caesar...!"
Aku terpekik saat melihat Sir Caesar terhempas beberapa kali sampai akhirnya dia kembali berusaha berdiri.
Monster itu kembali mengarahkan matanya kepadaku. Dia mendengus beberapa kali, kemudian mengangkat kapaknya tinggi dan berlari ke arahku. Lord Arsais tampak berkonsentrasi merapalkan mantranya. Keringat mengucur deras dari keningnya sementara kedua tangannya tampak mengumpulkan berkas berkas cahaya kebiruan.
Monster itu dengan ganas mengayunkan kapaknya ke arahku
Hiks, Kenapa selalu aku jadi sasaran kapak sihh T_T
Syash!
Terdengar suara kapak membelah keheningan. Aku tahu kapak itu sudah terbenam, tapi tidak di tubuhku. Aku membuka mataku perlahan, takut untuk melihat apa yang mungkin terjadi.
Wajahku basah oleh darah, dan Sir Caesar berdiri di hadapanku. Pedangnya sudah dilemparkannya untuk mempercepat larinya, dan saat ini dia menahan kapaknya dengan badannya. Kapak itu menancap kuat membelah pinggangnya.
Darah mengucur deras dari pinggangnya.
"Sir.. Caesar...?"
Dia menoleh, dan menatapku dengan tatapan lemah, Tatapan hangatnya kembali bisa kurasakan. Aku merasakan kembali debaran kuat di dadaku saat wajah kami bertemu.
Dia tersenyum lemah, Dari mulutnya mengucur segaris tipis darah. Dia terbatuk pelan, mengeluarkan darah dari mulutnya.
"Dengan begini, kami impas...! Aku sudah melindungimu!"
Aku masih ternganga menatapnya. Aku terpesona, sekaligus ketakutan. Tubuhnya masih tergantung lemas di kapak monster itu, Dia memeganginya dengan kencang agar monster itu tidak bisa mengayunkannya.
"Aarkh!"
Sir Caesar menjerit kesakitan, saat monster itu mengguncang kapak yang masih terbenam di tubuhnya, tapi kedua tangannya tetap memegangi kapak itu dengan kuat, menghalangi monster itu menggunakannya lebih jauh.
"Divine Wrath!"
BLARR!
Sebuah tiang cahaya besar menghantam monster itu dan menghancurkannya tanpa sisa. Lord Arsais mengatur nafasnya yang tersisa dan segera berlari ke arah kami. Tampaknya sihir barusan cukup menguras tenaganya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Night and The Day
FantasiaLove Story in Fantasy Game and Real Life! Check it out! Based on Suikoden Game! I rewrite and Edited some parts and Ending from my last story.... Its in Indonesian!
