Kevin's View
Kepalaku terasa berdentum dengan kencang, seakan isinya ingin meledak keluar dari kepalaku. Aku berjalan terhuyung, mencoba menguasai langkahku.
Mulutku terasa pahit, telingaku masih terus berdengung, tampaknya karena efek minuman yang tadi aku tenggak.
Entah ide darimana yang muncul dari kepalaku, entah mungkin karena sering mendengar bahwa minuman alkohol bisa membantumu sejenak melupakan masalah, mendadak aku dengan mudahnya menyambangi sebuah kafe yang menjual minuman keras secara diam diam, dan menenggak beberapa gelas minuman keras yang cukup berat.
Aku berpikir, dengan menenggak alkohol, mungkin aku bisa lebih menenangkan pikiranku. Tapi ternyata hal sebaliknya yang terjadi. Tidak ada ketenangan, yang ada hanyalah kebingungan, dan perasaan yang benar benar menjijikan dari dalam diriku.
Aku melangkah gontai menyusuri pinggiran jalan yang sudah sepi dilalui orang. tak tahu kemana arahku berjalan, walau aku tadinya ingin pulang kembali ke rumahku, tapi tampaknya pikiranku sudah terlalu kacau untuk berkonsentrasi, Aku membiarkan kakiku membawaku kemanapun dia ingin berjalan. Aku memang pergi berjalan kaki, karena aku takut mabuk akan membahayakanku saat aku membawa kendaraan bermotor, makanya aku memutuskan pergi dengan berjalan kaki.
Bruk!
Akhirnya kakiku menyerah untuk menopang tubuhku. Aku jatuh terjembab di pinggiran jalan, kurasakan kesadaranku mulai menurun.
"hahaha....hahahahahaha...!"
Aku menertawakan diriku sendiri, menertawakan kelemahanku, dan menertawakan tindakan bodoh yang telah aku lakukan. Sebegini lemahnyakah aku? Dan aku bisa berkata kalau aku laki laki? Mungkin Axel pun bisa lebih dewasa daripadaku saat menentukan pilihannya. Aku tidak pantas disebut sebagai laki laki. Aku tidak pantas menolak Axel dan mempermalukan harga dirinya, karena harga diriku tidak lebih tinggi dibangingkan dia.
Apa yang bisa aku banggakan? Saat ada masalah aku hanya bisa lari, berusaha menjauh dan pura pura tidak perduli dengan masalahku
Memalukan!
Hujan perlahan mulai turun, bagaikan mengerti isi hatiku, dan menggantikanku menangis. Aku menutup mataku dengan telapak tangan. Kuseka keringat yang muncul di keningku. Kutatap sekelilingku.
Sepi.
Lengang.
Tidak ada seorangpun, hanya dinding semen yang membentengi jalan ini di kiri dan kanannya. Lebih baik seperti ini kan? Daripada ada yang melihatku, mungkin mereka akan membawaku ke kantor polisi atau lebih buruk, mungkin mereka berniat jahat padaku.
Pening di kepalaku semakin menjadi jadi, aku menutup mataku, dan membiarkan diriku jatuh ke lantai. Aku sudah terlalu lelah untuk bertahan. Tubuhku mulai basah oleh air hujan yang perlahan mulai menggenangi lantai tempatku terbaring. Kurasakan dingin mulai merasuki tubuhku, tapi kepalaku sudah terlalu sibuk untuk merespon jeritan dari tubuhku. Sial, kalau begini terus tubuhku ga akan tahan...
Aku berusaha meminta tolong, tapi kata kataku tercekat di tenggorokanku, menolak untuk keluar dari mulutku. Aku merapatkan tubuhku, berusaha mengusir dingin yang datang. Perlahan pandanganku semakin mengabur. Aku akhirnya memejamkan mataku.
"KEVIN?! APA INI?! SIAL!"
Sebuah suara yang jelas kukenal terdengar samar dibalik dengungan telingaku.
Aku merasakan tanganku ditarik, aku dipaksa berdiri, sesosok pemuda kecil yang tampak sama basahnya denganku membopongku dengan susah payah.
"Kamu ngapain disini!"
Dia kembali menyalak marah. Baru kali ini aku mendapatkan raut yang begitu berwarna di wajahnya. Aku ingin membalas perkataannya, tetapi mulutku terkunci rapat.
Dia membopongku sampai ke ujung lorong, dan memasukkanku ke dalam mobil lewat pintu belakang mobilnya, Aku terbaring lemah, alkohol tampaknya sudah menguasai seluruh celah di tubuhku, membuatku lumpuh dan tidak berdaya. Aku hanya bisa menatap lemah pada sosok yang sekarang sedang duduk di bangku pengemudi yang sesekali melirik ke arahku.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Night and The Day
FantasiaLove Story in Fantasy Game and Real Life! Check it out! Based on Suikoden Game! I rewrite and Edited some parts and Ending from my last story.... Its in Indonesian!
