Kenny's View
". . . . . . . . . . . . . . . . ."
Aku hanya bisa ternganga, rasanya, baru 2 hari kami ga datang ke rumah sakit ini karena benar benar sibuk dengan urusan masing masing, tapi kayaknya dalam 2 hari itu ada hal yang sangat penting terjadi dan merubah kedudukan kutub utara dan selatan (okay, too much!)
"Aku masih lapar...."
Whatz!
Aku nyaris melompat dari kursiku (okay too much)
Alvin menatap ke arah mamanya dengan senyuman manis, sementara mamanya dan Arvin yang duduk disampingku tampaknya hanya bisa menggeleng geleng sambil terheran heran.
"Ada apaan sih ama Alvin, Ar?"
Aku menarik narik lengan baju Arvin yang duduk disampingku.
"Emhh?"
"Alvin, bukannya kemarin masih murung murung gajelas ya?"
Arvin hanya mengangkat bahunya, sembali menggelengkan kepalanya.
"Entahlah, semenjak dia ngobrol dengan Dokter Rio dia jadi banyak makan, dan lebih banyak cerita juga, tapi tetap aja ga cerita soal apa yang terjadi sama dia waktu dia ga sadarkan diri di kamar."
Arvin menghela nafasnya dengan berat.
Aku memahami perasaannya.
Punya adik kayak gunung es batu dicampur batu pualam emang ribet!
"Eh, Kevin, aku tadi ada cokelat dimana ya?"
"Gatau..."
(=3=)
Udah si Alvin mendadak happy happy ga jelas, sekarang giliran si Kevin yang badmood abis abisan.
Dua hari ini kerjaannya cuma melamun melamun gajelas, trus kadang kadang bisa ngubek ubek rambutnya sendiri.
Aku jadi bawa sisir kemana mana, biar kalo dia ubek ubek rambut aku langsung sisirin rambutnya lagi.
Well, abis gitu dia marah sih.
(''=3=)
Tapi ya biarlah, daripada rambutnya berantakan.
Aku mengambil sebatang cokelat dari dalam tas ku, kemudian aku mematahkannya sedikit.
"Nih Kev, dicoba dong, biar ga badmood...."
"Gausah..."
Kevin kembali menyandarkan dagunya di atas kedua tangannya, kemudian kembali mengerutkan keningnya seakan dia sedang memikirkan sesuatu.
Humph.
Gini nih.
Ada apa apa pasti gamau kasitau aku.
Lain kali aku biarin aja puyeng sekaliann.
Hufh.
Aku mengupas bungkus cokelat berwarna biru dengan guratan pink itu, dan melepaskan kertas berwarna perak dari cokelatku.
Kupatahkan sedikit ujung cokelat itu, kemudian kucubit pelan pinggang Kevin.
"Aww Ammh.... MMH! KENNY!"
Kevin meraung kesal karena aku segera melempar sepotong cokelat ke dalam mulutnya saat dia menjerit kaget.
"Enak kann?"
Aku tersenyum manis ke arahnya.
Mama Alvin yang sedaritadi memperhatikan kami tertawa, kemudian mencubit pipiku dengan gemas.
"Aduhh, anak ini, lucu banget! Gaboleh usil ya! kalian bener bener kayak kakak adik ya. lucu...!"
Mama Alvin kembali mencubitku, kemudian menyodorkan sebuah kue kepadaku.
"Nih, ayo dimakan! Abis Alvin ga suka manis, kamu aja yang makan!"
Aku segera menerima kue itu dengan girang.
"Makasi tann!"
Mama Alvin mengangguk dengan ramah, kemudian beranjak keluar ruangan.
"Tante pergi dulu sebentar ya, kalian bisa nungguin Alvin bentar kan?"
Aku dan Kevin mengangguk berbarengan.
Alvin, apa yang perlu ditungguin dari dia.
Dia aja tiap hari cuma duduk disitu, ngeliatin...
Eh...
Enggak ya?
Alvin tampak asik menikmati acara televisi yang dipasang oleh Arvin, dia tampak menonton dengan antusias, walau wajahnya memang masih datar, tapi aku tahu kalau dia memang antusias menonton. (tau darimana emang?)
Ya taulah pokoknya, udahlah, author tuh ga dapat peran disini, jadi diem aja! (...)
KAMU SEDANG MEMBACA
The Night and The Day
FantasyLove Story in Fantasy Game and Real Life! Check it out! Based on Suikoden Game! I rewrite and Edited some parts and Ending from my last story.... Its in Indonesian!
