Loyality, Pride, Mercy
Arsais - Caesar
"Benarkah? Sepasukan tentara gabungan tanpa markas berhasil mengkudeta Aronia dan mendirikan Harmonia baru?"
Aku menghela nafas dengan jengah.
Semua obrolan orang tua ini benar benar membuatku lelah.
Aku benar benar tidak tertarik dengan obrolan mereka.
Satu satunya alasan mengapa aku sekarang duduk di tempat ini adalah karena aku adalah salah satu dari komandan perang negara ini.
Saat ini aku sedang duduk di kursi penonton, menyaksikan rapat pertemuan dari para petinggi negara bagian, sebuah event dimana semua orang yang memiliki rank sebagai Komandan dari divisi manapun wajib mengikuti, atau paling tidak menyaksikan jalannya rapat.
Apa yang disaksikan di hadapanku ini benar benar membuatku jengah, yang aku lihat hanyalah keegoisan demi keegoisan yang terus terceplos keluar dari mulut orang orang ini.
Mereka yang memiliki pangkat sebagai orang yang seharusnya melindungi, malah membicarakan tentang hal hal yang menguntungkan mereka sendiri.
Sungguh menjijikan!
Aku membuang nafas dengan jengah.
Jujur saja, aku lebih suka berada di luar, berlatih bertarung, atau mungkin berkumpul bersama rekan rekanku, dan membicarakan hal yang mungkin lebih terhormat dari apa yang dibicarakan oleh mereka.
Kupikir segerombolan prajurit rendahan mungkin akan berbicara tentang kebaikan negara mereka jauh lebih baik daripada sekumpulan tikus yang duduk di depan meja ini.
Aku hanya tertarik pada perang!
Ketertarikanku pada seni bertarung dan strategi perang jauh melampaui apapun.
Hal itulah yang membuatku begitu tertarik dan setuju untuk mengabdikan diriku pada manusia manusia rendah yang menutupi diri mereka dibalik pakaian mahal ini.
Aku menutup mataku, perasaan jengahku jauh melebihi apapun sekarang. Inikah harga dari sebuah patriotisme? Prajurit yang bertempur di peperangan, selagi kami berpikir tentang kemasyuran negara kami, sebenarnya kami hanya dijadikan alat untuk memuaskan keinginan serakah para bajingan ini?
"Menarik sekali kekuatan perang mereka, sampai mereka bisa mengalahkan pasukan yang jumlahnya empat kali lebih besar daripada mereka!"
Aku mulai merasa tertarik saat mereka berbicara tentang perang. Aku sedikit menyamankan posisi dudukku, sembari menajamkan telingaku ke arah pembicaraan mereka.
"Yeah, mereka bahkan berhasil menghancurkannya sampai tanpa sisa."
Sebuah pasukan kecil tanpa base camp berhasil menghancurkan sebuah negara? Mereka bahkan tidak memiliki pasukan Kavaleri? Menarik!
"Tapi tetap, mereka adalah sebuah negara muda, benar kan?"
Lord Gustav berbicara sambil tersenyum, disambut dengan anggukan oleh para walikota negara bagian lainnya.
"Yeah, jelas sekali mereka adalah negara baru yang belum stabil sama sekali, mereka masih lemah."
Lady Kikka mengelus dagunya sambil menyeringai lebar.
Aku mulai menyadari kemana arah pembicaraan ini. Mereka benar benar menjijikan!
"Yeah, aku dengar, kepala negara yang sekarang menjabat bukanlah Commander mereka saat mereka menyerang. Kabarnya Commander mereka tewas saat perang terakhir di Valerie."
Sergah Lord Aldy lagi, dan disambut dengan anggukan dan bisik bisik dari seluruh walikota yang hadir.
Rasanya aku mau muntah.
Aku merasakan ada firasat tidak nyaman tentang gelagat mereka. Aku mulai mencium bau busuk keserakahan manusia. Kebusukan yang dikubur dalam wajah bijaksana palsu mereka.
"Cepat atau lambat Harmonia baru akan menjadi berbahaya, dengan kekuatan perang sebesar itu, dan ahli strategi yang cerdas, aku yakin mereka akan menjadi negara yang berbahaya, jadi, kupikir sebaiknya kita memotong ranting sebelum dia menjadi dahan yang merepotkan."
Lady Anita tersenyum. Senyumnya terasa begitu memuakkan bagiku, walau bagi mereka yang sedang duduk melingkar di depan kami, senyum itu terasa begitu hebat.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Night and The Day
FantasíaLove Story in Fantasy Game and Real Life! Check it out! Based on Suikoden Game! I rewrite and Edited some parts and Ending from my last story.... Its in Indonesian!
