Arsais's View
"Kalian semua sudah siap?"
"OOO!"
Kututup telingaku untuk meredam pekaknya teriakan yang tiba tiba menghantamku.
Gila.
Mereka bisa berteriak sekeras itu tepat di belakangku.
Kalau ini bukan game, mungkin aku sudah tumbang dan pingsan karena suara mereka.
"Oke, kita ada di sesi latihan, jadi jangan takut untuk mengayunkan senjata kalian, semua yang mati tidak akan kehilangan karakternya. Kalian tahu misinya? Bunuh Axel. Cukup jelas?"
"OOO!"
Aku kembali mengerjapkan mataku
Apa mereka bodoh? sampai mereka hanya bisa menjawab O atas semua pertanyaanku.
Sudahlah, ga penting juga.
Kutatap sekelilingku, sekarang aku sudah memimpin empat puluh lima ribu orang lebih, jumlah yang persis sama dengan pasukan musuh kami yang dipimpin oleh Axel.
Kami sedang melakukan simulasi perang untuk melatih pasukan bertarung.
"Oke! Maju!!!"
Aku mengangkat senjataku ke arah pasukan Axel, semua orang segera berteriak dan berlari maju.
Hmph, mereka sedikit teledor karena tahu perang ini adalah perang simulasi.
Paling tidak mereka bisa sedikit perduli kalau ini menyangkut nyawa mereka di medan perang kan, mereka seharusnya bisa lebih hati hati dan menganggap ini perang betulan.
Aku menghela nafasku
Ya sudahlah, ga ada gunanya juga aku ngomel ngomel disini.
"Assist, cast magic! Priests! Jaga nyawa setiap orang! Garis depan! Jaga barisan jangan sampai ada celah! Habisi mereka!"
Aku melihat ke depanku, barisan Axel tampak lebih tenang dari barisanku. Wajar saja, karena pada pertarungan ini, Aku menjadi tim penyerang dan Axel menjadi tim yang bertahan.
Berbagai mantra perlindungan berpedar dari barisan mereka.
Axel masih menutup matanya, dan berdiri tegap di depan pasukannya.
Mantel hijau yang dipakainya semenjak berubah menjadi Arch Mage berkelebat tertiup angin dataran Saqqara.
"Kurangi kecepatan, kita sudah hampir sampai, bersiap untuk counter magic mereka!"
Tepat dugaanku, Axel segera membuka matanya, dan menunjuk ke arah kami dengan kesepuluh tongkatnya melayang di udara.
Berbagai serangan magic segera beterbangan ke arah kami.
"Berhenti! Semua pasang anti magic!"
Cahaya sihir itu segera berlompatan saat mereka menghantam dinding tak terlihat yang diciptakan oleh para anti mage di belakang barisan. Benturan benturan itu menciptakan suara yang memekakkan telinga.
Aku melihat ke arah Axel, kesepuluh tongkatnya masih melayang di sekitarnya, sedangkan dia sendiri sudah melayang di udara bersama kesepuluh tongkatnya.
Hmm, tampaknya Axel memilih untuk menyerang daripada menggunakan tongkatnya sebagai pillar pertahanan.
Baguslah.
"Elemental Wards!"
Ternyata dugaanku salah.
Kesepuluh tongkat itu segera membentur tanah, dan berpedar pelan.
Skill khusus Axel, siapapun yang mendekati tongkat itu pasti akan menerima damage serangan dari sihir yang dilontarkan tongkat itu.
Axel memang sulit ditebak.
Tapi paling tidak dia tidak akan menyerang kalau begini.
Baru aku selesai berpikir, dan memberikan aba aba untuk maju, mendadak Axel melesat maju, membuat kami kalang kabut.
Dia mengangkat kedua tangannya ke udara.
"Thunder that cross the divine sky! Assemble and strike down to earth! TWIN BOLT!"
Dua buah bola kilat raksasa muncul, dan segera dilemparkan oleh Axel kearah kami.
Bola kilat itu segera menghantam pasukanku dan tanah tempat mereka berdiri, meledak dan mengangkat tanah di sekitarnya, sedangkan bola petir itu meledak, melenyapkan tubuh yang berada dalam jarak letusannya.
Semua orang terpana melihat hasil karya Axel.
"Barusan dia menggunakan True Lightning Rune?"
Semua orang berbisik bisik.
"Kalian jangan terkejut! Itu memang keahliannya untuk meniru sihir orang! Magician! Serang dia!"
Penyihir kami segera melemparkan mantra mereka ke arah Axel.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Night and The Day
FantasiLove Story in Fantasy Game and Real Life! Check it out! Based on Suikoden Game! I rewrite and Edited some parts and Ending from my last story.... Its in Indonesian!
