CHAPTER 34:Again, From Zero

34 6 0
                                        

Caesar's View

"WOOOO!!!"
Pasukan kami berteriak lantang. Semua orang larut dalam sorakan kemenangan.

"Cukup..."
Arsais menyibakkan tangannya, dan dalam sekejap tempat yang tadinya sebuah lapangan stepa lebar berubah menjadi lantai batu dengan langit langit kehitaman.

"Semua boleh pulang! Pertandingan kita selesai!"
Semua orang menyimpan senjata mereka dan segera membubarkan diri dari ruangan itu. Arsais pun tidak membuang waktu segera memakai kembali sarung tangannya dan berbalik pergi.

"Lord Arsais!"
Arsais membalikkan badannya dan menatapku datar, seakan menunggu kata kata berikutnya yang muncul dari mulutku.

"Luka rune nya, kenapa ga hilang yah?"
Aku dan Arsais menatap ke arah tangan kanannya, luka luka baru tampak menghiasi tangan kanannya.

Sedari tadi aku menyadari ekspresinya menahan sakit dari luka ini, walaupun dia tidak menampakkan raut apapun di wajah dinginnya.
Arsais menggeleng pelan sambil mengangkat bahu.

"Gatau, yang pasti, di dunia nyata, tanganku juga terluka secara misterius di tempat yang sama. Entah kenapa. Dan luka ini tidak bisa sembuh dengan magic biasa..."
Kami melanjutkan berjalan sambil berjalan keluar dari pintu kayu besar yang membatasi ruangan latihan perang dengan istana utama di Great Shrine

"Sir Caesar!"
Aku dan Arsais segera menoleh ke arah asal suara itu.

"Axel!"
Axel berlari lari kecil mendapati kami. Kesepuluh tongkatnya tampak terayun ayun ringan saat dia berlari. Beban yang berat pasti, membawa tongkat sebanyak itu di tubuh sekecil itu..

"Maaf! Saya lengah! Padahal saya komandan pasukan..."
Axel membungkukkan tubuhnya dan meminta maaf pada Arsais.

Aku jadi salah tingkah karena saat ini aku berada tepat di hadapannya, dan otomatis juga mendapat permintaan maaf darinya.

"Sudahlah, hei, Axel, Arsais juga pasti mengerti akan hal itu!"
Aku menoleh ke arah Arsais, menunggu pembenaran darinya atas perkataanku barusan.

Arsais menatapnya tajam, Axel sesekali mencuri pandang ke arahnya, tapi kemudian segera kembali menundukkan wajahnya.

"Seharusnya itu tidak sampai terjadi, Axel."
Axel semakin dalam membungkukkan tubuhnnya.

"Hei! Arsais..!"
Aku menatap ke arah Arsais.
Arsais tersenyum pelan

"Tapi kamu sudah berusaha! Aku juga hampir saja terbunuh!"
Arsais merangkulkan lengannya ke pundak Axel. Akhir akhir ini sifat Arsais maupun Arsais memang jadi lebih hangat. Aku gatau ada apa sebenarnya, tapi semenjak dia suka diam diam pergi entah kemana, sedikit demi sedikit Arsais berubah menjadi lebih hangat.

Arsais melirik ke arahku, kemudian dia menyeringai pelan.
"Axel, kamu ada kesibukan? Gimana kalau kita pergi berdua?"
Aku terbelalak, Arsais melemparkan seringainya kepadaku sembunyi sembunyi.
Arsais! Dia masih berniat mengejar Axel?
Rasa cemburu kembali muncul di dadaku.

Aku meremas genggamanku, sedangkan Arsais tampak semakin melebarkan senyumnya sambil melirik ke arahku.

"Err, Aku ga ada kesibukan sih, cuma tadi aku mau pergi berlatih aja! Gimana?"
Arsais mengangguk pelan

"Aku temani?"
Arsais bertanya singkat.

"Hum! Boleh sih! Ayo!"

"HEI HEI! AKU JUGA IKUT!"
Axel terbengong bengong melihatku. Astaga! Lagi lagi aku berteriak sendiri!

"Maksudku, aku juga udah lama ga pergi latihan! Aku juga mau ikut!"
Axel tersenyum dengan menampakkan deretan giginya yang rapi.

"Ah! Ayo sekalian aja! Lord Arsais?"
Arsais baru saja selesai menulis pesan pada seseorang saat Axel menatap ke arahnya.

The Night and The DayTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang