Rio's View
"Aaaahhhh~~~~ Nyam nyam nyam... "
Christ meregangkan tubuhnya, kemudian mendecakkan mulutnya sambil mengelus perutnya.
"Enak banget deh makan di tempat ini, selesai magang disini nanti aku bakal makan disini aja tiap hari!"
Aku menghela nafasku dan menggeleng pelan.
"Mana mungkin itu kan makanan disediakan buat staff dan pegawai! Kalo kamu udah ga kerja disini ga bakal kamu bisa tetap makan disini kan!"
Christ menepuk jidatnya kemudian memasang ekspresi sok bodoh.
"Oia yahh! Bener juga! Yahh masa bakal makan makanan mamaku yang rasanya ga enak itu lagi setiap hari!"
Christ mengacak acak rambutnya dengan sebal.
"Oia, sebentar lagi waktunya kita berkeliling memeriksa pasien ya? Wah, deg degan nih."
Aku hanya tertawa mendengar perkataannya.
"Rio..."
"Hmm..?"
Christ menatapku lekat.
"Kamu masih mikirin orang itu?"
Deg!
Sejenak dadaku berdesir dan tubuhku menegang, tapi aku segera menutupi keterkejutanku, kemudian segera menggeleng sambil memasang senyuman semanis mungkin.
"Enggak, kepikiran apa? Aku udah lupa kok..."
Christ menghela nafasnya dengan sebal.
"Jangan bohong deh! Kita udah temenan lama! Aku paling tau kalau kamu lagi ada yang dipikirin. Kenapa? Orang itu muncul lagi di pikiranmu? Sudahlah, lupakan saja, daripada itu terus membebanimu..."
Aku hanya membalas perkataannya dengan anggukan dan senyuman manis, sementara Christ kembali mendengus dengan sebal.
"Sekarang fokuskan dirimu dengan pekerjaanmu, masa lalu ya masa lalu! Ga ada yang perlu kamu pikirin. Orang yang udah pergi ga akan bisa kembali lagi..."
Christ memutar pergelangan tangan, kemudian menyingkap lengan bajunya untuk melihat jam di tangannya.
"Ah! Sudah hampir jam kita harus berkeliling! Ayo siap siap!"
Christ mengangkat stetoskop dari sakunya kemudian mengalungkannya di sekitar lehernya.
"Christ..."
"Yeah?"
Aku menatapnya dengan lekat, membuat wajahnya bersemu merah.
"Apaan sih ngeliat orang kayak gitu!"
Aku tersenyum, kemudian terkekeh pelan sambil memegangi perutku.
"Kamu lucu!"
Christ melengos, kemudian membalik tubuhnya dan bersiap berpisah denganku.
"Christ, thanks..."
"Buat apa...?"
"Karena kamu tetap mau jadi temanku..."
"Memangnya ada masalah dengan jadi temanmu?"
Aku tersenyum lembut, sambil berusaha menyamakan langkahku dengan langkahnya.
"Yeah, kamu tetap mau jadi temanku walau kamu tahu aku berbeda..."
Christ menghela nafas dengan nyaring.
"Apa apaan sih, diungkit lagi, sudah ah, jangan dibahas lagi..."
Christ mengacak acak rambutku, kemudian berjalan beriringan denganku menyusuri lorong lorong berpagar kayu bercat hitam.
"Aku di ruangan ini dulu. Kamu masih dua ruangan lagi ya? Kalau gitu kita mencar ya... Oke siap satu dua tiga... Buka pintu dann........
Ah, Selamat pagi pak, gimana kabarnya hari ini?"
Rentetan perintah muncul dari mulut Christ saat dia perlahan membuka pintu dan memasuki kamar pasien.
Aku meneruskan perjalananku, saat
seorang anak lelaki menarik perhatianku.
Anak itu.
Anak berjumper hitam kemarin?
Sekarang dia mengenakan kaos santai tanpa lengan dan celana pendek.
"Hallo..."
Aku mendekatinya dan memasang tampang ramah ke arahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Night and The Day
FantasyLove Story in Fantasy Game and Real Life! Check it out! Based on Suikoden Game! I rewrite and Edited some parts and Ending from my last story.... Its in Indonesian!
