CHAPTER 55: Crumbled Defense

43 6 1
                                        

Alvin's View

"Ahh, Alvin..?"
Kenny tampak terbelalak saat dia melihat ke arahku. Aku meliriknya sejenak, kemudian segera membenamkan kepalaku kembali ke komik yang sedaritadi aku baca.

"Pagi banget kamu datang! Biasanya kamu kalo ga telat pasti datangnya semenit sebelum lonceng!"
Dia membelalakkan matanya sambil menatap ke arahku.

Aku merasa risih, tapi tetap saja aku tidak mengacuhkannya dan kembali sibuk dengan bukuku.

Memang apanya yang aneh kalau aku datang sedikit lebih pagi?
Yahh, memang terlalu pagi sih, aku sudah sampai di sekolah tadi pukul setengah 7 pagi, sedangkan kelas baru akan dimulai pukul 8 pagi.

Alasanku datang lebih pagi adalah karena aku mendadak terbangun terlalu pagi karena mimpi buruk, kemudian aku memutuskan untuk mandi dan berangkat ke sekolah.
Jadi, alasanku untuk sekarang berada di sekolah lebih awal bisa diterima, ya kan?

Kenny meletakkan tasnya di depanku, kemudian duduk menghadap ke belakang sambil memeluk senderan kursinya.

"Ada apa kamu datang pagi banget?"
Kenny membuka sebatang cokelat kemudian menggigitnya dan menyodorkan sebuah cokelat baru padaku.

"Kamu mau...?"
Aku mendongakkan kepalaku, menatap ke arahnya yang tersenyum manis bagai tanpa dosa.

"Gak, jangan makan cokelat terus nanti gigimu bolong..."
Kenny mendengus, kemudian memanyunkan bibirnya sambil menatap sebal ke arahku.

"Gak ya! Aku kan selalu sikat gigi tiap hari! Lagipula ini kan coklat dari Kevin, jadi kan gapapa kalo dimakan..."
Aku berusaha keras mengulum tawaku, menahannya agar tidak memunculkan mimik lucu yang nanti mungkin akan merusak raut muka cool yang susah payah aku pahat diwajahku.

Mana ada kalo coklat pemberian pacar ga ngerusak gigi!
Anak satu ini kayaknya salah satu kabel di kepalanya pasti ada yang salah colok waktu di kandungan.

"Namanya coklat ya sama aja, nanti gigimu bolong..."
Dia mendengus semakin sebal, kemudian segera menarik tangannya yang tadinya menjulurkan coklat ke arahku.

"Yaudah ga usah aja!"
Huh...
Kenny kemudian menggigit lagi cokelatnya dengan sebal.

"Aw!"
Raut wajahnya berubah menjadi sangat kesakitan, dan memegangi pipi kanannya.

"Tuh kan, gigimu bolong...?"
Aku melirik ke arahnya.
Aku berusaha keras menahan tawaku
Geli rasanya!

"Enggak ya! Ini cuma coklatnya keselip di..."
Aku menaruh komikku, kemudian menatapnya.

"Di?"

"Engg.... Di..."

"Di...?"

"Di lobang gigi..."
Dia menunduk lemas, kemudian aku menatapnya dengan tatapan remeh.

"Tapi ga lubang gede! Cuma garis kok! Kata dokter juga ga perlu di tambal"

"Bohong, ayo ke dokter gigi pulang sekolah, gimana?"
Komikku kembali kuletakkan, kemudian mendelik ke arahnya.

"Gamau...."
Dia kembali menunduk lemas, membuatku harus berusaha keras menahan geli di dadaku.

"Alvin...? Eng..."
Aku melirik dari balik komikku, dia sejenak menatap ke sekeliling, kemudian dia kembali menatap ke arahku.

"Lord Arsais, tentang apa yang kita bahas malam itu..."
Aku meletakkan komikku, membuka kedua headsetku, kemudian menatapnya tajam.
Aku tahu, dia pasti akan membahas sesuatu yang penting sampai harus memanggilku begitu di dunia nyata.

"Kenny, sudah kuingatkan, jangan memanggilku begitu di dunia "Siang", karena itu namaku pada "Malam"..."
Aku menatapnya tajam, dia sejenak tampak takut, tapi dia kembali membalas tatapanku.

The Night and The DayTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang