Arsais View
"Lord Arsais, pasukan utama mereka sudah mulai mendekat."
Seorang prajurit pengintai dengan pakaian dari kulit ketat datang dan melapor ke padaku.
"Aku mengerti..."
Aku masih mengetuk-ketuk meja dengan pena buluku, keempat bishop lain juga masih duduk diam bertopang di atas meja kayu besar di hadapan kami.
"Seberapa jauh mereka dari kita?"
"2 atau 3 jam perjalanan mereka pasti akan sampai kemari. Aku yakin mereka dalam persiapan penuh menyerang kita. Petang ini mungkin perang akan segera berlangsung kalau mereka memang bersungguh sungguh."
Aku menghembuskan nafasku dengan malas.
"Apa sebenarnya yang jadi sasaran mereka? Mereka seharusnya sudah menyadari kalau keadaan tidak akan berpihak pada mereka..."
Pixel akhirnya angkat bicara dengan jenuh, sejenuh kami semua yang duduk disini. Jujur saja, harus bertempur dengan orang bodoh yang jelas jelas akan luluh lantah di hadapan kami, tetapi masih tetap maju dengan yakin adalah sesuatu yang benar benar membingungkan.
"Aku berpikir mereka akan menarik mundur pasukan mereka, tapi ternyata mereka lebih berani dari yang kita duga."
Wyatt berbicara sambil menatap ke arah sekeliling. Keempat orang lain menganggukkan kepalanya.
"Apa rencanamu Arsais? Jangan bilang kau tidak punya rencana apapun?"
Arvyn menatapku.
Bahkan Arvyn yang biasa sangat bersemangat untuk berperang pun tampak tidak ingin maju berperang.
"Memang tidak ada rencana. Apa yang kita takutkan? Habisi mereka, lalu pulang ke rumah masing masing. Isn't that nice?"
Arvyn mendengus mendengar perkataanku.
"Jujur saja, aku malas menghadapi mereka, semuanya, perang ini seperti kita menghancurkan segerombolan anak TK yang tanpa sengaja menginjak garis batas kenegaraan kita..."
Aku hanya terkekeh dingin, kemudian segera berdiri.
"Yeah, apapun hasilnya, kita harus menghargai keputusan Aronia, kita memang harus berperang, kalian persiapkan semua yang kita perlukan, kita akan bergerak maju, kita tidak akan diam di benteng. lebih cepat lebih baik."
Keempat bishop lain ikut berdiri, kemudian menatap ke arahku.
"Jujur saja, aku ada firasat buruk tentang semua ini, kalian tidak merasakannya?"
Greg yang sedari tadi hanya diam akhirnya angkat bicara, dan perkataannya segera disambut anggukan oleh ketiga bishop lainnya.
Aku hanya menyeringai.
"Aku sudah mempertimbangkan kemungkinan yang akan terjadi, dan aku yakin kalian akan mengerti apa yang harus kalian lakukan..."
Keempat bishop lain menatapku dengan pandangan bingung.
"Arsais, jangan bertindak bodoh..."
Arvyn melambaikan tangannya sambil membelakangiku, kemudian keluar dari kemah besarku.
"Yeah, aku setuju..."
Pixel menatap tajam ke arahku, sebelum kembali memasang senyuman ramahnya di bibirnya.
"Kalau begitu kami akan segera bersiap!"
Mereka semua pergi keluar dari kemahku, meninggalkanku yang duduk termenung sendiri.
Semua sudah kususun sesuai semua perkiraanku.
Hanya tinggal satu langkah yang belum, dan aku masih menunggu orang itu untuk datang.
"Aku sudah menunggumu..."
Aku menyahut tanpa menoleh, saat aku merasakan kehadiran orang lain di kemahku.
"Arsais, Alvin, Traveller of the Star, Apa yang kamu perlukan sampai kamu memanggilku kemari?"
Aku hanya tersenyum dingin, menatap ke arah sosok wanita yang perlahan berjalan dari belakangku dan duduk di depanku.
"Selamat siang, Lady Leknaat..."
Wanita itu mengangguk pelan, kemudian menatapku.
"Kamu benar benar akan menentukannya sekarang?"
Dia bertanya dengan hati hati ke arahku, aku memastikan tidak ada siapapun menguping pembicaraan kami.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Night and The Day
FantasyLove Story in Fantasy Game and Real Life! Check it out! Based on Suikoden Game! I rewrite and Edited some parts and Ending from my last story.... Its in Indonesian!
