Chapter 2.3: Reminiscence

37 7 1
                                        

Alvin's View

CLANG!

dentingan keras hasil pertemuan belati kecilku dengan busurnya menciptakan percikan api.
Aku menarik nafas dengan susah payah.

Aku mati matian mencoba menegakkan diriku.
Dia menatapku dengan datar, tapi tetap tak bergeming, dan masih bertahan di tempatnya.
Aku kembali berteriak marah, melesat maju sambil menghunus belatiku.

TRANG!

"Ukhh..."
Luka menganga di perutku terasa tertarik, dan tak lama kemudian aku mulai merasakan darah segar kembali mengalir dari perutku yang telanjang.

Perasaan perih dan lelah tak bisa memadamkan kemarahan dan kekecewaanku.
Tubuhku terasa sudah sampai pada batasnya.

Aku merasakan detakan jantungku sendiri mulai melemah.
Dengan segenap tenagaku, kembali aku menyerangnya dengan segala kekuatanku.

TRANG!
Sekali lagi dia menahan seranganku dengan sigap.
Tubuhku segera limbung, jatuh tanpa kekuatan.
Semua kekuatanku sudah habis di serangan terakhirku.
Aku tahu sudah tidak ada lagi yang bisa kulakukan.
Tubuhku terjatuh ke dalam pelukannya, dia menatapku dengan sedih.

Cih.

Muka munafik!
pandai sekali dia memasang wajah sedih setelah semua yang sudah dilakukannya pada teman temanku.
Aku menatap sekali lagi wajahnya dengan penuh amarah.

Tapi amarah yang sudah kupupuk sedemikian besar kembali melunak saat aku menatap wajahnya.

Sial.
Aku menghela nafas yang tersisa
Darah terus mengalir meninggalkan tubuhku, membuat kesadaranku semakin menghilang.
Paling tidak aku sudah melakukan hal yang benar, ya kan?

Aku sudah melindungi negara dan teman temanku.
Aku tidak lagi termakan perasaanku seperti saat bersama Marty dulu.
Disini aku sekarang, terbaring, kalah, sekarat, dihadapan musuhku, sekaligus orang yang selama ini benar benar kucintai.

Aku menatap sekeliling, ke ruangan yang hancur dimana mana, ke langit merah keemasan di luar jendela, yang melatarbelakangi pepohonan kering dan bangunan bangunan yang tampak hancur, sesekali aku bisa melihat tentara Aronia berlalu lalang di sekitar jendela, berjalan menginjak injak kejayaan Valerie yang sudah kami bangun...

Senyuman pahit yang bisa aku keluarkan sekarang, semua mimpi dan janji yang aku berikan kepada sahabat sahabatku, sekarang sudah hancur menjadi reruntuhan, tidak ada yang tersisa dari semua kedamaian yang baru kemarin terjadi di sini. Semua canda dan jerit tawa yang biasa aku dengar dari dalam ruanganku, semua yang sudah berhasil aku dapatkan, semuanya sudah berlalu, mereka sekarang mungkin sudah mati, atau berjalan dalam kebingungan diluar sana, kehilangan rumah tinggal mereka disini...

Mungkin aku terlalu naif berpikir semuanya bisa aku pertahankan.
Aku memejamkan mataku, kemudian kembali menatap wajah Yue lekat.

"Semoga kita bertemu lagi...."
Kupejamkan mataku, kuletakkan tiara merah yang akan kuhadiahkan padanya di dadaku.
Semuanya sudah selesai.
Peranku disini sudah kuselesaikan.
Aku merasakan semuanya mulai menjauh.
Sakit, bising, semua perasaan itu semakin menjauh.
================================

"A...vin..."

"Alvin..."
Aku terbangun, pakaianku sudah basah oleh peluh.

"Arvin?"
Wajah tegang Arvin segera berubah menjadi kelegaan luarbiasa saat aku membalas panggilannya.

"Mimpi buruk?"
Aku mengangguk, pakaianku terasa dingin karena basah oleh keringat dan terkena angin dingin dari AC.

"Syukurlah..."
Arvin segera beranjak dan mengambil air minum lalu memberikannya padaku.

The Night and The DayTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang