Rio's View
"Ho? Ada kejadian kayak gitu?"
Aku mengunyah roti sambil mendengarkan cerita Christ dengan seksama.
"Iya, dan kamu tau, waktu aku masuk, dua anak kembar ibu itu malah lagi pelukan sambil telanjang di atas kasur! Yaampun itu kan skandal banget!"
Christ bercerita dengan berapi api padaku, sambil menggunakan kedua tangannya untuk bercerita.
"Wah, anak kembar? Tunggu dulu, pasien yang namanya Alvin itu kembar ya?"
Christ mengangguk dengan cepat, kemudian mengambil sedikit keripik kentang dan mengunyahnya.
"Iya, memang kembar, kamu ga tau? Nanti kamu pasti ketemu!"
"Sebenarnya aku udah ketemu, tapi ga nyangka kalau mereka kembar, habis semuanya, dari tinggi badan sampai gaya rambutnya kan benar benar persis sama!"
Christ mengangguk setuju sambil menyuapkan segenggam keripik kentang lagi.
"Trus, kamu waktu itu mikirnya apa sih?"
Aku menggaruk belakang kepalaku.
"Aku kira hantu..."
Christ melotot kaget, tak lama kemudian tawanya segera menyembur dari mulutnya, beberapa keripik kentang masih ada di dalam mulutnya saat dia tertawa
"Dasar jorok! Itu keripik kentang ditelan dulu kenapa!"
Christ menutupi mulutnya dengan tangan dan segera menelan keripik kentang itu, kemudian kembali melanjutkan tawanya.
"Kamu juga konyol! Mana mungkin ada hantu tapi orangnya masih hidup! Ada ada aja!"
Dia kembali tertawa sambil menodongkan telunjuknya padaku.
"Udah ah, kan siapa tau kan, aku mana ngerti kalau dia kembar."
Aku melemparkan buku sakuku ke arahnya dengan kesal.
Sialan, masa karena hantu aku jadi ditertawakan seperti ini.
"Hei hei, kalian masih aja ngobrol disini, ini sudah jam jaga! Cepat keliling sana!"
Seorang pria dengan jas putih dan kacamata bulat menepuk pundakku dan Christ sambil mendengus kesal, membuat kumisnya yang tampak seperti Hitler berkedut perlahan.
"Ah, iya pak! Maafkan kami! Kami akan segera pergi sekarang!"
Christ meraup seluruh keripik kentang yang tersisa dari dalam bungkusan kemudian segera menyuap dan mengunyahnya dengan terburu buru.
"Cuci dulu tanganmu, Richard, nanti pasien malah sakit! Kamu teledor sekali!"
Pria tua itu berseru dengan kesal melihat kelakuan Richard.
Aku segera mengalungkan stetoskop dan mengambil tas kerjaku, tanpa menunggu waktu aku segera berjalan keluar dari ruangan.
"Hei, Jyo! tunggu aku!"
Aku mendengus dengan sebal ke arahnya.
"Jangan panggil nama kecilku disini!"
Christ menggaruk kepalanya sambil meringis pelan, kemudian segera mengatupkan kedua tangannya.
"Maaf maaf, ga sengaja!"
Aku mendengus sebal. Kami segera pergi keluar dari ruang staff dan memulai tugas kami.
"Oke, sampai jumpa jam 6 nanti..."
Aku melambaikan tanganku pada Christ, karena kami akan berpisah lorong setelah belokan ini.
Sedikit demi sedikit aku mulai terbiasa dengan kegiatanku memeriksa pasien sebagai kegiatan rutinku setiap hari.
Aku sekarang bisa memeriksa dan melakukan semuanya tanpa canggung, dan akhirnya dapat selesai lebih cepat dari yang aku kira.
Hanya tinggal satu kamar, yaitu kamar Alvin yang tadi barusan membuatku harus ditertawakan oleh Christ seharian karena mengiranya hantu.
Langkahku perlahan membawaku ke lorong tempat kamarnya berada. Memang lumayan jauh dari kamar lain karena kamarnya teletak di lorong yang berseberangan bangsal daripada kamar lainnya.
Aku hampir mencapai kamarnya, saat kelima teman Alvin, yang aku ingat salah satunya bernama Kevin dan Yuuji, dan salah satunya adalah kembaran Alvin berbicara berbisik bisik di depan kamar kami.
Walaupun sudah berhati hati, tampaknya obrolan mereka terdengar juga di telingaku.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Night and The Day
FantasyLove Story in Fantasy Game and Real Life! Check it out! Based on Suikoden Game! I rewrite and Edited some parts and Ending from my last story.... Its in Indonesian!
