Rex's View
"Team 1 Siap."
Gregg menyarungkan pedangnya, dan menganggukkan kepalanya. Wyatt tampak berbicara dengan penuh semangat pada Anabelle yang hanya menatapnya dengan jengah. Dibelakang mereka sepasukan besar tentara sudah berbaris rapi.
"Team 2 Siap..."
Ujar Pixel seraya menyunggingkan senyuman lebar. Rover tampak berdiri di belakangku, samar samar aku mendengar dia masih memberikan komando komando kecil pada para bebek dan kadal di depannya.
"Team 3 Siap..."
DUAR!
Arvyn baru saja memberikan laporannya, saat dia harus melonjak kaget karena Clive, komandan pasukannya mendadak menembakkan senapannya.
"Kenapa? Maaf ada yang ribut tadi saat aku menjelaskan, jadi aku tegur dia, lanjutkan lanjutkan.."
Ujar Clive sambil membopong senapannya yang masih mengeluarkan asap, sementara di belakangnya seorang Karayans muda tampak terkapar tak berdaya dengan tubuh separuh gosong. Tampaknya Clive menembakkan peluru peledak padanya.
Luarbiasa.
Perang belum dimulai, dan sekarang kami sudah kehilangan satu tentara.
Aku harus mempertimbangkan kenaikan pangkatnya sebagai jendral kalau terus begini. Walaupun dengan keahliannya yang luarbiasa, tapi kalau terus begini, semua pasukan kami bisa mati karena melawan perintahnya.
"Team utama juga sudah siap, Lady Kanna akan bersama dengan pasukan Arsais dan Pixel, Mereka akan bergabung dengan Axel di Almekia untuk menyerang Armenia."
Aku menjelaskan pada mereka apa yang harus mereka lakukan. Arsais mengangguk paham.
"Kalau begitu kami akan berangkat sekarang, kemungkinan kita akan memerlukan waktu untuk melakukan merger dengan pasukan di Almekia."
Aku menganggukkan kepalaku, dan mereka segera berlalu pergi.
"Team satu akan bersamaku, dan segera berbelok menuju Southgard setelah mencapai Central, kalian harus memutar melewati Balroq Plains, agar pergerakan kalian tidak diketahui musuh."
"Team 3, kalian boleh tetap disini, menunggu sampai kami berangkat, karena kalian akan bermarkas disini saat menyerang Palatian..."
Arvyn mengangguk, aku membalas anggukannya, kemudian berbalik menatap Yue.
"Okay, kita juga sudah siap berangkat sekarang."
Yue tampak tidak mendengarkan perkataanku, dia menoleh kekiri dan kekanan, mencari cari sesuatu.
"Cardinal, apa yang anda cari...?"
"Aku tidak melihat Keith..."
"Keith...?"
"Ya, Keith, Kemana dia...?"
"............."
Aku terdiam, bingung harus menjawabnya dengan apa, dia tampak begitu kebingungan dan mencari Keith kesana kemari.
"Lord Keith berkata dia ada yang harus dilakukan, jadi tidak bisa online untuk beberapa hari kedepan, apa ada hal penting yang dilupakannya?"
Clive tiba tiba seakan mengerti keadaanku maju berbicara menggantikanku untuk memenuhi janjiku menyembunyikan kepergiannya dari Yue.
"Tidak, tidak ada..."
Yue melirik ke arahku dengan pandangan datar, kemudian tersenyum pada Clive yang membalasnya dengan senyuman yang terlalu manis untuk seorang laki laki.
"....Terimakasih..."
Ujar Yue lagi sambil melirik kembali ke arahku.
"Oke, kalau begitu saya permisi..."
Clive membungkuk dengan sopan, kemudian segera membalik tubuhnya dan pergi meninggalkan kami.
Aku menghela nafasku, jujur, jantungku sempat melompat saat aku harus menjawab pertanyaannya, tapi untung saja Clive berhasil mencari alasan yang bagus, walau aku sendiri ragu kalau Yue menerima alasan itu.
"Kita berangkat sekarang, pasukan, segera bersiap, berbaris di depan gerbang!"
Yue memberikan perintah pada pasukan kami, yang segera mengabur, menyusun ulang dirinya di ujung gerbang Valerie.
Aku mengikat ulang penutup kepalaku sambil memperhatikan pasukan yang berlalu lalang menyusun dirinya dalam sebuah formasi rapat.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Night and The Day
FantasyLove Story in Fantasy Game and Real Life! Check it out! Based on Suikoden Game! I rewrite and Edited some parts and Ending from my last story.... Its in Indonesian!
