Sasmita merasa dadanya berbunga-bunga, rasanya Satya seperti kembali padanya seperti dulu selama beberapa hari ini. Dia tak menaruh kecurigaan apapun, hatinya buta akan cinta. Sulitnya mendekati Satya lagi karena kehadiran Yumna, akhirnya dia bisa merasakan kebebasan.
'Aku tau, Satya akan bosan lihat wajah cewek itu. Si kampung itu kan emang bosenin,' batinnya bahagia.
Satya sibuk mengunyah soto. Sasmita awalnya protes karena dia inginnya makan di restoran, tetapi Satya bilang dia sedang ingin makan soto dan jika Sasmita tidak mau dia tidak masalah pergi sendiri. Mendengar itu, Sasmita kelabakan dan menurutinya asal dia bisa bersama Satya.
Laki-laki itu menggulir layar ponsel dengan senyum tipis di tengah kunyahan. Membaca pesan Yumna yang begitu manis memberinya perhatian. Dan menanyakan sesuatu tentang Sasmita. Satya melirik perlahan pada Sasmita yang masih makan.
"Satya, kita ke pantai yuk weekend ini. Udah lama tau kita gak jalan bareng."
"Weekend? Aku gak bisa. Yumna libur, dia akan memantau kemana aku pergi."
"Kenapa sih dia tuh? Parasit banget."
Satya membenarkan letak arlojinya. "Kanjeng Romo dan Ibu selalu memantau aku lewat Yumna."
"Yaudah, kita ke pantainya abis kamu kerja aja ya. Please!! Aku tuh butuh tempat tenang buat deeptalk sama kamu, Satya."
"Boleh. Apa yang gak boleh buat kamu."
"Ah.. thankyou..."
Sasmita tersenyum lebar, menggenggam erat tangan besar Satya di atas meja. Rasanya seperti mimpi bisa menarik Satya ke genggaman lagi.
"Apa yang Yumna lakuin ke kamu?" Ucapan Satya memancing letupan emosi Sasmita. Dia memasang ekspresi seolah sangat menderita.
"Yumna? Banyak. Tapi aku gak bisa ngadu ke kamu, Satya. Dia selalu berlagak polos di depanmu dan merasa lemah. Padahal dia itu sering ngancam aku, ngomong yang aneh-aneh. Masa dia ngajak taruhan, kalau sampai dia bisa bikin kamu jatuh cinta dalam waktu sebulan, aku harus menghilang. Dan kalau dia gak bisa, dia bakal ceraiin kamu saat itu juga. Rada geser emang otaknya. Istri mana coba yang berani nantangin begitu?"
Satya diam mendengarkan tanpa ekspresi. Tangannya kemudian terulur memberikan irisan telur rebus dan daging ke mangkok Sasmita. "Terus?"
"Dia lihat aku seolah aku ini pelakor yang harus dibasmi. Padahal.. padahal dia kan orang ketiganya di antara kita. Dia sok jadi segalanya setelah jadi bagian keluarga Bagaskara. Dan semakin berani nindas aku. Mamiku itu janda, kami selalu kena fitnah dan gak bisa ngelawan karna gak punya darah asli keluarga bangsawan keraton. Tapi aku gak berhak dapat perlakuan kayak gini kan Satya? Kamu lebih tau aku dibanding siapapun."
Laki-laki itu memajukan sedikit tubuhnya. Mendaratkan usapan di bahu Sasmita dengan senyum simpul menenangkan. Sasmita merasakan Satya bersimpati penuh padanya. Mungkin sebentar lagi Yumna benar-benar akan enyah dari hadapannya.
'Parasit itu harus dibasmi kan? Haha!' Sasmita tersenyum penuh kemenangan.
***
Suasana di kediaman Satya dan Yumna disibukkan oleh persiapan menuju sebuah agenda yang sudah dijanjikan minggu lalu, menonton pertunjukan teater tradisional bersama.
Satya sudah berdiri rapi di dekat mobilnya. Dia mengenakan setelan formal kemeja batik cokelat lengan panjang dengan motif klasik yang pas di tubuh atletisnya. Dipadu celana bahan gelap, serta kacamata bening yang semakin mempertegas garis wajah dan aura dingin berwibawanya.
Tak lama kemudian, pintu rumah terbuka. Satya menoleh, dan untuk sedetik, gerakan membenarkan kancing di pergelangan tangan pun terhenti. Yumna berjalan terburu-buru menghampirinya, mengenakan kebaya bernuansa kecoklatan yang anggun dengan paduan rok senada. Mengingat peringatan keras Satya agar tidak ngaret, Yumna sengaja memilih sepatu heels setinggi 5 cm yang agak pendek agar ia bisa bergerak cepat.
KAMU SEDANG MEMBACA
SHORT STORIES || YoonHun
FanficBukan oneshoot, satu judul bisa berisi beberapa chapter, genre suka-suka yang nulis ^^ » Baku » Semi baku Baca aja, barangkali suka :))
